Gara-gara Kurang Umur, Euis Gagal Mencalonkan Kades

14 Mar

Gara-gara Eusi Lisnawati (24,8) anak dari pasangan suami istri H. Musa dan Hj. Entin Herayatin gagal mencalonkan diri dalam pilihan kepala desa (Pilkades) di Desa Cipasung, Kecamatan Darma. Hanya dikarenakan panitia sebelas memersoalkan usianya yang belum genap 25 tahun. Orang tuanya tidak terima dan melakukan ekspose ke surat kabar.

Gagalnya Euis dalam Pilkades, membuat orang tuanya sakit hati. Soalnya berdasarkan keterangan pihak kecamatan yang diperolehnya. Namun ia tidak menyebutkan identitasnya. Bahwa calon kuwu dalam Pilkades jika kurang dari 7 bulan tidak boleh ikut sedangkan Eusi, hanya kurang 4 bulan dan itu diperbolehkan. Tapi pihak panitia sebelas tetap ngotot mencoretnya dalam pencalonan Pilkades.

Pihak panitia sebelas memiliki alasan bahwa dalam peraturan desa (Perdes) Pilkades menyebutkan. Bahwa calon kuwu yang akan mengikuti Pilkades usia serendah-rendahnya 25 tahun. Artinya batas minimal usia calon 25 tahun, tidak kurang dari itu. Meski pun hanya sehari atau empat bulan. Jadi harus pas. Ketentuan itu dipegang teguh. Namun cara penyampaikannya tidak menggunakan etika.

Seperti dituturkan H. Musa, ketika dibuka pendaftaran calon kuwu di desanya. Eusi didaftarkan karena mendapat ijin dari orang tua juga dukungan pelbagai kalangan masyarakat desa setempat. Saat pendaftaran, panitia sebelas menerima. Namun malam harinya, ia dipanggil panitia sebelas ke balai desa. Pertemuan itu membahas pembatalan keikutsertaan anaknya dalam Pilkades.

“Kami menyesalkan pemanggilan dan pembatalan pencalonan anak saya dalam Pilkades karena panitia sebelas melanggar etika. Pemutusan tidak dilakukan pada jam kerja. Juga dilaksanakan malam hari. Padahal masih ada waktu untuk pemberitahuan itu, esok harinya. Jelas hal itu telah menyinggung harkat dan martabat saya sebagai orang tua calon kuwu,” ucapnya dengan nada tinggi.

Seharusnya, kata H. Musa, setelah melakukan telaah terhadap berkas persyaratan. Mereka melakukan rembugan dan hari lain diberikan surat panggilan kepada calon, bukan kepada dirinya. Telaahnya terlalu cepat dan mengundang kecurigaan dari lawan politik dalam Pilkades. Sehingga ditengarai, panitia sebelas tidak independen tapi ada yang menunggangi.

“Jika dibiarkan berlarut-larut masalah ini, karena persoalan usia kurang memenuhi persyaratan. Jelas akan menganggu sistim demokrasi yang telah berjalan ratus tahun di Desa Cipasung. Kita akan memerjuangkan demokrasi desa, supaya benar-benar dilaksanakan. Bukan sebaliknya. Terlepas nanti anak saya kalah atau menang, tapi demokrasinya harus ajeg,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Kepala Bagian Pemerintah Desa (Kabag Pemdes) Setda Kabupaten Kuningan, Agus Sumitra, saat dihubungi melalui telepon selulernya. Ia mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi. “Buka saja peraturan Pilkadesnya. Atau tanya ke panitianya kenapa bertanya ke saya? Saya sedang rapat di Depdagri,” ucapnya sambil menutup telepon selulernya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: