Arsip | NOSTALGIA RSS feed for this section

H. Yusuf Sukardi Berpulang ke Rahmatullah

27 Mar

PANINENGAN H YUSUF SUKARDI DAN H MASHUD WISNUSAPUTRA

PANINENGAN H YUSUF SUKARDI DAN H MASHUD WISNUSAPUTRA

Di pagi yang cerah, masyarakat Kab Kuningan dikejutkan kabar meninggalnya H Yusuf Sukardi, SE, MM., putra mendiang H Mashud Wisnusaputra (almarhum) juga tokoh pembangunan Jawa Barat. Betapa tidak terkejut sebab Kamis, kemarin (26/3) ia masih melakukan kampanye sebagai calon legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Golkar daerah pemilihan (Dapil) X Jawa Barat, Kab Kuningan, Kota Banjar dan Ciamis, Jum’at (27/3).

Baca lebih lanjut

Iklan

Air Mata Masa Tua

13 Des

Sahabat sekaligus kaka. biasanya saya menyebut Abang. ia dibesarkan di metropolitan sebelum reformasi, sebelum adanya malari dan bahkan jauh sebelum Gestapu. singkat cerita, si abang memeroleh jodoh orang Kabupaten Kuningan dan di karuniai empat orang perempuan yang cantik-cantik.

saat anak-anaknya mulai besar dan mengerti bahasa lisan, tulisan dan terutama bahasa tubuh. tumbuh kekhawatiran di dalam dirinya. sebab, pertumbuhan dan perkembangan budaya, sosial, ekonomi dan perilaku atawa behavioralnya sangat pesat. ia takut, anak-anaknya di usia dini terjebak perilaku kurang baik di mata masyarakat, norma agama, hukum dan seterusnya.

ia sekeluarga akhirnya menetap di Kuningan. belajar usaha dari titik nol. dari usahanya itu dia mampu menyekolahkan anak sampai sekolah menengah atas. bahkan sampai ke perguruan tinggi. anggaplah si Abang ini berhasil membangun keluarga harmonis.

saat keharmonisannya terbangun, kejadian tak terelakan pun tiba. sang istri tercinta dipanggil yang maha kuasa karena kangker payudara. rela atau tidak rela, Abang melepas istrinya ke liang lahat tanpa air mata, tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.

namun setelah penguburan istrinya, setitik air mata menetes di pipinya. sekian tahun dengan sabar meladeni dirinya mulai dari menyiapkan pakaian, makanan dan membereskan setumpuk kelipingan koran yang kerap di bacanya setiap pagi. Abang terjerat pilu tiba-tiba.

**

Kini sepuluh tahun setelah ditinggalkan istrinya, abang ng-sms (short masages service)

– delvery send :”the live at home the old … aku lagi dengarkan lagu jazz itu. hampir sama dengan tiga puluh tahun lalu dalam lagu itu ada kepedihan, kebahagiaan, ada satire juga pemberontakan,”

– sent : “tapi tidak menyesali masa tua kan, bang?”

– delivery send :”tidak. justru aku sedang mencari titik temu antara masa lalu dan sekarang… oh my dream for the old and live at home…. aku tertawa sambil menahan air mata yang hendak jatuh ….”

 

Dalam sepi aku turut menitikan air mata, jika aku tua nanti mungkinkan tidak sama dengan si Abang? ah………….

 

Walimatul Aurrusy

3 Nov

neng-ida-nengsih-deni-fitriana.jpg

Keterangan Gambar :

Pemimpin Umum Warta Desa edisi cetak, Ono Darsono, S.Sos., beserta istri tengah merayakan resefsi pernikahan putrinya Neng Ida Nengsih dengan pria idamannya Deni Fitriana yang dilaksanakan Rabu, 1 Nopember 2007. Pernikahan ini mudah-mudahan dapat memberikan baroqah kepada kedua mempelai menjadi pasangan suami istri yang mawadah warohmah, amien.***

Lebaran di Kuningan Sepi

12 Okt

belanja.jpg

Keterangan gambar :

Salah satu toko pakaian yang ada di jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan tampak sepi pembeli. Padahal perayaan idul fitri 1 Syawal 1428 H tinggal dua hari lagi. Sepinya pembeli disebabkan beberapa faktor yakni perekonomian masyarakat belum pulih paska krisis ekonomi 1998. Lambatnya penanganan ekonomi oleh pemerintah sangat terasa sekali dampaknya. Sehingga masyarakat seolah-olah tidak beranjak dari kemiskinan yang sekamin hari kian parah.

===============================================================

Dampak Kebijakan Kota Besar

Sehari menjelang idul fitri 1 Syawal 1428 H, para pedagang pakaian khususnya di Jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan belum diserbu pengunjung. Padahal tahun sebelumnya 2-H, toko pakaian kewalahan melayani pembeli. Kadang stok barang sampai habis sehingga harus melakukan order ulang guna memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya terhadap pakaian.

Sepinya pembeli menurut beberapa sumber menungkapkan bahwa idul fitri kali ini masyarakat tengah dihadapkan pada tingkat ekonomi makro yang terus menurun. Lahan pekerjaan seperti di kota-kota besar terganggu dengan adanya operasi pedangan kaki 5 yang dilakukan oleh Satpol PP (trantrib).

Contoh kecilnya Jakarta, selama 2007 kerap melakukan pembongkaran terhadap pedang kaki lima. Juga melakukan operasi terhadap warung penganan yang buka pada siang hari saat bulan puasa. Tindakan yang dilakukan Satpol PP di kota-kota besar yang mengatasnamakan peraturan daerah (Perda) maupun kebijakan yang digariskan oleh gubernur Jakarta. Maupun kota-kota besar di Jakarta.

Pembongkaran atau operasi ilegal secara hukum namun tidak manusia secara manusia berdampak pula terhadap ekonomi masyarakat daerah yang merantau. Para perantau, mengais rejeki di kota-kota besar terbatas pada sektor informal. Sehingga keberadaannya kerap dianggap mengganggu ketertiban. Contoh sederhana para perantau asal Kabupaten Kuningan.

Mereka rata-rata menjadi pedagang, mie rebus, bubur kacang ijo, rokok gendong atau mangkal di halte-halte. Selain itu ada penjual nasi goreng, air dan pekerja kasar lainnya seperti tukang gali pipa PDAM, kabel PLN dan Telkom. Ada pula tukang menurunkan pasir dari truk. Para pedagang ini mengharapkan selama penjualan di bulan ramadhan mampu meraup keuntungan.

Namun harapan itu gagal total, sebab pada siang hari dilakukan rajia oleh elemen masyarakat yang mengatasnamakan agama maupun aparatur pemerintah. Hasilnya, mereka lebih memilih menutup warungnya. Ujung-ujungnya, penghasilan mereka berkurang sebab hanya menjual pada malam hari. Penjualan malam hari tentunya tidak seramai siang hari.

Dampak dari sistem yang mengambinghitamkan parapedagang sektor informal dirasakan oleh masyarakat daerah. Diantaranya, penghasilan mereka yang diperuntukan membiayai keluarga dari sandang, pangan dan papan khususnya saat idul fitri menjadi berkurang. Tidak sedikit, masyarakat perantau di idul fitri sekarang tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga.***

Pulang, Nak……..

5 Okt

Setiap menjelang idul fitri,  (dulu ketika masih di Jakarta) selalu ada perasaan ingin pulang ke Kuningan. Ingin merasakan suasana idul fitri yang lebih khusuk setelah menjalani ibadah puasa di Metropolitan. Sebab berpuasa di kota sesibuk itu, kadang kita dihadapkan pelbagai komunitas. Sehingga pengujiannya terasa lebih berat.

Jika berlebaran di kampung halaman, dalam khayalan. Ada kenikmatan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada ketulusan batiniah yang mengalir secara deras, baik di pelataran tetangga, handai taulan, kakak, adik, sepupu maupun orang tua. Seolah-olah ada sebuah pelita yang terus menyala.

Mengingatkan kemasalampauan diri, juga kemasadepanan yang lebih terang. Mungkin itu bisa disebutkan energi baru untuk lebih kokoh di Metropolitan yang serba tidak terduga tapi terencana.

Ketika telapak tangan saling bersentuhan, ada titik air mata, ada suara terbata dan parau. Ada ketulusan yang mengalir, dalam doa-doanya. Ada energi pendorong untuk kian merekatkan kekentalan persaudaraan yang sekian tahun melemah di terjang tradisi Metropolitan.

Hampir dua puluh tahun, tidak merasakan perasaan seperti itu. Ada perasaan yang hilang tiba-tiba kembali dengan roh berbeda. Rasa persaudaraan ingin saling membantu dan berbagi pengalaman untuk meretas masa depan lebih baik. Suara hati, untuk tetap diam di desa dan tidak kembali ke Metropolitan terus mendenging di kepala.

“Pulang, nak…” pinta ibu kala itu. Tapi selalu dijawab nanti dan nanti. Setelah Metropolitan tidak ramah lagi Tahun 1992-1993 dan 1986. Apalagi menjelang reformasi 1997-1998 keramahan Metropolitan semakin lenyap. Tidak bisa diajak berdamai, justru semakin mengobarkan perasaan takut dan ngeri. Akhirnya Perintah ibu pun dituruti, pulang kampung. Kembali menjadi orang dusun.***

 

Bisakah Pulang ke Desa?

30 Sep

saya kini tinggal di desa, mungkin ada enam atau tujuh tahun lamanya. tiba-tiba ada rasa kangen untuk kembali ke kota (jakarta) sebab di sana banyak sekali kenangan yang terukir di sana. banyak teman saya yang menjadi warga tetap jakarta, emoh pulang ke kampung halamannya lagi. dengan alasan karena pekerjaan dan anak istri.

yang menarik dalam hal ini adalah kenangan terjebak dalam kemacetan kendaraan di jalanan. di desa memang tidak ada istilah jalanan macet, lancar terus. saat di jalanan macet, saya punya kesenangan yaitu melamun. saat itu, andaikan saya di desa tentunya tidak harus berdiri berjam-jam di dalam mobil sambil menunggu antrean mobil habis.

bercita-cita, kalau di desa akan begini dan akan begitu sehingga kehidupan di desa akan lebih baik dengan bekal pengetahuan orang kota. ternyata ketika kembali ke desa, saya menjadi gagap dan tidak berdaya. desa secara kulutral lebih baik tapi ilmu yang kita miliki tidak dapat terserap dan tersalurkan dengan baik. bahkan rasa prustasi pun kian menghinggap.

betapa tidak, kota dan desa berbeda. baik dari aspek sosial, ekonomi, politik dan pertahanan keamanannya. namun demikian, toh desa sangat membutuhkan pengetahuan yang dimiliki orang kota. hanya bagaimana mengimplementasikannya supaya kehidupan di desa lebih baik dari sekarang?

desa membutuhkan tangan-tangan terampil untuk menghidupkan gerak ekonomi yang mampu menyentuh pembangunan. semakin tinggi volume pembangunannya, maka perekonomian masyarakat  semakin meningkat.

jadi tidak salah apabila para sarjana, usai menimba ilmunya kembali ke kampung halaman dan mengabdikan pengetahuannya terhadap kemajuan desa. mungkinkah?***

BAU SEPATU

7 Sep

Dulu, saya suka diskusi (bahasa kerennya) karena memang pengetahuan yang dimiliki sangat terbatas. Gara-gara suka diskusi itu, kadang melupakan sesuatunya. Mungkin karena terlalu asik ata memang isi kepala tidak sempat berpikir yang lainnya.

Suatu saat, saya bertamu ke rumah kontrakannya Budayawan Nirwan Dewanto. Kira-kira taun 1990. Saat itu ia masih menjadi PNS di Departemen Geologi dan Fisika. (Kalau enggak salah ingat) sekarang kan ia mengkhususnya diri menjadi budayawan, tidak terikat lagi acara kenegaraan.

Saat bertamu itulah, saya tidak menyadari kalau ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Namun saya sih asik-asik aja. Setiap mendengarkan saya bicara atau dia bicara, tidak lepas dari ngendus dan buang angin dari hidungnya.

Lama-lama gejala itu, ketangkap. Saya pun berusaha mencari apa yang membuatnya seperti itu. Selang berapa lama, baru tercium, ada wangi kurang sedap. Semacam bau busuk. Saya pun mencari sumber pembuat suasana tidak nyaman.

Sumber bau itu ternyata, berasal dari sepatu yang saya kenakan. Memang sepatunya mengeluarkan aroma bau busuk. Mungkin kebiasaan jorok tidak menjemur sepatu setelah kena air.