Lima Pendaki Belum Ditemukan

26 Mei

Lima pendaki Gunung Ciremai yang berasal dari Bekasi, belum ditemukan. Pasalnya, kondisi Ciremai sendiri sangat mengkhawatirkan. Hujan terus menerus sepanjang hari membuat kesulitan tim SAR. Apalagi petunjuk lokasi bercerainya para pendaki belum diketahui secara jelas. Sementara dua orang yang sudah ditemukan belum bisa dimintai keterangan.
Di Balik Pendakian
Gunung Ciremai, merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian kurang lebih dari 3.086 mdpl. Setiap petualang alam, merasa tertantang untuk melakukan pendakian. Selain pendaki, tentunya para pemula pun merasakan syahwat luar biasa bila sudah berhadapan dengan pucak gunung dengan kelebatan hutan cukup rumit ditaklukan dan jalur menantang.
Namun, apakah mendaki selalu mulus sampai ke puncak dan kembali ke rumah dengan selamat? Tentu itu adalah pertanyaan beresiko yang sulit dijawab. Sebab keselamatan hanya milik Allah SWT. Seperti kita berkelana ke lautan sendirian, tentunya tidak ada harapan kemungkinan kembali dengan selamat. Disanalah kita dapat merasakan tangan-tangan kegaiban.
Spiritual seperti itu dapat dirasakan oleh siapa pun sebagai petualang. Bahwa hidup dan mati sudah ada yang mengatur, kenapa harus takut? Orang-orang berjiwa besar tentunya tidak segamang itu ketika ada tantangan untuk menaklukan segala rintangan yang menghadang. Terus maju pantang mundur, pepatah itu selama ini dianggap tepat bagi para petualang alam.
Cerita mengenai tangan gaib, jika kita melakukan pendakian ke Gunung Ciremai dapat pula dirasakan. Memang ketika berangkat dari bawah, dengan jalan berliku dan menanjak jika melalui jalur Linggajati sebelah utara Kabupaten Kuningan. Di jalur itu kita harus siap fisik dan mental, sebab medan terlalu berat. Tapi jarak tempuh cukup singkat antara 8-9 jam sampai ke puncak.
Sedangkan jalur palutungan sebelah selatan Kabupaten Kuningan jarak dari Cirebon sekitar 35 km ke arah Kecamatan Cigugur. Kalau hendak melalui jalur palutungan, perlu mampir dulu ke markas LSM Akar (embahnya Gunung Ciremai) yang terdapat di Belakang CPM atau Jalan Ahmad Yani ke arah barat (maaf bukan promosi).
Kembali ke cerita spriritual mendaki, jika kita merasa bingung menentukan langkah. Apakah harus istirahat terlebih dahulu atau melangsungkan perjalanan, sementara jalan yang akan dilalui dirasa membingungkan. Kondisi seperti itu, jangan terlalu dipaksakan sebab yang muncul adalah halusinasi. Halusinasi timbul karena badan kita dilanda kecapaian.
Lebih baik, beristirahat terlebih dahulu sambil menunggu petunjuk alam. Petunjuk alam yang akan datang nanti adalah berupa burung. Bukan berarti burung datang ke tempat kita lalu mengajak bercengkrama. Jika ditemukan hal seperti itu tentunya kita pun tanda tanya, apalagi burungnya bisa bicara. Burung itu akan terbang dari dahan atau ranting satu ke ranting lainnya.
Jika kita kehilangan jejak, maka burung tersebut akan menunggu di salah satu ranting dengan suara kicaunya yang indah. Setelah diketahui, burung itu pun terbang lagi dan terus seperti itu. Biasanya, (menurut pengalaman) burung itu akan membawa kita ke puncak Ciremai pada saat adzan subuh. Itu pun kalau kita berangkat dari jalur Linggajati selepas maghrib. Atau dari jalur palutungan setelah ashar.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: