Arsip | SONO KA LEMBUR RSS feed for this section

Berkelana (Bagian 1)

29 Apr

MENUNGGU KERETA JURUSAN JAKARTA DI STASIUN CIREBON

MENUNGGU KERETA JURUSAN JAKARTA DI STASIUN CIREBON

Perasaan mumet kerap menyerang setiap orang dan tidak terkecuali. Untuk menghilangkan perasaan itu setiap orang berbeda-beda cara yang dilakukan. Ada yang memancing, belanja ke mall, nongkrong atau kongkow-kongkow dengan kawan. Tidak sedikit pergi ke tempat wisata baik di daerah, kota-kota besar maupun ke luar negeri tentu bagi orang bermateri.

Sementara “warta desa” menghilangkan perasaan itu berjalan-jalan dengan cara naik kereta. Dari Kuningan, menggunakan elf ke stasiun Cirebon. Nah ketika sampai di sana, kereta baru saja pergi. Akhirnya harus menunggu dari pukul 9.00-12.00 wib. Cukup melelahkan. Supaya tidak jenuh menunggu, akhirnya menghitung berapa kereta lewat dari arah Jakarta maupun Jawa.

NAIK KERETA JURUSAN JAKARTA, IKUT MEJENG

NAIK KERETA JURUSAN JAKARTA, IKUT MEJENG

Tidak lupa segelas kopi dan minuman si kecil atau biasa disebut softdrink. Nah si kecil ini sengaja diajak jalan-jalan, dalam bahasa kerennya “mencoba mengenalkan penderitaan”. O, ya kenalkan si kecil ini namanya Lintang atau biasa disapa “adik” usianya masih tiga tahun. Namun sudah sering ke tempat wisata seperti Borobudur Jogja, Guci Tegal, Bandung dan Jakarta.

LETIH, MENGANTUK, PENGEN BOBO TAPI KASUR TIDAK ADA

LETIH, MENGANTUK, PENGEN BOBO TAPI KASUR TIDAK ADA

MELELAHKAN, TIDUR DULU AH BIAR SEGER SAMPAI JAKARTA

MELELAHKAN, TIDUR DULU AH BIAR SEGER SAMPAI JAKARTA

Entah seusia dia masih ingat tempat-tempatnya atau tidak. Yang jelas, mudah-mudahan besar nanti akan ingat bahwa dirinya sering berkelana. Kembali lagi ke cerita awal, di stasiun, kereta jurusan Jawa sudah ada enam kali yang masuk. Sedangkan dari Jawa belum ada. Tapi tidak disebutkan nama-namanya, takut dibilang promosi nanti pihak PJKA tersinggung.

Suhu di Cirebon lebih panas dibandingkan di Kuningan yang rata-rata bersuhu dingin. Keringat terus membanjiri tubuh, hal itu jarang didapatkan di daerah sendiri. Meski kaos yang digunakan sudah habis digunakan mengelap keringat, kereta belum juga tiba (maaf seperti sebuah lagu). Di speaker, tiba-tiba menyebutkan kereta dari Jawa akan masuk sekitar pukul 11.45 wib. Adik pun kembali tertawa setelah mengeluh kereta tidak segera tiba.

SAMPAI JUGA DI SENEN, MEJENG DULU AH DI PATUNG PRAMUKA

SAMPAI JUGA DI SENEN, MEJENG DULU AH DI PATUNG PRAMUKA

Pas jam 12.00 wib, kereta datang. Adik pun bersorak dan segera naik. Tapi ya ampun …. tempat duduk tidak ada yang kosong. Mencari-cari kursi kosong di tujuh gerbong bukan pekerjaan mudah. Apalagi harus berdesakan dengan penumpang yang hilir mudik, dan pedagang berseliweran. Tepat di gerbong ke enam, ada tempat kosong namun seorang bapak yang terlebih dahulu mendudukinya tidak memberikan tempat. Adik pun menggerutu dan hampir menangis, akhirnya diam lah di bordes.

Setelah pemeriksaan karcis, adik pun bisa duduk di samping bapak tadi atas permintaan petugas PJKA (baik kan dia). Setelah duduk nyaman, ia pun berbisik, “lapar”. O iya lupa, jalan-jalan niatnya ke Jakarta dilangsungkan ke Bandung dan pulang lagi ke Kuningan. Lamanya diperkirakan empat hari. Meski tidak ada yang dituju tapi siapa tahu ada temen-temen juga keluarga yang tersisa masih ada.

Tapi memang tidak merencanakan untuk bertemua keluarga atau teman. Ini murni jalan-jalan tanpa tujuan pasti. Sesampainya di stasiun Senen, sekitar pukul 16.15. Adik pun melihat-lihat gedung menjulang sebagai identitas kota metropolitan sekaligus keangkuhan ibu kota negara Indonesia. Dari Senen jalan berkeliling-keliling ke lapangan banteng dan sampai ke Monas. Kebetulan tiketnya tidak sampai ke stasiun gambir jadi ya terpaksa turun di Senen.(bersambung)

Iklan

SIAPA MAO IKUTAN PAMERAN FOTO?

27 Jun

PAMERAN FOTO “KUNINGAN DARI MASA KE MASA”

KUNINGAN INSTITUTKUNINGAN INSTITUT (KOMUNITAS DISKUSI MASYARAKAT KUNINGAN) MERENCANAKAN PAMERAN FOTO YANG OBJEK FOTONYA KHUSUS DI WILAYAH KABUPATEN KUNINGAN. PAMERAN INI, TUJUANNYA MEMBERIKAN MAKNA TERHADAP HARI JADI KUNINGAN KE 510, TEPATNYA 1 SEPTEMBER 2008.

“SALAH SATU BENTUK KESENIAN YANG BELUM BERKEMBANG IALAH SENI FOTO ATAU FOTOGRAFER. PADAHAL SENI FOTO DI KABUPATEN KUNINGAN TELAH BERKEMBANG SEJAK 1900-AN DAMPAK DARI GLOBALISASI TEKNOLOGI YANG DIBAWA OLEH BELANDA KE KUNINGAN. NAMUN BELUM ADANYA RUANG EKSPRESI SEHINGGA KEBERADAANNYA BELUM SEPENUHNYA TERAKOMODIR SEBAGAI BAGIAN DARI KESENIAN,” UNGKAP WAWAN HERMAWAN Jr, KETUA PANITIA.

SAMBUNGNYA, “FOTO HANYA DIJADIKAN DOKUMEN PRIBADI DAN DIPERUNTUKAN MEMENUHI KEPENTINGAN PRIBADI PULA. JARANG SEKALI DIMANFAATKAN SEBAGAI MEDIA EKSPRESI BERKESENIAN. PADA AKHIRNYA, FOTO HANYA DIMANFAATKAN PADA SEBUAH ACARA-ACARA TERTENTU UNTUK MEMBERIKAN TANDA SUATU PERJALANAN PRIBADI.”

SUPAYA PARA FOTOGRAPER, KATA WAWAN, YANG ADA DI KABUPATEN KUNINGAN DAPAT TERSALURKAN HOBBY-NYA MAKA DIPANDANG PERLU ADA SEBUAH RUANG EKSPRESI MELALUI PAMERAN FOTO. PAMERAN FOTO INI TENTUNYA TIDAK SEMUA DAPAT MENGAKOMODIR PENGGEMAR FOTO.

BOY SANDI KARTANAGARA, SEKRETARIS PANITIA MENYEBUTKAN KRITERIA YANG AKAN IKUT DALAM PAMERAN DIANTARANYA :

A. KRITERIA PAMERAN FOTO

PAMERAN KARYA FOTO UNTUK SEMENTARA MEMILIKI KRITERIA LINGKUNGAN YANG DILAKUKAN SECARA PERIODE :

1. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 1940

2. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 1950

3. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 1960

4. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 1970

5. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 1980

6. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 1990, DAN

7. FOTO KABUPATEN KUNINGAN PERIODE 2000

B. PESERTA PAMERAN

1. PESERTA PAMERAN FOTO MASYARAKAT KABUPATEN KUNINGAN YANG MEMILIKI KOLEKSI FOTO DAN BERKAITAN DENGAN PERIODE KARYA FOTOGRAFI

2. FOTOGRAPER PROFESIONAL DAN AMATIR

3. WARTAWAN

4. SENIMAN

5. KOMUNITAS PENCINTA KARYA FOTO

C. SEKRETARIAT

1. KANTOR PWI JALAN ARYA KAMUNING (TAMAN KOTA KABUPATEN KUNINGAN)

2. RE. MARTADINATA NO. 10 KUNINGAN PHONE (0232) 874779 DAN JL. RAHWANA NO. 104 PURI ASRI KUNINGAN PHONE (0232) 879556

D. TEMPAT PENDAFTARAN

1. KANTOR PWI KABUPATEN KUNINGAN

2. TOP POTO STUDIO JL. VETERAN KUNINGAN

3. HUMAS SETDA KAB. KUNINGAN

4. TABLOID FOKUS JALAN OTISTA KUNINGAN

5. KONTAK PERSON :

5.1. WAWAN HERMAWAN Jr. (HP. 0818218309)

5.2. N.DING MASKU (HP. 081395883621)

E. RENCANA PELAKSANAAN

PAMERAN FOTO INI DILAKSANAKAN SELAMA (3) TIGA HARI

HARI : SABTU S.D SENIN

TANGGAL : 30 AGUSTUS S.D. 1 SEPTEMBER 2008

TEMPAT : OUTDOOR, PENDAPA KOMPLEK STA-DION MASHUD

WISNUSAPUTRA KABU-PATEN KUNINGAN

Perantau Asal Kuningan Sebagian Sudah Pulang

9 Okt

parapemudik.jpg

Sepekan menjelang idul fitri 1426 H, masyarakat perantau asal Kabupaten Kuningan yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mulai pulang kampung atau mudik. Kepulangan para perantau saat ini belum seluruhnya, baru segmen pedagang mie rebus dan bubur kacang ijo (miburjo). Sedangkan para karyawan di perusahaan swasta dan para PNS, diperkirakan H-3 atau H-2.

Jumlah kendaraan yang mengangkut para pedagang Miburjo dari Jabodetabek, kurang lebih 30 bus atau sekitar 1500 orang. Menurut informasi dari pemudik, masih ada beberapa bus lagi yang mengangkut para pedagang. Namun kedatangannya belum dapat diperkirakan pukul berapa. Pasalnya, kemungkinan akan terjebak kemacetan di jalan Pantura, sekitar daerah Sukamandi Kab. Subang dan Kab. Indramayu.

Para pedagang yang mudik dengan menggunakan jasa salah satu perusahaan makanan instan tidak dikenakan ongkos. Mereka memeroleh layanan cuma-cuma. “Kami tidak dipungut ongkos, katanya sih, pihak perusahaan berterima kasih kepada parapedagang Miburjo. Sebab barang-barang mereka laku dipasaran, mungkin sedikitnya andil pedang kecil seperti kami ini,” ungkap Cartam (50) warga Kecamatan Ciawigebang.

Selain memeroleh tumpangan gratis, kata Cartam, juga diberikan bingkisan beberapa dus atau pak mie instan. Katanya untuk oleh-oleh sanak saudara di Kampung. Dirinya pun membawa sekotak dus mie instan. Adanya layanan gratis dari pengusaha mie, para pedangan Miburjo merasa tertolong. Apalagi kondisi ekonomi di kota-kota besar pun tengah lesu.

Berdasarkan pantauan, arus mudik dari Jakarta dan sekitarnya yang masuk ke Kabupaten Kuningan belum sampai puncaknya. Kemungkinan akan terus bertambah sampai H-1. Hanya kepulangannya, tidak sepenuhnya menggunakan bus perusahaan atau bus umum. Diperkirakan akan menggunakan kendaraan pribadi baik roda empat mapun dua. Hal ini tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kedatangan para pemudik, membuat jalan raya Cilowa, Kurucuk dan Padamenak mendadak macet total. Apalagi angkutan pedesaan (Angdes) dan ojeg yang siap menghantarkan mereka ke kampung halamannya masing-masing bertindak seenaknya. Seperti memarkir kendaraannya di marka jalan dan langsung menghadang para pemudik. Begitu pun tukang ojeg yang berebut ongkos.***

SOLILOQUI

1 Sep

aby-1.jpg

Geus lila kuring ngumbara. Aya kana dua puluh tauna. Waktu nu sakitu lilana teh, baheula mah teu inget-inget acan ke lembur. Ceuk paribasa boro-boro hayang inget. Dalah hayang mulang oge teu dibere rasa. Ka lembur, enya lembur matuh banjar karang pamidangan. Tempat kuring diborojolkeun. Tempat kuring meunang hayang kolot.

Tapi salila, waktu harita mah ka lembur teh ceceb pisan. baheula mah caraneom, kawas euweuh kahirupan. komo gedong sigrong atawa patalimarga rame kawas di kota-kota gede. Dalah yang mandi oge kudu ka pancuran atawa tampian. Asana teh cicing di pedalaman. Kawas di Kalimantan atawa Irian Jaya.

Lila-lila, jeung kuring beuki gede. Kasono eta ujug-ujug hayang mulang. Hayang ngarasaan deui cai walungan atawa ulin di sawah kos baheula bari ngangon munding. ti harita mah kuring mulang ka lembur. Nya ka Kuningan. Salila dua puluh taun teh kuring cicing di Jakarta.

Geus cicing di Kuningan rada lila geuning, karasa betah di lembur teh. Komo deui patalimarga geus gampang. Katurug-turug, boga pamajikan urang Kuningan. Atuh asa teu bisa majah kumaha. Nu samemehna hewa tur ceceb ka lembur teh jadi resep. Jeung asa moal incah balilahan deui.

Eta pangalaman kuring……. bilih aya nu hoyong mairan mangga diantos ……..