Ratusan Warga Desa Setianegara Unjukrasa ke DPRD

25 Jan

Ratusan warga Desa Setianegara Kecamatan Cilimus melakukan unjuk rasa ke DPRD Kabupaten Kuningan. Terkait kebijakan Pemkab Kuningan menutup galian C di wilayah itu. Kedatangan mereka, tidak saja orang setengah baya. Kakek, nenek dan anak-anak pun diikut sertakan.

Unjuk rasa yang dilakukan warga setempat, dipicu kekecewaan mereka atas sikap Pemkab Kuningan yang dianggap medua dalam penerapan kebijakan. Galian C di Desa Setianegara ditutup paksa, namun di tempat lain seolah-olah tutup mata. Dibiarkan galian C marak.

“Jika galian C di desa kami ditutup secara sepihak karena dianggap melanggar Perda Gunung Ciremai Tahun 2004. Seharusnya Pemkab berbuat keadilan, galian C di daerah lain khususnya di lereng Gunung Ciremai juga harus ditutup. Bukannya dibiarkan saja,” ungkap Eno (64) salah seorang pengunjuk rasa.

Ratusan warga Desa Setianegara yang sudah belasan tahun menggantungkan kehidupannya dari usaha galian C. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sekolah anak-anaknya justru sudah dua bulan malah menganggur padahal kebutuhan perut tidak bisa dikatakan, nanti.

“Bayangkan, akibat penutupan galian batu, suami saya telah mengganggur selama dua bulan padahal anak saya perlu susu dan kami pun butuh makan untuk bertahan hidup setiap harinya,” tutur ibu beranak dua, Ooh Jatiah (50).

Bagi keluarganya, usaha galian batu merupakan dapur kehidupannya karena suaminya bekerja sebagai penggali batu dan guna mencukupi kekurangan kebutuhan sehari-harinya, ia sendiri rela bekerja selaku pemecah batu kecil untuk dijadikan batu sprit yang per lodoknya hanya dihargai Rp 1.250.

“Sehari, paling banyak, batu kecil yang berhasil dijadikan batu sprit hanya 4 lodok sehingga kehidupan kami sangat kekurangan. Beda halnya dengan anggota dewan yang digaji sangat besar, seharusnya memiliki hati nurani untuk mendesak Pemkab Kuningan agar membuka kembali galian batu,” ketusnya.

Begitu pun dengan Ismail (39) dan Husin (54). Menurut mereka, sebenarnya warga desanya merupakan warga yang penurut sehingga jika Pemkab Kuningan membuka kembali lahan galian C. Warga akan mematuhi, dimana saja daerah yang boleh digarap dan yang dilarang.

Di samping itu, pihaknya pun siap melakukan reklamasi atau penanaman kembali di daerah-daerah yang sudah tidak layak untuk digali karena bisa membahayakan baik itu longsor maupun bencana alam lainnya yang dapat mengancam keselamatan warga.

Namun apabila tidak digubris, tolong supaya aturan yang tertuang dalam Perda benar-benar direalisasikan tanpa tebang pilih, biar semua warga yang berada di kaki Gunung Ciremai dan daerah galian lainnya merasakan kesengsaraan yang sama dengan warga Desa Setia Negara.

Jangan sampai seperti sekarang ini, masih banyak galian di kaki Gunung Ciremai yang masih beroperasi dibiarkan saja seperti Cibeureum, Cileuleuy, Tegaljugul, Jalaksana dan sebagainya. Hal tersebut mengundang tanda tanya, sebenarnya ada apa dan kenapa aturan hanya berlaku bagi warganya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: