Arsip | September, 2007

Bisakah Pulang ke Desa?

30 Sep

saya kini tinggal di desa, mungkin ada enam atau tujuh tahun lamanya. tiba-tiba ada rasa kangen untuk kembali ke kota (jakarta) sebab di sana banyak sekali kenangan yang terukir di sana. banyak teman saya yang menjadi warga tetap jakarta, emoh pulang ke kampung halamannya lagi. dengan alasan karena pekerjaan dan anak istri.

yang menarik dalam hal ini adalah kenangan terjebak dalam kemacetan kendaraan di jalanan. di desa memang tidak ada istilah jalanan macet, lancar terus. saat di jalanan macet, saya punya kesenangan yaitu melamun. saat itu, andaikan saya di desa tentunya tidak harus berdiri berjam-jam di dalam mobil sambil menunggu antrean mobil habis.

bercita-cita, kalau di desa akan begini dan akan begitu sehingga kehidupan di desa akan lebih baik dengan bekal pengetahuan orang kota. ternyata ketika kembali ke desa, saya menjadi gagap dan tidak berdaya. desa secara kulutral lebih baik tapi ilmu yang kita miliki tidak dapat terserap dan tersalurkan dengan baik. bahkan rasa prustasi pun kian menghinggap.

betapa tidak, kota dan desa berbeda. baik dari aspek sosial, ekonomi, politik dan pertahanan keamanannya. namun demikian, toh desa sangat membutuhkan pengetahuan yang dimiliki orang kota. hanya bagaimana mengimplementasikannya supaya kehidupan di desa lebih baik dari sekarang?

desa membutuhkan tangan-tangan terampil untuk menghidupkan gerak ekonomi yang mampu menyentuh pembangunan. semakin tinggi volume pembangunannya, maka perekonomian masyarakat  semakin meningkat.

jadi tidak salah apabila para sarjana, usai menimba ilmunya kembali ke kampung halaman dan mengabdikan pengetahuannya terhadap kemajuan desa. mungkinkah?***

Iklan

Cipanas Ciniru Kurang Mendapatkan Perhatian Pemkab

30 Sep


 cipanas-ciniru.jpg

Foto AJUN MAHRUDIN

Keterangan gambar : Sekelompok orang tengah  mandi di Cipanas Ciniru yang dikenal  dengan air panasnya dan  memiliki khasiat  untuk pengobatan pelbagai jenis penyakit.***

=================================================

Sumber air panas atau biasa disebut Cipanas yang ada di Kab. Kuningan demikian banyak, dan manfaatnya sudah dirasakan oleh khalayak. Sebut saja Cipanas yang terdapat di Desa Sangkanurip Kec. Cilimus, lembah Cilengkrang Desa Pajambon Kec. Kramatmulya, di  Desa Cibingbin Kec. Cibingbin, Desa Ciniru Kec. Ciniru  serta Cipanas di Desa Ciniru Kec. Jalaksana.

Cipanas yang telah ditata dan menghasilkan pajak serta retribusi baru Cipanas di Desa Sangkanurip. Sedangkan di tempat lain belum ditangani secara optimal. Entah alasannya  apa, Pemkab hanya memanfaatkan satu sumber air panas saja sementara di empat lain dibiarkan tidak terawat.

Seperti Cipanas yang terdapat di tanah bengkok Desa Ciniru Kec. Jalaksana, keberadaannya sangat memerihatinkan dan tidak mendapatkan perhatian serius dari Pemkab Kuningan. Tidak ada fasilitas pendukung seperti ruangan tertutup atau kamar, alat pengaturan supaya air tidak terlalu panas atau tidak terlalu dingin untuk kenyamanan para pengunjung. Jangankan ruangan dan alat pengatur, tempat menyimpan pakaian saja tidak ditemui, padahal sarana itu dibutuhkan.

Mengunjungi  Cipanas dari dekat, letaknya tidak jauh dari  jalan raya  Kuningan-Cirebon,  tepatnya di Padamenak, bisa naik ojeg, jalan kaki atau membawa kendaraan peribadi. Dari Padamenak ke lokasi jauhnya sekira 1 KM ke arah timur. Jalannya sudah diaspal, meski ada lubangnya namun tidak terlalu parah masih bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat.

Tempatnya tidak pernah sepi pengunjung, mulai dari subuh hingga ketemu subuh lagi, pasti ada orang sedang mandi. Seperti sudah konsensus umum, jika pagi hari yang mandi  di sana mayoritas perempuan, siang sampai sore anak-anak dan remaja, malam hari digunakan pemuda serta orang tua.

Pemandian Cipanas tidaklah luas, ukurannya sekira 3 X 4  meter. Samping kiri kanan penggunakan batu kali yang disusun setinggi 1,5 M. Air yang ke luar hanya satu sumber mata air dalam tanah, terasa panas menggigit kulit disertai bau belerang. Namun tidak terlalu menyengat. Depan Cipanas terdapat Kali Cimanis yang tidak pernah kering meski musim kemarau.

Sumber mata airnya tidak terlalu besar, seukuran lengan bayi, airnya bergolak dari dalam tanah, dan ditampung dalam gombongan, lalu disiuk dengan kaleng. Yang mandi tidak sendirian namun dilakukan secara beramai-ramai. Mereka bergerombol di dekat gombongan. Padahal tidak saling mengenal dan tanpa risih menanggalkan pakainnya.

Satu rombongan bisa terdapat 4 sampai 6 orang, dan mengaku dari berbagai daerah di Kab. Kuningan. Ada yang berasal dari Kel. Cigugur, Desa Ragawacana, Manis Kidul, Sukamukti, Cilowa bahkan dari luar daerah seperti Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bandung dan Jakarta. Alasan mereka mandi di Cipanas berbeda-beda. Ada yang menginginkan penyakitnya sembuh, memperoleh jodoh serta diberi kemudahan rejeki.

Seperti dituturkan Enah (70) warga Desa Nanggerang Kec. Jalaksana yang mengaku anak dari Madja, salah seorang Wedana di Kuningan jaman Belanda. Cipanas merupakan   pemandian yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit menahun dan oleh dokter dinyatakan tidak dapat disembuhkan. Selain itu dimitoskan oleh masyarakat bahwa setiap mandi malam jum’at kliwon akan memperoleh kemudahan rejeki dan bagi yang belum mendapatkan jodoh akan terkabul.

Salah satu contoh, tutur Enah, ada orang Jakarta, namanya  lupa lagi, anaknya menderita lumpuh, dan telah berobat ke sana kemari serta menghabiskan biaya ratusan juta namun tidak kunjung sembuh. Setelah mendengar informasi yang berasal dari mulut ke mulut, ia datang ke Cipanas. Setelah dua bulan menjalani terapi hasilnya menggembirakan, anak yang tadinya lumpuh dapat berjalan secara normal.

“Kepercayaan masyarakat sekitar Cipanas tumbuh secara turun temurun dan diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu ada mitos dapat memudahkan rejeki  serta  jodoh. Adanya keyakinan seperti, Cipanas tidak sepi pengunjung, apalagi tidak ada yang memungut tiket masuk,” ucapnya.

Ramainya pengunjung tidak sekarang saja, tutur Enah, sejak  tahun 1960-an pun Cipanas sering dikunjungi orang. Dulu, tempatnya rimbun oleh pepohonan yang usianya ratusan tahun dan di sisi kanan jalan terdapat batu besar, oleh orang yang sudah mandi di Cipanas akan ditaruh uang logam diatasnya.

Namun sekarang, kondisinya demikian memerihatinkan pohon ratusan tahun kini sudah tidak ada, begitu pula batu di pinggir jalan sudah raib. Dengan demikian, aspek wisatanya mulai memudar, salah satu sisi yang menarik selain air panasnya yakni kerindangan pohon serta hawanya sejuk, nyaman untuk rekreasi  keluarga.(***)

Hutang PDAM Tidak Jelas Juntrungannya

29 Sep

djoko-kirmanto.jpg

Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto di Kabupaten Kuningan atau tepatnya di Gedung Naskah Perjanjian Linggajati di Desa Linggarjati Kecamatan Cilimus mengungkapkan bahwa rencana pembangunan jangka menengah nasional (RJPM) 2005-2009 sasaran pembangunan bidan air minum diarahkan untuk perluasan pelayanan dengan sistem perpipaan.

Secara nasional, totalnya menjadi 40 persen yang meliputi cakupan layanan perpipaan 66 persen di perkotaan dan 30 persen di pedesaan. Selain itu, pemerintah pusat telah menandatangani kesepakatan millenium development goals (MDG) untuk mengurangi separuh jumlah penduduk yang belum memiliki akses air bersih. Hal tersebut diimplementasikan dalam peraturan pemerintah (PP) No 16/2995 tentang pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM).

Guna menindaklanjuti persoalan air di Indonesia, secara operasional telah ditetapkan melalui peraturan mentri PU (Permn PU). Diantaranya Permen PU No. 294/PRT/M2005 tentang badan pendukung pengembangan sisteim air minum. Permen Keu No. 107/PMK.06/2005 tentang penyelesaian Piutang PDAM.

Pada kesempatan itu, Djoko Kirmanto menjelaskan bahwa dana pemerntah pusat dan daerah diperioritaskan untuk pengembangan air minum dan sanitasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah terutama di kawasan permukiman kumuh di perkotaan dan nelayan. Kota sedang dan kecil (ibu kota kecamatan) yang belum memunyai sisteim air minum terumata bagi kawasan rawan air.

Pada kesempatan sama, beberapa elemen masyarakat di Kabupaten Kuningan memertanyakan tentang keuangan PDAM Kabupaten Kuningan. Pasalnya, selama ini alibi yang diketengahkan selalu merugi. Sehingga tidak mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Juga hutang yang dikucurkan pemerintah pusat sekitar 1,5 Milyar sampai saat ini belum ada realiasi pembayarannya.

Tahun 2005, pernah dinyatakan bahwa hutang PDAM tengah ditangani oleh pemerintah pusat. Dan diakui oleh pengelola PDAM saat itu masih menunggak sekitar 1,5 Milyar. Namun kurun waktu tiga tahun itu belum ada tanda-tanda penyelesaian utang. Baik yang dilakukan oleh manajemen PDAM maupun Pemkab Kuningan. Padahal menurut informasi di lapangan.

PDAM, selaku jasa penyedia air bersih di Kabupaten Kuningan tidak pernah berhenti memungut atau meminta pelanggannya memberhentikan pembayaran. Setiap bulannya pun PDAM tetap saja memungut. Artinya, uang dari pelanggan tetap masuk ke kas PDAM. Namun pertanyaannya kenapa selalu merugi. Belum lagi komplain dari pelanggan yang kurang di tanggapi.

Contoh kecilnya, saat kemarau pihak PDAM yang kehabisan stok air tidak berupaya menyediakan air untuk masyarakat atau pelanggan. Kesulitan air itu kerap dirasakan oleh pelanggan khususnya di Kecamatan Kuningan seperti Kelurahan Purwawinangun, Cijoho, dan Perumnas Ciporang. Atas persoalan-persoalan di atas, selayaknya Badan Pengawas Daerah (Bawasda) melakukan audit keuangan PDAM.

Hasil audit tersebut harus dilaporkan ke masyarakat selain bupati selaku pemegang otoritas. Tujuannya, pelanggan harus mengetahui secara pasti kondisi keuangan PDAM apakah terjadi surplus atau sebaliknya. Sikap tansfaran ini akan mendorong masyarakat untuk lebih proaktif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang melingkupinya. Bukan sebaliknya selalu ditutup-tutupi.***

FOTO Rapat DKK

28 Sep

dkk-sawala.jpg

========================================

Keterangan Gambar

Dewan Kesenian Kuningan (DKK), tengah melakukan rapat dengan pengurus lainnya untuk melaksanakan kegiatan di penghujung tahun 2007. Agenda yang akan dilaksanakan yaitu Festival Film Pelajar (FFP) se Kabupaten Kuningan dan Festival Dalang Cilik. Latar belakang kegiatan ini yakni produktifitas anak-anak sekolah dalam mengekspresikan kreatifitas seni di bidang sinematografinya sudah cukup bagus. Hanya pengembangan atau wadah yang menampung aspirasi mereka belum ada. Sedangkan festival dalang cilik merupakan gugahan baru terhadap kesenian tradisional yang kini hampir punah di ranah Kuningan.***

Ngokolakeun Desa Kudu Domkratis jeung Transfaran

28 Sep

Nyanghareupan otonomi desa (Otdes) sakuduna kapala desa (Kades) boga anleh dina ngokolakeun pamarentah desana sacara demokratis, transfaran jeung partisifatif. Cara samodel eta, kudu diigelan ku pangladen nu leuwih  ti misti. Eta hal mangrupakeun inti pasualan dina ngalaksanakeun gawena nu nyoko kana kapentingan rahayatna. Lain sabalikna.

“Kuring nandeskeun, pamarentah desa mangrupakeun ujung tombak pamarentah nu langsung adu hareupan jeung dinamika masarakatna. Kangaranan jadi ujung tombak, tangtuna kinerja aparaturna luyu jeung alam reformasi kiwari.” ceuk H. Aang Hamid Suganda, Bupati Kuningan dina acara ngaistrenan 41 Kades nu anyar-anyar ieu kapeto jadi Kades di desana sewang-sewangan.

Dina kasempetan eta, bupati miharep, sangkan aparatur desa boga kaparigelan dina nyieun peraturan desa (Perdes) bu bisa dijadikeun tatapakan gawena. Ningkatkeun gawe sauyunan jeung lembaga desa liana. Diantarana badan permusyawaratan desa (BPD), karang taruna, lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM), PKK jeung RT/RW. Pon kitu deui dina narekahan pendapatan asli desa (PADes).

Salian ti eta, bupati mere gambaran pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kuningan 2008. Kuningan dina taun eta baris nyieun tutunggul sajarah ku ayana Pilkada sacara langsung milih bupati jeung wakilna. Pilkada teh, mangrupakeun lengkah strategis pikeun laju pangwangunan lima taun ka hareup. Inyana boga kayakinan, masarakat Kuningan mibanda sikep mandiri.

“Ku kituna, ka hareupna, rea keneh tugas jeung tangtangan nu kudu dipaju dina raraga ngawangun Kabupaten Kuningan. Dina kasempetan ieu, kuring miharep hayu urang silih rojong keur mahikikeun komitmen. Ceuk babasan sarendeuk, saigel sapihanean. Ka cai jadi saleuwi, ka darat salogak mah kawasna ngabdi ka lemah cai keur karaharjaan masarakat bisa ngawujud,” pokna.

Sandi Kartanagara, pangurus Forum Telaah Kajian Daerah (F-Tekad) nyebutkeun Otdes saluyu jeung UU No. 32/2004 kudu boga kaparigelan dina ngokolakeun desana. Salila ieu, desa ngagumantung kana kocoran anggaran ti Pemkab jeung swadaya murni masarakat. Padahal desa boga potensi keur ngamekarkeun pangwangunanana, ngan tacan kageroh sacara daria.

“Ku ayana UU 32, desa teu bisa diutuh-etah deui ku birokrasi nu leuwih luhur. Ayeuna mah kari prungna bae, naha desa bisa mandiri atawa henteu? Lamun angger bae, eta mah pasualan SDM-na (sumber daya manusia-red). Keur ngungkulan pasualan SDM, sakuduna aya advokasi (bantuan hukum-red) boh ti LSM atawa lembaga-lembaga sejena keur pemberdayaan masarakat desa,” pokna.

Advokasi, ceuk Sandi, penting pisan. Sabab salila ieu desa ngan dijadikeun leuit bae. Ari pangwangunan kudu tapi kokocoran dana-na dicocokan. Nu matak teu aneh lamun kahirupan di desa teu daek menyat. Inyana mere conto, Pemkab Kuningan kiwari keur ngahangkeutkeun indek pembangunan mutu (IPM) dina widang atikan, kasehatan jeung ekonomi.

Masarakat desa teu sakabehna jugala, tur bisa mayar beaya sakola, pon kitu deui barang beuli kadaharan nu boga gizi. Salian ti sakola formal aya oge non formal, masarakat nganggur jeung boga kasab. Tina dua pasualan eta, kumaha ketakna pamarentah? Naha bisa ngungkulanana ku cara ngahangkeutkeun sakola non formal atawa nyadiakeun tempat usaha?

“Kuring oge ngaku, yen atikan formal mah meunang perhatian daria, eta hal ditembongkeun dina anggaran APBD. Tapi kuring tacan maca, rengkol angkana keur ngahangkeutkeun jalma nu teu boga pakasaban. Boh nu nganggur sacara kultural atawa tersistematis. Aya oge dana pelatihan keur nu nganggur, tapi lamun dianalisis, naha nu di sakola formal kudu milu pelatihan deui? Apan geus dianggap boga kaparigelan dina widangna.”

Dina pasualan ieu, ceuk Sandi, Kades boga anleh. Sabab di desa nu nganggur jeung nu teu sakola katangen pisan. Saumpamana dihare-harekeun bae, tangtuna baris mucunghul pasualan anyar. Boh nu disebutkeun panyakit sosial, ekonomi atawa pulitik di desa. Temahna, Kades keneh nu jadi paneumbleuhan. Balukarna lain bae bisa ngawangun malah sabalikna di desa jadi hareudang.***

Talaga Reumis Titinggal Prabu Siliwangi

26 Sep

talaga-reumis-1.jpg

=============================================

Talaga Reumis, nu perenahna di Desa Kaduela Kacamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan kawasna geus teu birek deui keur masarakar di Kab/Kota Cirebon, Majalengka jeung Indramayu. Dalah ti Sumedang, Bandung jeung Kab. Brebes atawa Tegal sok nyejakeun datang, ngadon pakansi di eta lelewek. Komo mangsa liburan, kawas poe minggu, idul fitri, idul adha atawa liburan sakola jalma teh mani ngaleut ngabandaleut. Teu sirikna heurin usik teh lain bobohongan. Ti jalan nu muru Talaga Reumis, nepi ka lokasi sok padedet ku mobil jeung motor. Boh nu rek asup atawa ka luar objek wisata. Memang teu aneh, lamun Talaga Reumis pada ngadeugdeug. Boh ti suklakna atawa ti siklukna sabab patempatanana matak pikabetaheun. Hawana tiis, tatangkalan pines paselang jeung kiara rada buni keneh. Di tengah-tengah objek wisata, aya talaga rada ngahunyur panjangna kira-kira saratus salawe meter. Sedengkeun lebarna kurang leuwih salapan puluh meteran.Saumpamana urang diuk di Talaga Reumis bari ngumbar paninengan, karasa wararas. Eta hal kungsi ditepikeun dina rumapaka lagu menang nga-aransemen Nano S. Nu matak teu aneh, nu daratang teh rereana kaom rumaja. Anu keur sumedeng mangkak, ku asmara. “Tempatna memang romantis,” ceuk Eva Widiyanti (27) salah saurang pengunjung nu asalna ti Kacamatan Ciawigebang.Sapaliwatan mah taya nu aneh, di Talaga Reumis teh. Kawas objek wisata di daerah sejena. Tapi seug ditengetan leuwih gemet, Talaga Reumis memang rada mahiwal. Sakuriling bungkingna teh bisa disebutkeun leuweung batu. Anehna deui, tangkal pines atawa kiara tumuwuhna di luhureun batu. Lain dina taneuh. Jenis batuna mah teu beda jauh jeung nu aya di Kacamatan Cigugur, batu mayasih.Sair (28) warga Desa Kaduela nyebutkeun yen pasir nu sapunggungan jeung Talaga Reumis kaasup tepis wiring Gunung Cireme. Ti mimiti Desa Padabeunghar Kacamatan Pasawahan keneh, kaasup leuweung batu. Ngan batuna rada beda jeung nu aya di Talaga Reumis. Ari di Padabeunghar mah kaasup batu kali. Nu kiwari tempatna ku Pemkab Kuningan rek dijieun kebon raya.Nu matak teu aneh, lamun kakayona di lelewek eta kebeuleum unggal taun mangsa halodo entak-entakan. Lamun ditingali ti Cirebon ngagelemeng hideung. Atuda kasebutna kakayon jadi gampang kabeuleum. Keur mah batuna kasorot panonpoe, lamun panas teuing sok ngaluarkeun seuneu. Tapi ti Padabeunghar ka lebak (Talaga Reumis-red) arang langka kahuruan. Kajeun sakumaha ngabeletrakna oge. Padahal sarua keneh, leuweung batu nu rembet kakayon. Memang lamun di tingali ti Desa Padabeunghar, Talaga Reumis teh, ngan saguliwek nu pinuh ka tangkal pines. Sedengkeun sabudeureunana kaasup savana (kebon jukut). Tempatna gahgar, asa musthil lamun aya cai. Komo mun di tengah-tengahna aya talaga, asana teh teu asup akal. Rek ti mana aya caina?Memang di Desa Kaduelana mah aya cai, samalah aya balong dalem sagala. Mirip jeung nu di Cibulan. Ceuk kapercayaan masarakat di eta lelewek, situna meunang nyieun Rama Haji Irengan. Nu kawentar nyieun tujuh balong dalem dina sapeuting. Diantarana balong dalem Darmaloka, Cigugur, Ragawacana ka ereh ka Kacamatan Karamatmulya, Jalaksana, jeung Cibulan di Kacamatan Jalaksana.Asna, salah saurang patugas Perhutani Jawa Barat nu ditugaskeun di Talaga Reumis nyebutkeun. Memang teu asup akal, di tempat gahgar, samodel di Talaga Reumis aya talagaan. Jeungna deui, cai dina talaga tacan kungsi orot mangsa katiga entak-entakan. Pon kitu deui mangsa rendeng, caina teu ngareaan nepi ka leber. Ti baheulana nepi ka kiwari debit caina teu ngurangan atawa ngaleuwihan.“Samemehna mah kuring oge teu ngarti. Ngan lila-lia, rea kokolot lembur boh nu aya di Kaduela atawa di Desa Cisaat Kabupaten Cirebon (daerah tapel wates Kuningan-Cirebon-red) nyarita ka kuring. Yen Talaga Reumis teh dijieuna ku Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran,” ceuk Asna.Sambung Asna, mangsa Prabu Siliwangi atawa Sri Baduga Maharaja, Prabu Niskala Wastu Kancana masih nanjung, remen ka Talaga Reumis. Niatna ngadon tatapa atawa titirah di leuweung batu. Kajeun disebutna leuweung batu tapi tempatna matak pikabetaheun. Salian ngadon titirah, anjeuna sakaligus ngontrol daerah kakawasaanana. Atawa ngahajakeun nepungan dulur-dulurna nu aya di Cirebon jeung Kuningan.Diantarana bae nepungan kapi uwana, nya eta Bratalegawa atawa Haji Purwa (adi beuteungna Prabu Maharaja Linggabuwanawisesa nu palastra dina perang bubat. Anjeuna nu mimiti ngagem agama Islam di Karajaan Galuh tur leuwih milih jadi sudagar tinimbang ngurus karajaan) jeung Ki Gedeng Kasmaya (kuwu munggaran di Cirebon. Kiwari disebutna Embah Kuwu Cirebon Girang atawa Embah Kuwu Sangkan-red) nu ngalelemah Nagari Caruban (Cirebon-red).Samemehna, ceuk Asna, di lelewek eta taya talaga. Nu aya teh leuweung batu bae. Mangsa harita, Prabu Siliwangi ngarasa hanaang satutasna tapa. Kulantaran taya cai, kapaksa anjeuna mulungan cai nu aya dina dangdaunan jeung jujukutan. Kucara ditekoran ku daun cau. Geus sababaraha rintakan, nekoran caina, aya sesa cai. Tah sesa cai eta dialungkeun kana sela-sela batu bari dibasaan.

 

“Lamun ayeuna mah basana teh kieu, eta cai reumis nu urut nulungan kaula, jaga ning geto baris ngalengkob jadi talaga. Anu pada ngadeugdeug ti mana mendi. Tah duka kumaha mimitina, kuring oge teu pati apal. Ujug-ujug cai reumis nu teu kaarah teh jadi sungapan. Nepi ngalengkob jadi talaga, kawas kiwari. Lantaran aya basa yen talaga teh sungapan caina tina reumis nya antukna disebut Talaga Reumis,” pokna.***

 

(sumber Koran Sunda Galura)

Petani Tembakau

26 Sep

Petani tembakau di Kecamatan Lebakwangi dan Maleber, Kab. Kuningan akan memperoleh kucuran dana dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kuningan sebagai upaya peningkatan produksi serta mutu tembakau yang mempunyai daya saing dipasaran global. Kucuran dana yang berasal dari APBD Tahun 2005, sekira Rp. 50 juta itu diharapkan dapat merangsang petani tembakau agar mampu membudidayakan tembakau jenis Darma yang sudah mampu bersaing di pasar regional Jawa Barat.
Menurut keterangan Ir. Dudi Usmadi, Kabid Produksi Dinas Hutbun Kuningan saat ditemui di ruang kerjanya. Masyarakat petani di Kuningan, sebetulnya tidak mempunyai tradisi menanam tembakau. Pasalnya tanaman tembakau harus berada pada ketinggian kurang lebih 700 dpl di atas permukaan laut, suhu sekira 25 sampai 28 derajat. Mungkin kerena daerahnya dianggap kurang memenuhi persyaratan, kata Dudi, para petani di Kab. Kuningan secara umum terpola untuk menanam padi, kacang-kacangan, serta umbi-umbian.
Pola bertani yang berlangsung lama itu, sangat sulit dirubah sehingga perlu reorientasi terlebih dahulu. Selain kesulitan mengubah orientasi petani, juga daerah yang cocok untuk menanam tembakau sangat sulit, sehingga pihak Pemkab perlu turun tangan. Setelah melakukan survey,ditemukanlah daerah yang cocok untuk dijadikan “pilot projek” yaitu Desa Karangsari dan Gunung Sirah Kec. Darma. Dua desa ini sangat cocok untuk menanam tembakau, letak daerahnya 700 dpl diatas permukaan laut dan suhunya relatif stabil antara 27 sampai 30 derajat.
“Setelah melakukan reoreintasi kepada para petani di Desa Karangsari dan Gunung Sirah, ternyata mereka sanggup menanamnya dan ternyata berhasil. Hanya saat itu tembakau yang dibudidayakan adalah tembakau lokal. ” papar Dudi.
Bertitik tolak dari pengalaman itu, kata Dudi, pihaknya terus melakukan pembudidayaan tembakau lokal dan hasilnya cukup menggembirakan, mendapatkan sambutan dari berbagai pihak. Atas keberhasilan itu, diperoleh nama tembakau jenis Darma, sesuai dengan nama daerah yang pertama kali mempopulerkannya. Tembakau jenis Darma dikembangkan pula ke wilayah lain seperti Kec. Lebakwangi dan Maleber, hasilnya cukup menggembirakan.
“Tembakau jenis Darma sangat disukai pasar karena aromanya, serta rasanya tidak sengak atau membuat batuk,” ucapnya tanpa bermaksud promosi.
Pasar yang sudah mempercayai tembakau jenis Darma dan mampu menyerap dalam oplah tinggi baru pasar Tanjungsari Kab. Sumedang. Namun masih perlu upaya untuk mempertahankan kondisi pasar yang sudah diraih karena persaingan tembakau sangat ketat.
“Tembakau yang selalu menjadi tolok ukur di pasar dunia adalah tembakau jenis Virginia. Sementara tembakau lokal baru dikonsumsi oleh pabrik rokok lokal. Supaya mampu bersaing, tentunya para petani tembakau di Kec. Lebakwangi dan Maleber perlu dibantu, dan pihak Pemkab telah mengalokasikan dana sebesar Rp. 50 juta,” tandas Dudi.***