Arsip | Maret, 2008

Taman Kota Terkatung-katung,

27 Mar

Bupati Harus Berani Mengambil Keputusan 

 

taman.jpg

Keberadaan taman kota, ditanggapi pro kontra oleh masyarakat Kabupaten Kuningan. Pasalnya ada perbedaan pengertian tentang taman. Sebutan taman, memiliki konotasi sebuah tempat yang ditanami dengan pelbagai tumbuh-tumbuhan. Baik berupa tanaman hias maupun produktif. Berbeda dengan taman pengertian absurd atawa memiliki makna ganda.

Dalam makna ganda, taman bisa saja belantara gedung-gedung, beton-beton atau berkonotasi taman instalansi yang memiliki nilai-nilai estetik seni. (Jika dibahas dalam arti seni instalasi, hanya orang-orang tertentu saja yang memahaminya). Di Kabupaten Kuningan, nama taman identitik dengan adanya kerimbunan tumbuh-tumbuhan. Tidak lebih dan kurang.

Berdasarkan pantauan di lapangan, taman kota bukan membuat rindang atau menambah tingkat penyerapan polusi karbondioksida dan oksigen yang kotor menjadi bersih. Namun kota tampak gersang. Jika kita duduk berlama-lama, keringat tidak bisa dibendung. Begitu pun sengatan matahari, terasa mencucuk ubun-ubun. Kenyataan ini lah yang melahirkan pro kontra.

“Dibenak saya, taman kota adalah sebuah taman yang rindang. Dipenuhi bunga-bunga maupun tanaman yang rindang. Namun kenyataannya sungguh ironis. Rasa panas dan udara kering kerap saya rasakan. Hal ini mengundang pertanyaan, apa artinya taman kota jika dibiarkan gersang. Padahal pembangunannya sudah lama, ada kali dua tahun yang lalu,” ungkap Ridwan (27) warga Kel/Kec. Kuningan.

Supriana (32), warga Desa Pamulihan Kec. Cipicung pun mengutarakan hal sama. “Pembangunan taman kota tidak memberikan dampak terhadap keindahan kota. Sesuai motto Kabupaten Kuningan, Asri, aman, sehat, rindang dan indah. Saya tidak habis pikir, tentang perencanaan pembangunan yang diterapkan Pemkab Kuningan. Apakah pembangunan taman kota yang diharapkan seperti itu?” ujarnya agak sengit.

Sambungnya, “Masterplan tata ruang kota dan penggunaan serta fungsinya tidak jelas membuat masyarakat bingung. Taman kota, merupakan salah satu contoh. Apakah, sebuah taman hanya bentuk pengalihan politik, supaya Yu Keng yang semula diberikan hak guna usaha (HGU) lambat laun menyerahkan kewenangannya. Karena merasa kesal dan tidak berdaya,” ungkapnya.

Sehingga Pemkab ketika diberikan kesempatan yang sempit langsung membangun taman kota. Tanpa memikirkan terlebih dahulu perencanaannya? Sungguh ironis, Yu Keng, tidak menyerahkan sepenuhnya HGU-nya kepada Pemkab. Sehingga penataan taman semakin amburadul. Los kios yang dicanangkan pertokoan, semakin kumuh. Penuh coretan dan digunakan tempat mesum pada malam hari.

“Apakah itu tujuan Pemkab? Taman kota ya harus sepenuhnya taman, bongkar saja bangunan di sayap kiri kanannya. Karena memang sudah mengganggu fungsi taman secara keseluruhan. Jika terus dibiarkan, akan berdampak terhadap penataan taman lebih lanjut. Kendati demikian, penataan tamannya bukan seperti itu yang dipenuhi besi-besi dan tembok!” ujar Supriana.

Lebih baik, lanjutnya, bupati dan wakil bupati yang sebentar lagi mengakhiri jabatannya harus menuntaskan persoalan taman kota yang berlarut-larut. Ampir lima tahun, penataan taman kota belum beres. Hal ini hanya dibutuhkan ketegasan dan keberanian dari Bupati Kuningan selaku pimpinan untuk memutuskan mengambilalih seluruh areal taman kota untuk dijadikan taman kota.***
Iklan

Tugu “Bokor” Perlu Diperbaiki

19 Mar


tugu.jpg

Bunderan Cijoho, yang dianggap monumental oleh Pemkab Kuningan ternyata tidak saja mengurangi keindahan. Malah kondisinya terasa semakin sumpek dan mengganggu arus laulintas. Pasalnya, pembuatan tugu “bokor” tidak sesuai dengan luas jalan dan kondisi wilayah. Tugu “bokor” bukan memberikan kebanggaan kepada masyarakatna. Namun melahirkan gerendengan kurang sedap.

“Setiap saya berangkat kerja dari arah timur, menuju ke arah kota pandangan saya selalu terbentur pemandangan tidak sedap. Bagaimana tidak sedap? Tugu “bokor tidak saja menghilangkan rasa nyaman berlalulintas di daerah perempatan Cijoho yang kian hari kian macet. Terlebih tugu itu, komposisinya tidak memiliki persefektif nilai-nilai seni. Justru sebaliknya,” ungkap salah seoarang guru kesenian di salah satu SMA yang enggan dikorankan jati dirinya.

Sambungnya, “Sepintas, seperti obor PON. Kadang lebih jelek dari itu, seperti pohon bambu yang ditancapkan tanpa dibuang rantingnya. Padahal pembuatan tugu itu, memakan biaya cukup mahal. Namun hasilnya tidak memuaskan dari nilai-nilai art-nya (seni-red). Tugu “bokor” dilihat dari sisi mana saja tidak tampak hidup. Malah tampak kaku tidak sedap dipandang,” ujarnya.

Jika harus dibandingkan dengan karya seni di Jakarta, sambung nara sumber, tugu itu harus dipugar kembali. Salah satu contoh, lihat tugu Pancoran, patung tani, bundaran HI dan Monas sekali pun. Seharusnya perancang tugu atau pelaksananya melakukan study banding terlebih dahulu. Tidak asal jadi. Meski rancangannya dilombakan, tapi tidak menghasilkan yang istimewa.

“Coba saja lihaqt, bagian bawah atau lingkaran pondasinya terlalu terlalu besar sehingga marka jalan termakan habis. Sedangkan bagian batangnya terlalu kecil, tidak simetris dengan bokornya. Apalagi posisi bokor berdiri, tidak miring atau ditidurkan. Lihat saja, musim penghujan ini, tentu isinya dipenuhi air. Artinya, kuningan-nya akan terkena karat,” tuturnya.

Udin, salah seorang supir angkot menyebutkan, “Saya merasa kesulitan kalau harus berputar di tugu bokor. Lingkaran jalannya terlalu sempit. Kalau bisa marka jalannya diperlebar lagi, mungkin tidak menyulitkan pengguna kendaraan roda empat. Mobil saya masih kecil, tapi kalau sudah berhadapan dengan bus, truk gandengan dan mobil minyak tanah yang besar sangat kerepotan,” ujarnya.

Jika Pemkab tidak keberatan, kata Udin, lebih baik bagian bawah tugu dipugar sedikit. Biar kami lebih leluasa mutar. Jika tidak pun, maka Pemkab harus berkorban lagi dengan cara memerlebar tanah perempatan untuk dipergunakan jalan. Sebab volume kendaraan roda dua maupun empat semakin hari semakin bertambah. Jadi kemacetan dapat dihindarkan.

“Ceuk barudak angkot mah, cenah, nu ngarencanakeun tugu bokor atah keneh. Teu bisa nyieun jalan nu leuwih nyaman jeung teu matak picilakaeun. Kiwari tacan aya nu tabrakan, kumaha mun engke mobil geus leuwih padet?” tandes Udin. ***

Target PBB Beratkan Warga

18 Mar


Kejar target pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang tengah digenjot Pemkab Kuningan, dinilai memberatkan aparat dan warga desa. Selain harus bayar tepat waktu, pelunasan PBB tahun 2008 ini akan dimajukan awal April, jauh lebih cepat dari tahun sebelumnya.

“Ketika pemerintah menuntut melalui aparat di kelurahan untuk harus segera membayar PBB, kami tetap patuh. Namun, saat ada kenaikan kami tidak diberitahu lebih dahulu,” kata Agus, warga yang tinggal di salah satu jalan protokol Kuningan.

Menurut dia, masyarakat menyadari PBB dipergunakan untuk pembangunan, tetapi program kejar target itu memberatkan. Di samping dikejar-kejar untuk harus segera membayar, tagihan juga naik. Apalagi, selama ini sosialisasi dirasa kurang. Apabila ada penjelasan-penjelasan sebelumnya, dipastikan masyarakat tidak akan kaget.

Direktur Lembaga Penelitian Sosial (Lensa) Kuningan, Iman Subasman, S.Si., mengungkapkan, motivasi pelunasan PBB tidak ada kaitan dengan prestasi desa atau kelurahan. Pelunasan PBB erat kaitannya dengan kesadaran taat pajak dan tingkat kemampuan. Apabila dua hal itu terpenuhi, otomatis target pelunasan PBB tercapai tepat waktu.

Iman menilai, pengejaran lunas PBB sebagai prestasi itu tidak tepat dan memberatkan aparat desa. Akibatnya, banyak desa mengeluh, bahkan memaksakan meminjam uang secara pribadi. Bahkan ada juga yang sampai menjual barang karena telah dikejar pemerintah untuk segera membayar PBB.

Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat menilai pemerintah hanya mengedepankan ego. Tidak memedulikan betapa susahnya bawahan menagih wajib pajak, terutama masyarakat yang kurang mampu.***

Laratan Raja Menado Aya di Kuningan

13 Mar

makam-raja.jpg

JACUB Punto, Raja ti Karajaan Sieu Sangihe Talau Manado Sulawesi Utara, nu dikendang ku Belanda Taun 1889 ti Menado ka Cirebon. Alatan nentang teu daek mayar pajeg ka bangsa Belanda nepi ka wafatna di Desa Sangkanurip Kacamatan Cilimus Taun 1890. Jeung dikurebkeun di Kampung Simenyan, di eta desa. Anjeuna teu dibawa kalemburna di Manado.

“Pihak Belanda teu tanggung jawab keur mulasara atawa mulangkeun jasadna ka Menado. Samalah dicul-laurkeun kawas ka bangke hayam, teu boga rarasaan yen nu maot teh manusa. Samalah, sigana ngarasa bungah kuayana Jacub Ponto maot teh, taya deui nu ngahihileudan kaomna nu hayang ngawasa Menado jeung saubudeureunana,” ceuk Suparma, 80 taun, warga RT 23/7 Kampung Simenyan Desa Sangkanurip Kacamatan Cilimus.

Suparma, nembrakeun pamanggihna. Eta oge dumasar caritaan kolotna baheula. Mangsa harita masarakat Desa Sangkanurip digudjrudkeun alatan katimu layon nu geus ngambang di tempat pamandian cai panas di eta lelewek nu bogana urang Belanda (kiwari mah bogana Pemkab Kuningan tur dikokolakeun pihak swasta). Ngan taya nu apaleun ngaran saha-sahana.

Masarakat teu loba carita lantaran sieun ku Belanda. Kangaranan dipilemburan mun aya kapapatenanan teh teurus bae ngambreg. Teu nolih wawuh atawa henteuna. Si layon tuluy dibawa ka bale kampung dimandian (diadusan), disolatkeun terus dikurebkeun di astana gede atawa pamakaman umum bogana desa. Ngurus layon teh sapuratina, padahal teu apal saha-sahana jeung agamana naon.

Tata cara nu dilakukeun teh bane bae masarakat Sangkanurip karereana Islam. Mun agamana sejen mah tangtuna moal ngagunakeun cara kitu. Keur mah taya nu ngabejaan, jeung rek tatanya ka saha? Lantaran harita mah disebutna oge jaman werit. Masarakat teu weuleh ditunturkeun ku kasieun. Komo deui nu perlaya teh kabejakeun tahanan pulitik Belanda.

Atuh ngurebkeun layon teh teu karasa tarapti, kailaharan kiwari. Samalah harita mah teu ngalaksanakeun tahlilan-tahlilan acan. Dina ngayakeunana rek di saha? Tutua kampung oge narah, komo masarakat. Sabab bisi aya balukarna ti pihak Belanda. Geus ngurebkeun teh rehe deui. Samalah masarakat teu wasa ka luar ti imah. Cenah mah Belanda ngarorisan bae kampung, bisi aya nu seja nyiar informasi ngeunaan jalma nu maot ngadadak.

“Kabuka identitasna teh sanggeus 69 taun atawa pancegna 1959. Lantaran aya katurunanana nu ngarana G.D. Ponto, nyejakeun mapay laratan karuhuna nu geus almarhum. Satutasna dikendang ku Belanda ka Cirebon. Ti harita masarakat karek apal, yen makam nu dianggap teu puguh jujutanana teh saurang raja ti Karajaan Sieu Sangihe Talau Manado, Sulsel,” pokna.

Anjeuna, ceuk Suparma, ngadeg jadi raja ti Taun 1851-1890. Salila dua taun di Cirebona. Kaburu gering, teu bisa katulungan. Padahal, ceuk urang lembur, mun bener Belanda ngariksa tahanan pulitikna. Tangtuna ngahalnakeun mere tanaga medis keur ngubaran. Komo deui ka saurang nu boga pangkat raja, ieu mah bet sabalikna. Eta hal matak ngahudangkeun katugenah masarakat.

Basa apal yen Jacub Ponto, saurang raja nu teuneung ludeung nyanghareupan Belanda. Sambung Suparma, merjoangkeun hak-hak rahayat nu katiderasa ku polahna Belanda nu hayang ngajajah sakuliah nusantara. Ngayakeun perlawanan boh sacara fisik jeung ngabaekeun parentahna. Lantaran ngarasa heman ka rahayat jeung nagarana nu dikakaya samemena.

“Anjeuna teu iklas, teu ridho. Komara salaku raja nu masih keneh di denge ku rahayatna digedurkeun sangkan ngayakeun perlawanan ka Belanda. Perang fisik teu bisa disingkahan deui. Rea korban ti dua belah pihakanana, antukna Belanda ngarasa kawalahan. Tapi kusabab perlawanan rahayat ngan ukur ngagunakeun parang, tumbak jeung kolewang teu bisa majar kumaha,” pokna.

Sangkan rahayat Menado, hususna di Talau teu bisa hojah. Belanda nyieun reka perdaya, carana raja nu ti anggalna geus kanyahoan mibanda sikep teu panuju ka pihakna. Samalah leuwih milih ngabaruntak tinimbang kooperatif. Antukna Raja Sieu Sangihe Talau, Jacub Ponto Taun 1888 dicangkalak ti karaton. Samemehna di asupkeun ka bui di Talau Menado. Kulantaran rahayatna beuki kokomoan ka Belanda. Balukarna, Jacub Ponto dikendang ka Cirebon Taun 1889.

“Kajadian sarupa kitu sarua jeung parapamingpin nu aya di Pulo Jawa. Siga Sultan Cirebon, Pangeran Girilaya ti Cirebon, apan di kendang ka luar pulo jawa. Kitu deui KH. Hasan Maolani ti Desa Lengkong Kacamatan Garawangi apan dikitukeun ku Belanda. Bedana teh Pangeran Girilaya mah di pulangkeun deui. Sedengkeun KH. Hasan Maolani mah nepi ka pupusna di Menado-na,” ceuk Suparma.

Jacub Ponto, di Cirebona ngan dua taun, ceuk Suparma, kulantaran kaburu perlaya. Hasil bajuang di lemburna ngalawan Belanda meunang perhatian nu daria ti pamarentah. Taun 1959, anjeuna diangkat jadi pahlawan nasional. “Duka ari piagem penghargaan kana jasa-jasa pahlawana mah. Da kuring teu kungsi maca. Mung waktu taun 1959, pihak pamarentah pusat kungsi datang ka makamna,” ceuk Suparma.

Datangna pihak pamarentah, sambungna, salian ti ngawangun makam oge nyieun tetengger nu nerangkeun saha-sahana nu dipendemna. Mangsa harita, dirina oge milu upacara papasrahanana piagem penghargaan ti pamarentah pusat ka ahli warisna, nyaeta GD. Ponto. “Nya ti harita unggal pangeling-ngeling hari pahlawan nasional di makam ieu diayakeun upacara,” pokna.

Ngan ti saprak reformasi, ceuk Suparma, tacan kungsi diayakeun deui upacara mieling kapahlawanan anjeuna dina hari pahlawan nasional. Boro-boro mieling dalah jaroh ka makamna oge henteu. Boh pihak pamarentah, ti mimiti desa tepi ka kabupaten. Eta hal bisa disababkeun sababaraha paktor, diantarana geus tumpurna jiwa-jiwa perjoangan di masarakat. Kasilih ku pasualan ekonomi.

Bisa oge teu malire kana hasil-hasil perjoangan kuruhun baheula dina ngamerdikakeun Bangsa Indonesia. “Nu matak, kuring mah milu manghanjakalkeun, taya deui nu malire makam pahlawan Jacub Punto, Raja Sieu Sangihe Talau Manado nu dikurebkeun di Simenyan. Kaayaan makamna kiwari matak pikawatireun. Sabab geus taya nu ngurus deui,” pokna.

Basa Galura ka pajaratan tempat dipendemna Jacub Punto, hate milu ngageuri. Caritaan Suparma memang bener. Makamna, geus rea lukutan. Jangjarongan, eurih paselang jeung jukut ngajejembrung. Pager besina geus karatan. Kuburan nu liana pajejel teu diatur, matak rungseb ningalina. Tulisan pangeling-ngeling dina makamna nu nuduhkeun ngaran jeung gelar kapahlawananana teu kaciri deui.

Komo deui papan ngaran nu nunjukeun di Simenyan aya makam raja, oge pahlawan nasional mah towong pisan. Padahal Desa Sangkanurip teh disebutna oge daerah wisata. Samalah Sitonjul mah meunang perhatian nu daria. Asana teh ironis, ningali kaayan samodel kitu. Padahal eta oge bisa disebutkeun salah sahiji objek wisata kasajarahan nu gede nileyna.

Mun bisa mah, Kabupaten Kuningan jeung Manado bisa dijadikeun sister city atawa kota kembar. Sabab di Menado aya makam KH. Hasan Maolani nu dikendang ti Kuningan ka Menado ku pihak Belanda. Pon kitu deui Yacub Punto. Sawadina, Pemkab Kuningann mibanda anleh kana pasualan eta. Tina komunikasi eta, bisa ngahasilkeun wisatawan ti Menado.

Tatang Sucipto, Kepala Desa Sangkanurip basa ditepungan di imahna nyebutkeun. Yen dirina teu apal kana jujutan makam Jacub Punto, Raja ti Talau Menado. Ngan kungsi eta hal dikoordinasikeun jeung pihak kacamatan. Kulantaran kurang meunang perhatian nu daria, antukna diantep deui. Lantaran pikeun ngurus makam pahlawan teh butuh dana. Sedengkeun nepi ka kiwari oge tacan kungsi aya bantuan keur rumawat.

“Teu aya dana kanggo ngarumat makam. Boh ti pihak desa, kacamatan oge kabupaten. Dirina miharep, sangkan pihak Pemkab Kuningan mere perhatin nu leuwih daria ka makam Raja Sieu Sangihe Talau Manado. Lantaran di kumaha-kumaha oge eta teh pahlawan nasional,” tandesna.***

Tradisi Tulak Bala

10 Mar

tulak-bala.jpg

“….. Jurig nyingkir setan bubar, ti kidul malik ka kidul, ti kaler malik ka kaler, ti kulon malik ka kulon, ti wetan malik ka wetan, ti cai mulang ka cai, ti langit mulang ka langit. Asal ti Gusti mulang deui ka Gusti, Lailaha Illalah Muhamadurosullulah.”

Gerencem tokoh, oge Kapala Desa Wano Kacamatan Japara, Udin Samsudin basa mitembeyan tradisi tulak bala, nu dilaksanakeun di puser desana. Di tema ngadu’a ku cara Islam, di pingpin ku tokoh agama. Rengse ngadu’a, masarakat boh awewe, lalaki, kolot budak nu ngariung hareupan bale desa tuluy bae kebat, laleumpang ka tebeh wetan bale desa. Ti dinya, rombongan ujug-ujug misah jadi dua.

Nu sarombongan leumpang muru beulah kulon, mipir-mipir lembur. Hiji deui ke tebeh wetan, sarua mapay-mapay sisi lembur. Laleumpangna teh teu weuleh dibarung babacaan, bari jeung ngupat-ngapitkeun harupat kawung ka kenca-katuhu. Sedengkeun lengeun katuhu nanggeuy tangtangangin (kadaharan ni dijieun tina beas, dibungkusna ku daun awi) dina piring. Sakapeung dibaledogkeun ka kenca-katuhu. Husu jeung taya nu sempal guyon.

Kangaranan sisi lembur, kebon paselang jeung sawah hese rek ngalengkah. Suku teu kalis titajong kana tunggul atawa batu jeung areuy. Keur mah Desa Wano teh rada lega jeung dilingkung pasir. Kajeun leumpang digancangkeun oge angger bae merelukeun waktu teu sakeudeung. Kalan-kalan nyingraykeun heula areuy nu ngahalangan jajalanan. Atawa nyingkahkeun regang nu pasolengkrah.

Leumpang teh teu kaur laju, tapi kabehanana taya nu ngarasula. Komo nepi ka kutuk gendeng ngarasa kapaksa. Pupujian tuluy-tuluyan digerencemkeun, harupat jeung tangtang angin teu padu bae dialungkeunana atawa dibabukeunana. Tarapti jeung khidmat, kitu meureun pibasaeunana. Mun nu pangheula leumpang teu ngupat-ngapitkeun harupat, nu tukangna oge henteu.

Pon kitu deui ngalungkeun tangtangangin. Kabeh kawas saur manuk atawa hiji komando. Kawas kajadian, aya budak ti kosewad tina gawir sawah, nu ningali gancang nulungan bari jeung teu ngedalkeun kekecapan naon-naon. Anu leumpang ti heula oge henteu ninggalkeun, ngareret ka tukang sakedapan, laju leumpang deui. Leumpang teh aya kana dua jamna, ngurlingan lembur teh.

Basa dipitembeyan teh wanci ashar, anjog ka pertelon. Jalan nu ngahubungkeun Desa Japara ka Cengal, aya jalan mengkol ka katuhu engkena bras ka Wano. Nincak wanci sareupna atawa memeh maghrib karek anjog. Boh rombongan nu ngurilingan lembur ti beulah wetan jeung kulon. Rombongan ngariung di pertelon, bari namprakeun dua leungeun. Salah saurang tokoh agama munajatkeun du’a sangkan harepan warga Desa Wano kabiruyungan, teu keuna kamusibatan.

Miribisna hujan teu ngateugkeun lumangsungna ritual tulak bala. Masarakat tetep husu dina ngalaksanakeun runtuyan jalana ritual nepi ka rengse. Rengse ngadu’a masarakat ninggalkeun pertelon ngadon solat maghrib berjamaah heula di masjid. Reres solat tuluy bubar muru imah sewang-sewangan. Cenah, ba’da isya dipaju deui ngadu’ana bari ngabagi-bagikeun tangtangangin ka masarakat.

***

“Tradisi tulak bala atawa ratiban di Desa Wano sok dilaksanakeun unggal taun, pangpangna bulan Syura. Ceuk kapercayaan masarakat, bulan Syura mangrupakeun saketengna musibat. Pikeun nyinglarna sawadina ngayakeun tulak bala. Carana ngadu’a bari ngideran lembur. Salian ngadu’a aya adat istiadat diantarana ngepret-ngepretkeun harupat kawung jeung nenggorkeun tangtang angin,” ceuk Udin Samsudin.

Sambungna, “Ceuk kokolot lembur baheula, cenah harupat kawung jeung tangtangangin teh hiji alat nu dipikagigis ku bangsa lelembat-lelembut. Eta alat dipake lain ngan ukur keur tulak bala anu lumangsung unggal taun. Tapi dina sakur kagiatan nu dilaksanakeun ku masarakat. Diantarana, mun nyieun wangunan, rek tandur atawa panen di sawah,” pokna.

Tulak bala, ceuk Udin, tujuanana keur nyinglar kamusibatan nu bakal kaalaman. Kamusibatan eta aya nu datang ti alam kawas taneuh urug, gempa atawa banjir. Sabab Desa Wano kalingkung ku pasir, nu bisa ngabalukarkeun bencana alam. Pon kitu deui musibat nu asalna teu kaharti ku akal masarakat, kawas ujug-ujug gering muntaber, demam berdarah jeung saniskarana.

Kajeun kitu, pokna, tulak bala bisa disebutkeun salah sahiji alat pikeun ngageuingkeun masarakat sangkan ulah talobeh. Sabab kamusibatan atawa katerapna kasakit, jaman kiwari mah geus kahontal ku akal. Jeung bisa dijelaskeun sacara ilmiah. Kawas taneuh rugrug atawa kasakit utah ngising. Tina pasualan-pasualan eta, aya tilu rupa palakiah datangna kamusibatan.

Diantarana, poho, nyorobo (jorok-red) jeung bodo. Poho, eta teh kasakit manusa nu teu bisa leungit. Conto basajana, ceuk Udin, kamusibatan taneuh rugrug atawa banjir alatan manusa poho kana pungsi leuweung. Tatangkalan nu geus ratusan atawa rebuan taun ditaluaran, dijual keur kapentingan pribadi. Atuh si leuweung teh jadi dugul, mun geus dugul, balukarna longsor.

Kitu deui keur jalma anu teu berseka. Cai kalomberan (pamiceunan) ti imah diantep karep. Teu dipirosea atawa tara diberesihan. Apan balukarna oge masarakat sabudeureunana bisa bae katarajang diare atawa demam berdarah. “Ceuk pamikiran kuring mah, kiwari remena kajadian kamusibatan di daerah-daerah alatan masarakatna geus poho kana kawajibanana ngarumat lingkungan,” pokna.

Nyorobo, paripolah masarakat ulah kokomoan teuing teu malire kana kaayaan. Siga jaman ayeuna, hayang meunang rejeki badag bari jeung ngagunakan cara nu gampang atawa disebutna “jalan tol” geus ngaleungitkeun norma, etika jeung hukum. Antukna lain bae dirina nu kalangsu, dalah lingkungan oge milu kabawakeun. Temahna nu goreng nya kulawarga keneh.

Conto leutikna, rek nyieun imah. Sagede-gedena imah moal meakeun tatangkalan nu jumlahna rebuan. Copelna oge saratus tangkal. Tah si tatangkalan teh ulah ditaluaran kabeh, keun bae leuweung sina hejo lembok. “Atawa cing atuh rek dahar mah kudu dibiasakeun leungeun teh diberesihan heula. Kawas rek ka masjid, apan kudu beresih boh tina hadas leutik atawa gede.”

Udin miharep, eta hal kudu dilarapkeun dina kahirupan sapopoena. Sangkan urang teu kaasup kaom nu nyorobo atawa jorok. Kitu deui jeung bodo atawa teu ngarti. Tapi bisa oge jalma pinter tapi pura-pura bodo alatan hayang untung tina enteng jadi ngagampangkeun pasualan. Pamadegan samodel eta, teu sarua jeung masarakat nu bener-bener teu ngarti.

Alatan pangaweuruh nu dipibandana teu nepi kana pasualan-pasualan eta. Matakna nu gampang katarajang kamusibatan diatarana golongan kaom poho, nyorobo jeung bodo. Boh kasakit keur dirina kawas jiwa, raga gering nangtung ngalanglayung atawa widang sosial, ekonomi jeung lingkunganana. Padahal kokolot lembur geus mere iber ku cara siloka. Ngan siloka eta, kiwari mah tara kungsi dilenyepan sacara daria.

“Hirup mah kudu nyoko kana palasipah tangtang angin. Apan tangtangangin mah dijieuna tina beas tur dibungkusna ku daun awi. Tah kangaranan beas, kajeun dibungkusna ku daun naon bae. Atawa rasana pulen, bear atawa hapeuk tetep bae kadaharan poko manusa. Leuwih unikna, tangtang angin mah ngajuru tilu jeung ukuran juruna sarua,” ceuk Udin.

Juru tilu nu sarua eta dipalasipahkeun ku kolot baheula, ceuk Udin, nyaeta antara ucapan, hate jeung paripolah kudu sarua. Ulah patukang tonggong. “Ari nu dikedalkeun A, pek tindak-tandukna C. Pan teu nyambung ari kitu teh. Mun geus kitu, hirupna teu weuleh harengheng taya katenangan. Antukna teu weuleh guligah alias teu tumarima kana kaayaan,” pokna.

Siga kolot baheula, di unggal pongpok imah ngagantelkeun tangtangangin, harupat jeung jukut papaliasan. Basana, eta teh keur tulak bala sangkan nu ngeusian imah teu tereh katerap kasakit. Mun dihartikeun cara kiwari, simbol eta boga harti yen imah nu didodokan sangkan dirumat sing raresik. Sumber kasakit teu nyayang jeung salaki atawa pamjikan kudu jujur. Ulah linyok atawa bohong.

“Mun hirupna geus beresih hate, pikiran jeung paripolah Insya Allah pinuh ku kaberkahan. Sedengkeun tulak bala nu dilaksanakeun di Desa Wano, sakali deui ngan ukur ngelingan sangkan masarakat teu poho kana kawajiban rumawat ka lingkungan. Eta mah tradisi, sabab mun masarakat urang ditaragal matak goreng tungtungna,” tandesna.***

Sengketa Air Terus Bergulir

6 Mar

Sengketa kompensasi pemanfaatan air Cipaniis antara Pemkab Kuningan dan Pemkot Cirebon masih terus bergulir. Meski kedua belah pihak telah dipertemukan di Cirebon dan ditengahi oleh Kepala Bakorwil Cirebon, Drs. H. Nunung Sanuhri, M.Pd., Kuningan tetap kecewa atas sikap PDAM Kota Cirebon yang terkesan terus mengulur waktu terkait dengan MoU kompensasi.

“Saya kecewa, beberapa kali pertemuan belum juga final. Malah saya di Bakorwil Cirebon, Selasa kemarin sempat kesal dan menggebrak meja karena Cirebon selalu mengulur-ulur waktu dan berbelit-belit. Sejak kelanjutan pertemuan 4 Desember 2007 sampai 4 Maret 2008 sekarang, ternyata PDAM Kota Cirebon belum juga bisa menghitung,” kata Direktur PDAM Kuningan, H. Kamdan S.E., di kantornya, Jln. RE. Martadinata.

Dikatakan, ketika pertemuan Desember 2007 sudah ada kesepakatan antara Kuningan dan Kota Cirebon, Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda tidak mau menandatanganinya karena belum tertera besaran nominal atas kompensasi. Selanjutnya Pemkot Cirebon meminta waktu menghitung semua beban biaya produksi maupun laba PDAM Cirebon.

Pemkab Kuningan mengalah serta memberikan waktu untuk menghitungnya. Namun, sampai dengan tiga bulan berlalu, tepatnya Selasa (4/3) dalam pertemuan semua pihak yang difasilitasi Bakorwil, PDAM Kota Cirebon belum memberikan angkanya dengan alasan belum sempat menghitung.

Ketegangan dalam pertemuan di bakorwil tersebut berlangsung sekitar satu jam karena belum juga ada keputusan yang pasti. Kepala Bakorwil Cirebon, berusaha keras menengahi sehingga memberikan waktu kembali kepada Pemkot Cirebon hingga Senin (17/3) mendatang.***

Heryawan-Dede Yusuf, Kuda Hitam di Pilgub Jabar

3 Mar

 

Pasangan Heryawan dan Dede Yusuf, kandidat cawagup Provinsi Jawa Barat dari koalisi Partai PKS dengan PAN telah menebar ancaman bagi calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung oleh partai lain. Khususnya di Kabupaten Kuningan.

Calon yang semula dianggap enteng oleh kandidat yang lebih kuat, seperti Agum-Nu’man dan Danny-Iwan ternyata telah memberikan motivasi kepada kaum ibu-ibu di Kabupaten Kuningan. Juga para kaula mudanya.

mereka seperti terhipnotis atas kinerja Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tidak mengenal siang dan malam melakukan koordinasi dengan masa pemilih di desa-desa. Hal ini memberikan angin segar. Bahwa masyarakat merasa diakui dan dihargai oleh partai.

Kondisi ini  telah merubah peta kekuatan politik diantara ketiga calon yang tengah bersaing. Pasangan Heryawan dan Dede Yusuf, telah menjadi kuda hitam yang siap melumat kedua calon yang dianggap lebih kuat dan mendapat perhatian masyarakat luas.

Dengan kinerja PKS dan PAN yang cantik dan tidak mengenal lelah, kemungkinan besar pasangan yang diusung oleh kedua partai ini akan mampu menjungkirbalikan ramalan atau prediksi politisi regional.

Bahkan kemungkinan besar, pasangan yang lebih dikenal dengan julukan HADE ini akan meraih suara terbanyak dalam Pilgub mendatang.

Mungkinkah? ***