Tag Archives: FILSAFAT

Berkelana (Bagian 2)

4 Mei

KERETA MASIH SEPI SEBELUM PEDAGANG ASONGAN MENJAJAKAN DAGANGANNYA

KERETA MASIH SEPI SEBELUM PEDAGANG ASONGAN MENJAJAKAN DAGANGANNYA

Sebelum menceritakan kejadian yang dialami semakin jauh. Mari kembali ke dalam situasi dan kondisi di kereta. Di dalam kereta, banyak sekali kejadian menarik, mulai dari perjalanan sepanjang kurang lebih 300 kilometer. Sejak dari Kuningan, Cirebon, Indramayu, Subang, Karawang, Bekasi dan tentunya Jakarta sebagai tujuan awal pengembaraan.

Di kereta banyak perilaku lucu, unik, sekaligus menyebalkan. Kadang, kita merasa tidak nyaman ketika ada pedagang hilir mudik menawarkan rupa-rupa jajanan.

SEORANG DARA YANG MENGAKU DARI KUTOARJO, IA PUN BARU KE JAKARTA UNTUK MENGADU NASIB

SEORANG DARA YANG MENGAKU DARI KUTOARJO, IA PUN BARU KE JAKARTA UNTUK MENGADU NASIB

Keterusikan dari rasa nyaman salah satu faktor utama. Apalagi jika mendapatkan pedagang yang memasakan dagangannya supaya dibeli. Tentu saja timbul kekecewaan, kemarahan dan ketidaksenangan.

KETIMBANG BELI JAJANAN DARI LUAR, LEBIH BAIK BAWA SENDIRI DARI RUMAH. LEBIH AMAN!

KETIMBANG BELI JAJANAN DARI LUAR, LEBIH BAIK BAWA SENDIRI DARI RUMAH. LEBIH AMAN!

Namun, apakah betul kita merasa terganggu? Jawaban sangat beragam dan kita sulit memilahnya menjadi argumen tepat. Persoalannya terletak pada ego masing-masing di saat menghadapi situasi dan kondisi seperti itu. Seperti Adik, mengatakan “tidak” pada pedagang sambil tertawa. Ia jelas belum mengetahui duduk perkaranya. Apakah termasuk kecewa, marah atau sebaliknya merasa senang.

Baca lebih lanjut

Iklan