29 Agu

Ketika Petani Gagal Panen,

Oleh : DIDIN SYAFARUDIN

Sungguh ironis saat musim penghujan belum usai. Namun dibeberapa beberapa warga masyarakat di Desa Cikubangmulya Kecamatan Ciawigebang mengalami gagal panen akibat kekeringan dan diserang hama wereng sendep. Sedikitnya 50 hektar dari 130 hektar tanaman padi tidak bisa dinikmati masyarakat.

Kerugian yang dialami parapetani, tidak saja biaya penanaman, pemeliharaan dan pupuk. Juga tenaga dan pikiran. Lebih parah lagi, selayaknya parapetani memeroleh keuntungan dari hasil tanam guna meningkatkan ekonominya. Ternyata semakin menempurukan mereka pada jurang kemiskinan.

Artinya penanaman yang menghabiskan kurang lebih tiga bulan, dan diharapkan dapat memeroleh modal dibulan berikutnya, kenyataannya harus gigit jari. Hal ini pun berdampak terhadap sirkulasi ekonomi secara umum di desa tersebut. Pasalnya siapa yang menanggung kerugian itu?

Andaikan saja, Pemkab Kuningan melalui Dinas Pertanian mau mengambil kerugian itu dengan mengeluarkan subsidi. Mungkin kerugian yang diderita parapetani akan berkurang. Mereka bisa menanam kembali padi untuk dipetik hasilnya tiga bulan di muka. Namun apakah keberanian untuk mendahulukan kepentingan rakyatnya dapat direaliasikan?

Tapi sebaliknya, jika Dinas Pertanian tidak mau mengeluarkan subsidi. Baik subsidi bibit, dan pupuk tentunya penderitaan panjang akan dirasakan masyarakat Cikubangmulya. Mungkin hampir enam bulan mereka akan kesulitan ekonomi karena terjadinya penambahan modal untuk menggarap sawah. Sedang keuntungan belum tentu diperoleh di enam bulan kemudian.

Menurut Kepala Desa Cikubangmulya, Warjo,  puso merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan karena di desa tidak ada yang bisa di kerjakan.Untuk menggarap lahan yang terkena puso harus menunggu datangnya musim penghujan.

“Gagal penen ini karena perubahan cuaca tahun ini yang tidak dapat diprediksi,” ungkapnya. Untungnya dari lahan seluas 130 hektar tersebut hanya 50 hektar lanjut Warjo, kalau semuanya terkena puso akan menimbulkan rawan pangan di desa yang rata-rata panen padi satu kali ini. Padahal kendati lokasi kesulitan air namun jarang terkena puso hanya tahun ini saja.

“Sudah menjadi pemandangan dan hal yang biasa di desa kami apabila para petani pulang dari ladang menangis, kerena meratapi kondisi lahan pertaniannya,” katanya lagi.  

terjadinya puso ini kerugian bukan hanya dirasakan oleh masyarakat tetapi juga oleh pemerintah Desa karena setiap hasil panen masyarakat. Desa dapat bagian 15 Kg yang peruntukan buat adat desa. Beras 15 Kg tersebut untuk menggaji para pegawai desa seperti hansip, penjaga malam dan lain-lain.

Kejadian gagal panen di desa yang perbenduduk 2.797 jiwa ini sudah dilaporkan kepada kepada Dinas Pertanian Kuningan, namun dinas tersebut tidak bisa berbuat banyak selain membasmi dulu hama juga menunggu datangnya musim penghujan. Sehingga ketika diberikan bibit padi masyarakat tinggal menanamnya.**       


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: