Dana Bencana Alam di Gunung Aci Jadi Bancakan

16 Feb

Bencana alam tanah longsor dan banjir, membuat orang trauma. Apalagi yang pernah mengalami. Terlebih, jika menelan korban jiwa. Sungguh kejadian yang tidak pernah diharapkan oleh siapa pun yang tinggal di muka bumi ini. Bencana sama artinya kiamat kecil yang menakutkan.

Namun uniknya, ada pihak-pihak yang memanfaatkan bencana alam untuk mengeruk keuntungan pribadi. Misalnya, menggelembungkan atau markup anggaran bantuan. Atau membuat laporan fiktif, bahwa di daerahnya ada bencana sehingga memeroleh bantuan atas kejadian itu.

Seperti di Kecamatan Subang, pihak kecamatan membuat laporan terjadinya bencana alam di Desa Gunung Aci. Laporan itu, mengungkapkan dampak dari bencana gempa bumi di Tasikmalaya yang cukup menghebohkan. Berimbas ke Desa Gunung Aci, di wilayah itu ada rumah retak-retak.

Singkat cerita, tahun 2009 mengajukan dana bantuan rehabilitasi dan rekontruksi bencana alam ke Pemkab Kuningan. Pada tahun itu pula Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda menggelontorkan sejumlah dana ke 10 kecamatan, termasuk di dalamnya Kecamatan Subang.

Niat baik Pemkab Kuningan, menolong warganya yang kesusahan yang diakibatkan bencana alam itu. Ternyata di lapangan tidak sesuai harapan bupati. Dana sebesar 109 juta rupiah untuk warga Desa Gunung Aci ternyata menjadi bancakan aparat desa dan kecamatan.

Menurut penelusuran Eman Rahman, dana sebesar itu hanya dibagikan kepada warga yang rumahnya retak-retak. Itu pun belum jelas apakah dampak dari bencana alam dari Tasikmalaya atau retaknya disebabkan hal umum. Seperti kontruksi kurang kuat atau tanahnya memang labih.

Dana itu oleh Mutadi Kepala Desa Gunung Aci dibagikan sebesar 2 juta rupiah kepada sepuluh warga. Lalu diserahkan ke sekretaris desa (sekdes) untuk dibagikan ke Camat Subang (Dd) sebesar 25 juta. Kasi Trantib (Csd) sebesar 10 juta rupiah. UPTD Ciptakarya dan Tata Ruang (My) sebesar 10 juta rupiah.

Sedangkan Sekmat-nya (Oy) mengaku hanya meminjam sebesar 1 juta rupiah. Sedangkan Kepala Desa-nya mengantongi sebesar 54 juta rupiah. Begitu pun tokoh masyarakat setempat (Sj) dicairkan sebesar 2 juta rupiah. Dengan harapan Sj tidak banyak memersoalkan dana tersebut.

Yang menjadi pertanyaan, kata Eman, “kenapa pihak Pemkab, dalam hal ini bagian ksejahteraan sosial (Kesra) tidak melakukan studi lapangan terlebih dahulu. Atas ajuan Kecamatan Subang. Seharusnya sebelum menentukan angka-angka dalam rehabilitasi dan rekontruksi bencana gempa diteliti kebenarannya,” ucapnya.

Jika kejadiannya seperti di Kecamatan Subang, khususnya Desa Gunung Aci. Sambung Eman, sama artinya uang Pemkab Kuningan yang harus dipertanggungjawabkan pada masyarakatnya. Terbuang sia-sia oleh oknum pejabat kecamatan dan perangkat desa. “Ini sama artinya memerkaya diri sendiri,” tegasnya.

Lanjutnya, “dana bencana yang menjadi bancakan itu harus diusut tuntas oleh Pemkab Kuningan. Mulai daripengajuan, proses penentuan besarannya anggaran bantuan. Termasuk pengelolaannya. Siapa tahu di sana masih ada pejabat Pemkab yang bermain mata dengan aparat desa,” pintanya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: