Arsip | Februari, 2008

Agum-Nu’man Unjuk Kekuatan

25 Feb

agum-masa-remaja.jpg

Keterangan gambar :

Agum Gumelar beserta istri dan anak pertamanya saat masih prajurit, tengah bercengrama dengan keluarganya.

———————–

Pasangan cagub dan cawagub Jabar Agum Gumelar-Nu`man Abdul Hakim unjuk kekuatan di Bogor. Tercatat sekitar 20.000 massa dari tujuh parpol pendukung tumpah ruah di Lapangan Tegar Beriman Pemkab Bogor.

Pekikan “Allahu akbar-Merdeka-Agum-Nu`man menang!” pada awal deklarasi menggema menyambut kedatangan mantan jenderal itu, saat keluar dari mobil BMW hitam nopol B 55 NG. Agum ditemani istrinya Linda Amaliasari Gumelar, artis Rieke “Oneng” Diah Pitaloka, dan ketua tim sukses Rudy Harsa Tanaya, meladeni warga yang ingin bersalaman dengannya.

“Tunjukkan pada Indonesia, masyarakat Jabar cinta damai dan jauh dari anarkis. Suhu politik menjelang pilgub memang panas, tapi kita harus bisa menjaga,” kata Agum. Alasan mencalonkan diri jadi gubernur, karena ingin perubahan hidup masyarakat yang lebih baik.

Mantan Pangdam Wirabuana ini meminta massa pendukungnya tidak menganggap dua pasangan lain, Danny Setiawan-Iwan Sulandjana (Da`i) serta Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade), musuh yang harus dihancurkan. Kedua lawannya dianggap rival yang harus dikalahkan dalam pertarungan Pilgub Jabar.

Mantan Danjen Kopassus ke-13 ini sangat menyayangkan, IPM Jabar di posisi 16 skala nasional. Jika pemerintah serius, itu tidak akan terjadi. “Jika saya dan Pak Nu`man terpilih, saya berjanji untuk langsung lari mengejar ketertinggalan,” kata Agum. Secara simbolik, Agum menyerahkan kentungan sebagai bentuk alat pengaman sekaligus menghibur kepada seniornya, Jenderal (Purn.) Ibrahim Saleh.

Ketua tim kampanye pemenangan pasangan Agum-Nu`man, Rudy Harsa Tanaya menargetkan 42% suara untuk mereka di wilayah Bogor dan sekitarnya. Jumlah itu dilihat dari perolehan suara tujuh parpol dalam pemilu lalu.

Rudy bertekad untuk mengembalikan suara mereka dalam Pilgub Jabar 2008. “Dengan kepopuleran Pak Agum, saya harapkan perolehan suara akan lebih banyak. Apalagi didukung dengan Pak Nu`man yang memiliki basis massa yang jelas di Jabar,” kata Rudy.

Lawatan sosialisasi pasangan ini dilanjutkan ke wilayah Priangan timur, Senin (25/2) ini. Agum akan bertandang ke Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya dalam kegiatan haul K.H. Zaenal Mustopa. Dilanjutkan dengan deklarasi koalisi tujuh parpol tingkat Priangan di Lapangan Dadaha Tasikmalaya, dan silaturahmi ke Pontren Manonjaya.

Keesokan harinya, Agum akan mengikuti acara panen raya di Karawang serta bertemu sejumlah tokoh masyarakat pimpinan kader parpol pendukung. Malam harinya, Agum akan menghadiri pertemuan dengan Kadin Jabar di Bandung.***

Iklan

Jalan Poros Desa Rusak Parah

21 Feb

Oleh : C. RUHYAT

Pjs Kepala Desa Jabranti Kecamatan Karangkancana, Kuswanda mengutarakan. Jalan poros desa yang menghubungkan Desa Jabranti ke Sindangjawa dan kantor kecamatan. Keadaannya rusak parah. Dampaknya arus transfortasi ekonomi dan urusan pekerjaan kurang lancar. Hal ini membuat masyarakat merasa terhabat atas kerusakan badan jalan akibat kurangnya perhatian Pemkab.

“Seharusnya jalan poros desa yang menghubungkan desa terpencil seperti Jabranti tidak hanya dibiarkan rusak parah. Sebab semakin dibiarkan maka masyarakat akan merasa terkucilkan dari dunia luar. Pemkab harus lebih memerhatikan desa terpecil, termasuk Jabranti. Apalagi kondisi tanahnya labil sehingga akan dengan mudah hancur,” ungkap Kuswanda.

Kondisi jalan yang labil akan lekas mudah karena tanah selalu bergeser. Namun demikian, artinya Pemkab perlu lebih memerhatikan kondisi tanah yang labil dengan mengangarkan dana pemeliharaan. Jalan poros desa itu, bisa saja hari ini dihotmik, namun beberapa hari kemudian akan hancur. Hal ini perlu perhitungan atau langkah-langkah yang tepat penanganannya.

Dirinya berharap sebelum pengaspalan atau perencanaan perbaikan. Kondisi tanahnya terlebih dahulu distabilkan. Ia tidak tahu bagaimana teknologi untuk mengupayakan supaya jalan tidak bergeser. Hal itu tentunya bukan tanggung jawab atau pemikiran dari kepala desa. Tapi sepenuhnya diserahkan pada Pemkab Kuningan melalui dinas teknis untuk memikirkannya.

Sebab dirinya dan masyarakat Jabranti merasa apalah artinya pembuatan jalan hebat andai biaya pemeliharaan dan teknologi terapannya tidak diupayakan. Justru dengan biaya besar namun hasilnya lebih optimal akan lebih baik. Ketimbang mengeluarkan dana perbaikan diencrit tapi hasilnya tidak dapat dirasakan dalam jangka waktu lama. Pemkab selayaknya berpikira ke arah sana.

“Desa Jabranti dengan desa-desa lain sangat berbeda kondisi alamnya. Menurut catatan Badan meteorologi dan geofisika, dibawah permukaan tanah merupakan lempengan batu yang mudah bergerak dan mengakibatkan bencana alam. Kondisi ini selayaknya mendapatkan perhatian. Bukan sebaliknya dengan menyelenggarakan program instan yaitu relokasi atau transmigrasi lokal,” ungkapnya.

Kuswanda berharap, penanganan utama atas kondisi itu diperioritaskan penanganan jalan poros desa. Karena satu-satunya jalan yang menghubungkan desanya ke luar. Tanpa ada penanganan serius, masyarakat Jabranti akan terkna dampak luar biasa, khususnya bidang ekonomi. Masyarakat tidak bisa lagi membawa hasil pertaniannya ke pasar dan begitu juga sebaliknya.***

Pilkada Kuningan dan Tanda Tanya

20 Feb

“KUNINGAN menjelang Pilkada kok adem ayem aja? Tidak ada calon yang mau manggung apa?” Ujar seseorang yang tanpa sengaja berbincang-bincang di kedai warung kopi. Entah sebuah pernyataan tulus atau sekedar basa-basi atau ada makna tersembunyi dibalik ungkapan itu. Namun pernyataan itu terasa menggelitik di kepala. Betapa tidak, ada semacam dentuman yang tiba-tiba membentuk tanda tanya besar.

Seorang kawan, tiba-tiba masuk. Sebut saja namanya Ridwan alias mirip pemuda bangsawan, karena ia nggak tahu kalau pemikirannya akan menjadi sebuah tulisan. Ia pun terlibat perbincangan yang semula remeh temeh, menjadi sebuah pembicaraan serius dengan orang yang tidak dikenalnya. Namun akhirnya tahu nama orang itu. Sebut saja namanya Armad alias anak baru melek demokrasi.

Keduanya tampak serius. Begitu seriusnya yang namanya rokok tidak pernah berhenti dari mulutnya. Puntung rokok “pabalatak” di lantai warung bersama abunya. Sesekali meneguk kopi. Kadang mereka menerawang, atau memijit-mijit jidatnya. Asap rokok “mulek”. Aku tersenyum, mirip sekali dengan adegan film G 30 S PKI, yang dulu sering diputar di TVRI.

Ridwan, “Kuningan itu tidak pernah kondusif tapi terus bergejolak. Tapi gejolaknya tidak pernah dipermukaan. Contoh sederhananya Kuningan di 2008 ini akan Pilkada tapi ti permukaan adem ayem saja. Tapi kan di bawah terus bergejolak, sudah saling dukung-dukungan. Setiap hari para kandidat calon bupati sudah kampanye di mana-mana. Ini salah satu bukti,” ungkapnya.

Armad, “Pilkada itu urusan cemen alias tidak menarik untuk ditelaah. Sebab sudah pasti kemenangan ada di satu pihak. Tapi masih ada persoalan-persoalan besar yang harus tuntas sebelum Pilkada berlangsung. Saya dengar, ada pejabat yang dipanggil kejaksaan dan pernah tertulis di surat kabar. Tapi sampai saat ini adem ayem aja, tidak ada gejolak!” jawabnya.

Ridwan, “Itu sisi lain dari Pilkada, Bung! Memang ada keterkaitan dengan masa depan Kuningan sendiri. Sebab bupati mendatang belum tentu akan melindungi orang-orang bermasalah. Tapi itu kan proses alam. Nah topik yang dibahas adalah Pilkada Kuningan tidak memerlihatkan tanda-tanda yang signifikan di permukaan. Supaya masyarakat sadar demokrasi,”

Armad, “Justru ini letak persoalannya. Dalam demokrasi harus transfaran alias terbuka. Jadi supaya tidak menjadi “cucuk” alias duri dalam daging. Seharusnya dibersihkan dulu. Jangan sampai gerbong pemerintahan dijadikan alat kampanye. Gerbong pemerintahan itu harus terbebas dari pengaruh politik praktis. Kan sudah jelas dalam perundang-undangannya,”

Ridwan, “Lho, pembicaraannya tidak nyambung. Pilkada itu berkaitan erat dengan calon, masyarakat dan keutuhan daerah. orang-orang pemerintah itu juga kan rakyat yang nantinya harus memilih. Artinya mereka masih memiliki hak,” ujarnya sambil matanya melotot.

Armad memotong, “Begini, Bung! Dalam Pilkada harus terbebas dari polusi birokrasi. Artinya birorasi jangan diseret-seret ke tengah-tengah konflik Pilkada. Sebab jika ditarik maka ke depan akan runyam atas dukung-dukungan itu. Bagaimana seseorang tiba-tiba akan menjadi kepala dinas/badan atau kantor karena yang didukungnya menjadi bupati. Lalu bagaimana dengan yang tidak mendukungnya? Apakah harus dipensiunkan atau distafahlikan?”

Sambungnya, “Begitu pun dengan aparatur desa. Jangan diajak-ajak masyarakatnya mendukung salah satu calon. Justru si calon itu sendiri harus mengampanyekan dirinya ke masyarakat dengan bantuan gerbong partai. Sebab partai yang mengusung calon, bukan pemerintah. Baik dari pemerintah tingkat kabupaten sampai ke tingkat RT/RW. Itu namanya sikap netralistas.”***

Agum-Nu’man Urutan 2

16 Feb

 cagub.jpg

Nomor urut tiga pasangan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) Jawa Barat ditetapkan dalam rapat pleno terbuka Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jabar di Aula KPU Jabar, Jln. Garut, Bandung, Jumat (15/2).

Pasangan Danny Setiawan/ Iwan Sulandjana (Da’i) mendapat nomor urut 1, Agum Gumelar/Nu’man Abdul Hakim nomor urut 2, dan Ahmad Heryawan/Dede Yusuf (Hade) mendapat nomor urut 3. Penetapan nomor urut tersebut ditentukan oleh para kandidat melalui proses undian.

Karena Agum datang terlebih dahulu ke KPU Jabar, maka dia mendapat kesempatan mengambil undian paling pertama. Kemudian disusul Danny, lalu Ahmad yang datang belakangan. Undian pun dibuka oleh para cawagub (Iwan, Nu’man, dan Dede) bersama-sama.

“Nomor dua itu bagus. Tidak ada masalah. Saya senang dapat nomor urut dua,” ujar Agum, seraya membentuk huruf “V” yang berarti victory (kemenangan) dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Hal senada juga diungkapkan Ahmad Heryawan. Menurut dia, nomor urut tiga tak menjadikannya sebagai pasangan yang bisa dianggap sebelah mata. “Harapan kita dari awal kan ingin menang. Dapat nomor urut ketiga pun tujuan kita tetap menang dengan dukungan masyarakat. Nomor tiga, menurut saya sangat bagus, karena bila menggunakan jemari, bisa membentuk simbol metal. Artinya, Hade siap membawa perubahan untuk Jabar. Tentu ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam proses penentuan nomor urut kemarin, para kandidat ditemani pimpinan partai pengusung masing-masing. Da’i didampingi Ketua DPD Partai Golkar Jabar Uu Rukmana dan jajarannya. Sedangkan Ketua DPD Partai Demokrat Ajeng Ratna Suminar selaku koalisi Golkar, tidak tampak dalam pleno terbuka kemarin.

Pasangan Agum-Nu’man ditemani pimpinan tujuh partai pengusung mereka seperti Ketua DPD PDIP Jabar Rudy Harsa Tanaya, Sekretaris Partai Bintang Reformasi (PBR) Jabar Donny Kurnia.

Pasangan Hade juga didampingi Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Taufik Ridlo dan Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Jabar Ahmad Adib Zain beserta jajarannya.

Acara penetapan nomor urut pasangan cagub/cawagub pada Pilgub Jabar 2008 itu dihadiri Ketua DPRD Jabar H.A.M. Ruslan, Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji, dan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Suroyo Gino.

Kendati dilaksanakan secara terbuka, tidak semua orang bisa mengikuti rapat pleno kemarin, karena keterbatasan ruangan. Penjagaan oleh aparat kepolisian pun dilakukan secara ketat. Mesin metal detector dipasang di pintu masuk aula KPU Jabar.

Ketua Panwaslu Jabar Anton Minardi mengatakan, dengan telah ditetapkannya ketiga pasangan itu, Panwaslu akan bertindak lebih tegas dalam mengawasi aktivitas para kandidat dan tim kampanyenya hingga hari pencoblosan pada 13 April 2008 nanti.

“Seharusnya, mulai hari ini (kemarin-red.) sampai H-1 masa kampanye, baliho dan spanduk para kandidat yang saat ini banyak dipasang di jalan harus sudah dicabut,” ujarnya.***

Sumber Pikiran Rakyat

Calon Gubernur Jabar, Agum-Nu’man Didukung Tujuh Parpol

16 Feb
agum-8.jpg
Bandung—Pasangan calon Agum Gumelar-Nu’man Abdulhakim dipastikan bersaing dengan pasangan Danny Setiawan-Iwan R Sulanjana dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jabar 13 April 2008. Pasangan ini didukung tujuh parpol, PPP, PDIP, PKB, PKPB, PDS, PBR, serta PBB. PDIP sendiri semula mengusung duet Agum Gumelar-Rudi Harsya Tanaya.

Deklarasi pasangan Agum Gumelar-Nu’man Abdulhakim sebagai pasangan Cagub-Cawagub Jabar dilakukan di Sasana Budaya Ganesha Bandung, Jumat (18/1). Pasangan Danny Setiawan-Iwan R Sulanjana didukung Partai Golkar dan Partai Demokrat.
Sementara itu,
Agum Gumelar dan Nu’man Abdulhakim berjanji membawa Jabar ke arah yang lebih baik. Keduanya berjanji tidak akan mengecewakan masyarakat Jabar yang telah memberi kepercayaan jika terpilih nanti.

Selain pasangan Danny Setiawan-Iwan R Sulanjana dan Agum Gumelar-Nu’man Abdulhakim, Pilkada Jabar diperkirakan diramaikan oleh pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Pasangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf diusung oleh PKS dan PAN.
Sementara itu, Rudi Tanaya mengatakan DPP PDIP telah mengeluarkan dua surat keputusan (SK) yang baru untuk kepentingan pilgub di Jabar.

“Kedua SK tersebut, yang pertama mencabut saya sebagai calon gubernur dan kedua menetapkan Agum Gumelar dan Nu’man Abdulhakim sebagai calon gubernur dan wakil gubernur,” kata Rudy.

Dia menjelaskan penggeseran dirinya dari calon gubernur oleh Nu’man Abdulhakim masih dalam koridor konstitusi yang ada di dalam PDIP. Dan perlu diketahui, Rakerdasus PDIP memunculkan empat nama, yakni Agum Gumelar, Danny Setiawan, Nu’man Abdulhakim, dan Rudy Tanaya sendiri. Kalau kemudian muncul Agum dan Nu’man itu bukan hal baru karena masih dalam koridor hasil Rakerdasus.

Rudi menyatakan saat ini ujian terberat baginya sebagai Ketua DPD PDIP Jabar, posisi kursi wakil gubernur yang awalnya diserahkan kepadanya harus dicabut dan digantikan cawagub dari partai lain.***

Kuningan Pinggiran Memerihatinkan

16 Feb

Memasuki wilayah Kecamatan Subang Kab. Kuningan bagi warga Kabupaten Kuningan tidak merupakan masalah, mau  arah dari mana saja Kecamatan Subang dapat dijangkau. Baik dari arah timur,melalui Luragung-Ciwaru-Cilebak-Subang atau yang mudah melalui Kuningan Kota – Selejambe – Subang. Jalan menuju kecamatan inipun relative baik, tentunya lewat timur akan menempuh jarak lebih jauh lagi, tetapi jika dari selatan relatif perjalanan lebih singkat. Kecamatan Subang dengan potensi alamnya memang tidak berbeda dengan wilayah-wilayah kecamatan di Kuningan lainnya. perbukitan, pesawahan, perkebunan, dan kolam-kolam ikan ciri khas masyarakat  Pasundan dapat kita rasakan di Kecamatan ini.Kecamatan Subang selama ini hanya dikenal sebagai daerah penghasil wajit makanan yang khas daerah ini terbuat dari beras ketan putih, dan gula aren, kemudian dibungkus dengan kulit buah jagung dan kulit ari pohon pinang,industri Wajit Subang ini dikerjakan oleh Ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok PKK. Walau sebagai industri rumah tangga, Wajit Subang ini sudah dikenal sampai ke Ibu Kota Jakarta, sayangnya masih dalam skala kecil (sebagai oleh-oleh).Menurut Kuwu setempat bapak Sumarda (55th) industri Wajit Subang merupakan primadona, tetapi Selei Pisang-pun merupakan keunikan tersendiri. “Tidak semua pisang bisa dibuat Selei, pisangnya namanya pisang Koyut ,hasil persilangan antar pisang Kepok dengan pisang Raja Siam, kemudian warga di sini menyebutnya Pisang Koyut.jelasnya pada SJB lanjutnya, di Subang tidak hanya itu, tetapi ada hutan lindung dan penghasil rotan juga kekayaan sumber daya alam, seperti Curug (air terjun) Curug Ngantay, Curug Beureum dan Curug Cisawung, yang kalau ini dapat dilola oleh Pemda, akan menghasilkan PAD,” katanya. Dari hasil pantauan SJB yang memasuki lokasi sumber air panas. Kecamatan Subang menyimpan potensi yang luar biasa jika potensi itu digali dan dikembangkan oleh Pemerintah Daerah tidak mustahil Subang akan menyamai  Subang-Kab.Purwakarta. Sayangnya potensi itu tetap dibiarkan tanpa direncanakan ataupun diprogram untuk dikembangkan menjadi suatu asset daerah.

 Sumber Air Panas Yang Terabaikan

Dengan infrastruktur yang baik, dan memiliki sumberdaya alam serta sejarah perjuangan bangsa (sebagai wilayah gerilya)  juga  memiliki ceritera perjuangan masa lampau. Kecamatan Subang jika diarahkan menjadi wilayah daerah tujuan wisata akan menjadi suatu wilayah yang potensial berkembang di masa yang akan datang. Ketika SJB mengunjungi Kecamatan ini, di Monument Tugu Perjuangan Umar Wirahadikusumah, terkesan tanpa ada perawatan, terlebih museum perjuangan nampak kumuh tak terawat. Jika Kecamatan ini dikembangkan dengan potensi wisata, akan mampu menarik investor kalau wilayah ini mampu dipasarkan oleh pemerintah daerah untuk dijual kepada investor, atau mungkin pengembang dunia wisata. Mengapa tidak ? Kecamatan ini sesungguhnya mampu menjadi daya tarik wisata wilayah Kuningan selatan. Salah satu wilayah atau daerah yang mampu dijadikan obyek wisata adalah sumber air panas, yang berasal dari Gunung Ciremai. Sudah bertahun-tahun sumber air panas itu dikunjungi orang, bahkan atas inisiatip pemuda dan tokoh masyarakat kawasan sumber air panas telah dibuatkan tempat ganti baju, dan ruang duduk ala kadarnya. Sayangnya itu hanya sebentar saja, karena jalan kearah sumber air panas, benar-benar jalan setapak.!

Nama sumber air panas Subang sudah dikenal baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah. Saat bertemu seorang penduduk yang kebetulan melintas membawa  buah kelapa, “wah..sudah banyak yang datang mah, da kumaha atuh  teu aya jalan.” Katanya singkat sambil terus berjalan beriring. “ Kalau Sumber Air Panas bisa dibangun mah, wah Bagus atuh pak,” jawabnya ketika SJB mengajukan pertanyaan tentang sumber air panas. Dengan tanpa sentuhan apa-apa saja sumber air panas banyak dikunjungi orang, bagaimana jika itu dibenahi dan di pasarkan oleh pemerintah daerah ?

                                                    Tiga Jembatan Siapa Ambrol

Jalan yang mulus menuju Kecamatan Subang, memang relatif bagus, ada badan jalan yang miring-miring dan berlubang sebagian sedang diperbaiki. Jalanan yang menikung dan menurun jika dari arah Kota Kuningan, harus waspada. Karena jalanan yang relatif baik itu tiba-tiba kita harus meningkatkan kemahiran mengemudi, karena ada tiga jembatan yang siap ambrol. Terlebih lagi jika musim penghujan akan memperparah kerusakan jembatan sebagai urat nadi perekonomian di Kecamatan ini.Ketiga jembatan itu saat sekarang semuanya memang dapat dilalui kendaraan roda empat ataupun dua, tetapi harus ekstra hati-hati. Bisa saja, paku atau baud yang muncul diantara papan melubangi roda kendaraan anda.Bagaimana potensi alam, dan sumber daya yang lain dapat berkembang jika infrastrukturnya kurang diperhatikan. Ketiga jembatan tersebut ada di dua Kecamatan yaitu jembatan di Desa Padahurip dan Desa Jamberama berada di Kecamatan Selajambe, serta satu di Desa Cimengga yang masuk wilayah Kecamatan Darma. Ironis memang potensi yang ada ternyata hanya didata dan didaftar sebagai asse semata, ternyata antara keinginan dan kenyataan ternyata tidak pernah sejalan.***

Karangmuncang Dambakan Jalan Dusun Diaspal

16 Feb

desa-karangmuncang.jpg

Oleh : MAMAN ABDULRAHMAN

Warga Dusun IV Desa Karangmuncang, Kecamatan Cigandamekar sudah lama merindukan jalan Pulogading  lingkungan Dusun iIV segera diaspal. Namun sampai saat ini harapan itu belum bisa terwujud karena berbagai kendala teknis termasuk minimnya dana masyarakat untuk membangun jalan tersebut. “Sebenarnya warga di sini siap untuk berswadaya, namun kami butuh perhatian dari pemerintah,” kata Ahyani, tokoh masyarakat Dusun IV Desa Karangmuncang.

Menurut Ahyani, warga telah beberapa kali mengajukan ke tingkat pemerintah desa baik secara langsung maupun melalui kepala dusun agar jalan itu diaspal. Sayangnya hingga kini belum ada titik terang jalan Pulogagding segera dibangun. Padahal, kata Ahyani, jalan Pulogading sepanjang 500 meter dengan lebar 3 meter itu sangat diperlukan oleh masyarakat mengingat hanya satu-satunya jalan yang dijadikan sarana perhubungan bagi masyarakat di Dusun tersebut. “Bila musim hujan jalan ini selalu becek karena belum diperkeras, tak heran bila banyak warga yang terpeleset saat berjalan atau membawa kendaraan roda dua,” tutur Ahyanni.***