Supir Angdes Lanjutkan Mogok

19 Mei

Gertakan mogoknya supir angkutan pedesaan (angdes) dari wilayah timur Kuningan, khususnya Kec Ciawigebang bukan omong kosong. Hal itu dibuktikan dengan mogok mengangkut penumpang untuk keduaharinya. Selain angdes, angkutan perkotaan (angkot) 06 dan 10 jurusan terminal-kota pun dipaksa untuk tidak mengangkut penumpang.

Berdasarkan pentauan di lapangan. Angkot 06 dan 10 seperti biasa membawa penumpang. Tindakan angkot seperti itu membuat supir angdes berang, mereka pun melakukan tindakan pelemparan dengan batu. Selain itu angkot distop dan diturunkan penumpangnya di pasar Desa Ancaran Kec Kuningan. Namun untungnya situasi itu dapat terkendali setelah aparat kepolisian datang.

“Supir angkot, tidak memiliki rasa solidaritas terhadap angkutan lainnya. Mereka tetap membawa penumpang dari kota maupun terminal. Sikap seperti itu telah menyakiti perasaan supir yang tengah melakukan pemogokan. Aksi spontan yang terjadi di pasar Desa Ancaran merupakan tindakan emosional, karena sebelumnya sudah sepakat mogok,” ungkap Sahudi yang mengaku supir angdes.

Guna menghindari penumpukan penumpang di setiap titik baik di Kec Ciawigebang, Cidahu dan Luragung. Dinas Perhubungan (Dishub) dan Kepolisian Kuningan menerjunkan kendaraan bantuan. Adanya bantuan tersebut, penumpukan penumpang tidak terjadi. Pemogokan angkot dan angdes berlanjut sampai berita ini diturunkan, sementara Dishub tengah melakukan negosiasi.

“Mungkin besok, angkot dan angdes tidak mogok. Soalnya Dishub dan Polres tengah melakukan negosiasi dengan perwakilan angdes,” ucap salah seorang petugas Pol PP Kab Kuningan yang tengah membawa penumpang dengan mobil bantuan.

Menurut Teuku M Ridha, anggota DPRD dari Fraksi PPPAN menyebutkan. “Persoalan ini (mogok-red) terletak pada organisasi angkutan darat (organda) apakah mau menertibakan anggotanya atau tidak? Maksudnya, apakah organda hanya mementingkan segelintir pengusaha atau para supir angkutan kendaraan kecil. Menurut hemat saya, organda harus kembali kekhitohnya,” ujarnya.

Selama ini, kata Teuku, organda berkomitmen akan melindungi anggotanya yang nota bene angkutan kendaraan kecil. Dengan demikian, para pengurusnya tidak saja mengurusi kepentingan pribadinya yang rata-rata memiliki perusahaan bus. Bus itu kan persoalan nasional, bukan urusan kabupaten. Jadi ketika berhadapan dengan kabupaten mereka harus mengalah.

Di tempat terpisah, Bupati Kuningan, H Aang Hamid Suganda ketika dimintai komentarnya menyebutkan. Pihaknya akan memanggil pengurus organda Kab Kuningan terkait pemogokan angdes yang sampai dua hari lamanya. Bupati pun menyesalkan dengan tindakan seperti itu. Sebab sikap itu justru mengorbankan kepentingan masyarakat.

“Saya akan memanggil organda dan meminta agar mereka mau duduk satu meja untuk membicarakan persoalan ini. Kekisruhan ini kan terjadi karena adanya kesalahpahaman dan unsur kepentingan. Nah, kita akan berusaha mencarikan solusi agar kepentingan-kepentingan itu terakomodir seluruhnya. Tidak hanya satu pihak saja,” tegas bupati Kuningan.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: