Siapapun Caleg Duduk di DPR Takan Perhatikan Rakyat

14 Apr

“Siapa pun calon legislatif (Caleg) yang akan duduk di DPR tidak akan mampu merubah kondisi bangsa yang tengah carut marut.” Ungkapan ini bukan bentuk pesimistis namun berdasarkan pengalaman setiap pemilihan umum legislatif (Pileg). Bercermin pada Pileg 1955 sampai 2009, hanya melahirkan orang-orang terhormat (baca:status sosial). Bukan menghormati hak-hak rakyat.

Mereka (pekerja partai) bersusah payah memeroleh dukungan rakyat untuk menjadikan dirinya memiliki penghasilan. Jika Pileg sebelumnya mengandalkan pernasiban melalui nomor urut. Maka sekarang mengharapkan belas kasihan. Namun apakah belas kasihan itu tidak serta merta diturunkan secara tiba-tiba. Mereka pun harus merogoh kocek ratusan juta rupiah.

Bahkan ada yang mencapai angka milyar. Ironisnya, banyak keluar uang, tidak berarti dipilih atau docontreng. Masih ada kejadian mengejutkan. Sebut saja terjadi “serangan fajar” atau “pengeboman pada malam, hari H-nya. Tidak sedikit pemilih merubah pilihannya ketika ada saweran pekerja partai yang rela mengunjunginya di malam hari. Meski hanya Rp5.000 atau 20.000.

Sedikit memang, uang yang diterima. Tapi pengaruhnya cukup bagus. Sebab masyarakat sekarang membutuhkan uang. Hal itu tidak bisa disalahkan. Karena setiap rejim DPR RI berganti, mereka tidak mampu menyerap aspirasi masyarakat. Mereka asik dengan pemikirannya sendiri-sendiri. Baik tentang kekuasaan, pencitraan diri juga egoisme sebagai wakil rakyat.

Mereka kerap lupa ketika harus duduk di ruang AC, menghadapi setumpuk kertas yang harus dipelajari. Pekerjaan lobi antar departeman, tugas ke daerah dan menciptakan iklim memeroleh peluang “meraup uang”. Kendati demikian selalu membantah jika ditunjuk hidung, tidak mementingkan aspirasi rakyat. “Pembahasan undang-undang, dan menekan pemerintah melalui kebijakan salah satu upaya.”

Tapi apa “lacur” jargon yang sudah disampaikan sebagai pencitraan diri tidak menghasilkan masyarakat melompat dari kemiskinan. Masyarakat tetap terjebak kesmiskinan dari tahun ke tahun. Tengok saja jumlah pengangguran yang ada di Badan Statistik dan Bapenas. Begitu pun jumlah angka keluarga miskin (istilah pemerintah keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera) setiap tahun bertambah.

Pertambahan itu disebabkan beberapa faktor, diantaranya kebijakan pemerintah yang disetujui DPR RI tidak berpihak kepada rakyat. Selain itu keputusan yang diambil selalu mementingkan partai. Hal itu membuat masyarakat terdorong untuk “mengebiri” caleg dalam Pileg kali ini. Sebab siapa pun sependapat, ketika caleg itu duduk yang didahulukan adalah dirinya sendiri.

Mereka akan berusaha mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan dalam Pileg. Setelah itu mencari keuntungan untuk maju lagi dalam Pileg berikutnya. Ini sama artinya, caleg tidak akan berpikiran bagaimana membuat masyarakat lebih sejahtera. Dengan kata lain, rakyat siap-siap ditinggalkan oleh anggota DPR RI periode 2009-2014.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: