Mitan Harganya Selangit Kompor Gas Bantuan Dijual

6 Apr

SPBE DI DESA CARACAS KECAMATAN CILIMUS

SPBE DI DESA CARACAS KECAMATAN CILIMUS

Harga minyak tanah (mitan) paska penggunaannya dikonversikan ke gas di Kab Kuningan melonjak cukup tinggi. Semula harganya antara Rp4.500-5.000 perliter sekarang menjadi Rp8.000-8.500. Selain harganya mahal, ketersediaan dipengecer langka. Sehingga membuat sebagian masyarakat yang masih menggunakan mitan kesulitan memerolehnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan. Dibeberapa wilayah, seperti Kec Ciawigebang, Lebakwangi, Cidahu, Cipicung Garawangi dan Kec Kuningan mitan sulit didapatkan. Begitu pun pengecer mulai mengalihkan penjualannya dari mitan ke gas 3 kilogram (kg). Dikarenakan masyarakat di wilayah itu sebagian besar sudah beralih ke gas.

Namun masih ada masyarakat yang enggan menggunakan gas dengan alasan takut meledak. Mereka pun, tetap menggunakan mitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sedangkan kompor dan tabung gas bantuan dari pemerintah, dijual seharga Rp100.000. Alasannya rata-rata, selain merasa takut juga terdesak ekonomi. Hal itu menimbulkan persoalan baru.

Aan (28) warga Desa Pamulihan Kec Cipicung menyebutkan. Ia menjual kompor dan tabung gas bantuan pemerintah seharga Rp100.000 karena terdesak kebutuhan. Sementara untuk memenuhi kebutuhannya masih mengandalkan mitan. Namun karena harganya melonjak, dirinya kembali mengalihkan ke kayu bakar. Kesulitan baru timbul lagi, sebab musim penghujan memeroleh kayu bakar juga sulit.

Begitu pun dengan Ratini (32) warga Kel Cirendang Kec Kuningan, menjual kompor dan tabung gasnya seharga Rp100.000. “Tidak hanya saya saja yang menjual kompor gas bantuan dari pemerintah. Tetangga pun menjualnya, karena takut meledak seperti pemberitaan di televisi juga persoalan ekonomi. Daripada menanggung resiko lebih baik membeli mitan,” ungkapnya.

Abas Sudarmoko, direktur utama PT Prama Bina Wisesa yang mengelola pengisian gas elpiji yang terdapat di Desa Caracas Kec Cilimus. Ia meluruskan opini yang keliru atas kejadian meledaknya kompor gas. Sebetulnya, tidak ada kompos atau tabung gas yang meledak. Namun karena ada pemahaman yang keliru tentang penanganan apabila ada kebocoran.

“Kesalahan kecil yang dilakukan pengguna kompor gas pembagian pemerintah ialah konsumen lupa menutup katup slang dan kompor. Ada yang hanya menutup katup kompornya saja, ada juga yang gasnya saja. Seharusnya yang ditutup harus dua-duanya. Selain itu, tidak memberikan angin-angin atau lubang angin disekitar penyimpanan gas,” ucapnya.

Abas pun memberikan conto. Di dapur biasanya lubang anginnya ada di atas karena masyarakat menggunakan mitan. Kalau menggunakan gas, maka lubang anginnya harus dipindahkan ke bawah. Sebab gas yang bocor tidak naik tapi ke bawah karena gas itu berat. “Perobahan perilaku ini meski sederhana namun harus mendapat perhatian serius,” terangnya.

Ketika disinggung mengenai berapa kebutuhan gas di Kab Kuningan paska dikonversikan? Jawabnya, kebutuhan terhadap gas elpiji diperkirakan mencapai 95 ton atau 35 ribu tabung setiap hari. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, idealnya ada tiga stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE). Sementara yang sudah diresmikan Bupati Kuningan, H Aang Hamid Suganda baru SPBE yang terdapat di Desa Caracas Kec Cilimus.

“SPBE ini (di Caracas-red) hanya memiliki kemampuan maksimal hanya 50 ton per hari atau setara dengan 16 ribu tabung elpiji ukuran 3 kg. Hal itu dapat terpenuhi dengan bekerja selama 8 jam tanpa lembur. Sedangkan harga eceran tertinggi (HET) sesuai keputusan dari Pertamina yakni Rp4.250/kg,” terangnya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: