Arsip | Agustus, 2007

Al Hidayah Lakukan Pembinaan Masyarakat

31 Agu

al-hidayah.jpgOleh : DIDIN SYAFARUDIN

Organisasi keagamaan Al Hidayah, merupakan organisasi underbown Partai Golkar kiprahnya selama ini belum diketahui masyarakat Kabupaten Kuningan secara luas. Namanya jarang disebut-sebut, berbeda seperti organisasi keagamaan lainnya diantaranya GP Ansor, BKPRMI maupun Muhamadyah. Padahal Al Hidayah kiprahnya telah memberikan konstribusi positif terhadap pertumbuhan spiritual keagamaan di Kabupaten Kuningan.

Larasati Wiluyo, pemimpin Al Hidayah, merupakan sosok pekerja keras. Organisasinya diberdayakan dengan menyelenggarakan pengajian di seantero wilayah Kuningan, seminggu sekali. Pengajiannya tidak berada satu tempat saja, tapi dikerjakan secara berkeliling. Dari satu desa ke desa lainnya. Hal ini membuat organisasi Al Hidayah secara akar rumput sangat kuat.

Pengembangan AL Hidayah, tidak saja melalui da’wah keagamaan tapi terus kiprahnya melebar. Tapi tidak lepas dari sisi spiritualnya. Al Hidayah, di bawah komando Larasati Wiluyo mengembangkan sayap di bidang sosial kemasyarakatan. Tujuannya melakukan pemberdayaan. Diantaranya menyelenggarakan pembinaan Pos Yandu, Fungsional Keaksaraan.

Pembinaan Pos Yandu, salah satu alasan yang dikemukakan Larasati Wiluyo bahwa “Banyaknya masyarakat Kabupaten Kuningan yang perlu mendapat perhatian serius. Terutama bagi anak-anak di bawah lima tahun (Balita) sebab Balita merupakan generasi penerus yang nantinya akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) lebih baik dari sekarang,” ungkapnya.

Jika generasi penerus, sambung Larasati, tidak dibina sejak dini. Mulai dari perbaikan gizi, tambahan suplemen dan mendorong peningkatan ekonomi keluarganya. Tentunya out pun yang dihasilkan akan baik. Jika tidak ada pembinaan maka out putnya pun tidak akan menghasilkan yang baik. Di sadarinya, perekonomian masyarakat sekarang tengah terhimpit.

Sehingga masyarakat dalam skala kecil belum mampu menyediakan sandang yang memiliki nilai gizi sesuai harapan. Supaya keberlangsungan generasi terus berkesinambungan maka pihaknya berkreasi dengan melakukan pembinaan terhadap Pos Yandu yang ada di desa-desa. Paska, pembinaan hasilnya gizi buruk yang ditemukan di masyarakat dapat diminimalisir.

Selain itu, Al Hidayah juga melakukan pembinaan terhadap anak-anak usia sekolah dengan program Fungsional Keaksaraan (FK). Pusat pembinaan FK, untuk sementara di pusatkan di Desa Cibinuang Kecamatan Kuningan. Larasati dalam kegiatan itu sebagai Tutor.***

Iklan

Rakyat Jangan Dijadikan Komoditas Politik

30 Agu

rudi-2.jpgRakyat Jangan Dijadikan Komoditas Politik

Harapan beberapa elemen mahasiswa dan masyarakat Kab. Kuningan, menjelang pemilihan gubernur secara langsung (Pilgubsung) Jawa Barat, Maret 2008, rakyat jangan dijadikan komoditas politik. Hal tersebut terlontar dalam dialog sosialisasi bakal calon gubernur (Balongup) yang diusung PDIP Jabar, Rudi Harsa Tanaya.

Pasalnya, paska reformasi yang menghasilkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah BAB IV, bagian kedelapan mengenai pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah pasal 56 di terangkan, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

Selanjutna, pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Dilanjutkan pada pasal Pasal 57 yaitu pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggungjawab kepada DPRD.

“UU itu, menghasilkan hegemoni partai yang luar biasa dalam meraih kekuasaan. Baik yang terjadi di pusat maupun daerah. Sehingga partai terjebak dalam lingkaran kekuasaan tanpa mampuh menyelesaikan persoalan urgen yang melanda masyarakat sejak krisis ekonomi (Krismon) 1998,” ungkap Agip, Ketua Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kab. Kuningan.

Ujung-ujungnya, sambung Agip, rakyat menjadi santapan empuk partai politik untuk meraih kekuasaan. Baik oleh legislatif maupun eksekutif dalam pemilu presiden, dan sekarang pemilihan kepala daerah. Namun kondisi rakyat tetap saja termarjinalkan dari aspek ekonomi, sosial, politik maupun kebijakan yang implementasinya tidak menguntungkan rakyat.

Uha Juhana, mantan Ketua GMNI Kab. Kuningan mengutarakan, selama ini kebangsaan “tersembunyi” mulai marak di tengah-tengah masyarakat. Dampaknya nilai-nilai kebangsaan yang dibangun selama ini tampak compang-camping. Hal ini pun perlu perhatian serius. Supaya Pancasila dan UUD ‘45 sejalan dalam kebineka tunggal ikaannya.

Rudi Harsa Tanaya, menanggapi persoalan ekonomi dan kebangsaan yang dilontarkan audience dengan sigap. “Dalam sosialiasai Cagup, saya diusung 25 DPC PDIP se Jabar, ingin berpartisifasi dalam pembangunan Jabar ke depan. Persoalan ekonomi dan kebangsaan sudah dijelaskan dalam platform partai yang mementingkan wong cilik dan menjaga kedaulatan NKRI,” tandasnya.

Sosialisasi ini, kata Rudi, untuk menjaring aspirasi masyarakat, apakah dirinya diterima atau tidak? Jika tidak, secara lapang dada akan parkir dan memersilahkan orang yang kapabilitasnya tidak ragukan. Kendati demikian, sosialisasi ini akan dilaksanakan seluruh Jabar. Baru wilayah III Cirebon yang sudah selesai. Targetnya 28 Juli beres semua. Setelah itu diadakan evaluasi.

Pada kesempatan itu, ia juga melakukan road show yang didampingi Tresnadi anggota DPRD Jabar dari PDIP, Acep Purnama, SH, Ketua DPC PDIP Kab. Kuningan dan Sekjen Rana Suparman, S.Sos., ke beberapa daerah di Kab. Kuningan. Diantaranya menyerahkan bantun motor ke 32 PAC PDIP se Kab. Kuningan. Bakti sosial dan membuka turnamen sepakbola di Desa Cibinuang Kec. Kuningan dan Rambatan Kec. Ciniru.

“Penyerahan motor, danana berasal dari Fraksi PDIP DPRD Kab. Kuningan. Tujuannya untuk memberikan kemudahan mobilitas PAC dalam menjalankan tugas partai di daerahnya masing-masing,” tegas Rana Suparman.

Sementara Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa dirinya selaku kader partai mendukung Rudi Harsa Tanaya untuk maju dalam Pilgubsung Maret 2008 sebagai Cagup.***

Kita Menjadi Bangsa Yang Kalah

30 Agu

Kita Menjadi Bangsa Yang Kalah

Masyarakat sekarang menyatakan kegelisahannya sudah tidak ada cara lagi yang lebih efektif. Kata orang, cara presure lebih ampuh yakni unjuk rasa, dan seterusnya. Namun ternyata cara seperti itu sekarang, tidak lagi ampuh. Malah ketika ada unjuk rasa, selalu dicibir orang. Jangankan memberikan presure, malah sebaliknya. Kata orang, lebih efektif ditulis di media masa.

Ternyata hal itu juga kurang mendapatkan respon, baik dari pengelola pemerintah maupun elemen masyarakat. Mungkin sekarang bisa dianggap kekebalan tubuh dan isi kepala sudah demikian kebal. Tidak pernah sensitif lagi terhadap keluh kesah masyarakat. Jangankan sensitif, mungkin gatel juga enggak, atau malah memikirkan masyarakat juga enggak.

Dan mungkin saja, yang dipikirkan hanya bagaimana diri kita terbebas dari kemiskinan itu sendiri. Hal yang terjadi kepada masyarakat. Tatanan yang bertahun-tahun dibangun, bagaimana merasakan sikap tepo sliro, senasib dan sepenanggungan. Bagaimana kita diajarkan gotong royong. Begitu pula agama, mengajarkan bagaimana habluminanas dan habluminallah.

Seluruh teori tentang kebaikan kini menjadi teks-teks yang tidak pernah dibaca ulang lagi. Teks-teks itu kini tersimpan di laci meja dan entah kapan lagi akan dibuka secara utuh sempurna. Dikembalikan pada habitatnya bahwa teori kebaikan, bukan semata-mata teori tapi tingkat implementasinya.

Seperti halnya sekarang, masyarakat sedang dihadapkan pada kesulitan beras. Beras harganya terus melambung, bahkan mungkin terlalu mahal untuk ukuran masyarakat Kabupaten Kuningan yang kian terpuruk. Sementara pendapatan semakin minim, bahkan konon menurut kabar sudah hampir lima bulan masyarakat kesulitan memeroleh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kadang kita tidak habis pikir. Konon katanya negara kita, daerah kita adalah daerah agraris. Hidupnya menggantungkan pada hasil-hasil pertanian. Setiap daerah mengklaim bahwa terjadi pertumbuhan signifikan dalam bidang agraris. Sehingga terjadi perkembangan manjadi agribisnis, agrowisata dan seterusnya. Hal itu menjadi buah bibir di setiap kalangan masyarakat.

Namun hasil gembar-gembor itu apa? Ternyata hasilnya nol besar. Bahkan bisa dikatakan di bawah limit minus. Anggapan ini bukan sebuah kenyinyiran, tapi fakta dan realita di lapangan tidak menggambarkan gembar-gembor itu. Sebab fakta dan realitas di lapangan adalah gambaran jujur dari sebuah program kerja. Apakah berhasil atau tidak. Pertanian yang yang menjadi jargon selama ini ternyata hanya lips servis alias pemanis bibir saja.

Buktinya, harga beras begitu mahal di daerah agraris. Padahal daerah agraris tentu harga beras bukan jadi soal karena seluruh masyarakat mampu memroduksi beras dalam jumlah besar dan hasilnya masyarakat tidak harus membeli beras lagi. Andaikan harus membeli harganya pun tidak seperti sekarang. Sekarang diakui atau tidak, masyarakat kita pembeli atau mengonsumsi beras bukan penghasil.

Ketika menjadi konsumen beras, maka beras hanya dimiliki oleh segelintir orang. Beras hanya dikuasi oleh beberapa orang. Nah beberapa orang inilah yang menentukan harga. Jika harga sudah ditentukan, tentunya masyarakat sebagai konsumen harus mematuhi kehendak si pemilik. Maka harga beras setinggi langit pun harus dibeli, karena masyarakat kita memang belum mampu menggati beras dengan barang lainnya.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah ternyata tidak berdaya dengan realitas di lapangan bahwa beras memang sudah menjadi barang lux. Beras sebagai impian dari program swasembada pangan yang konon katanya telah berhasil. Negara kita penghasil beras dan kerap menjadi importir beras. Namun kenyataan sekarang, kita menjadi pengimpor beras kelas utama.

Kita kalah dari Vietnam, kita kalah dari Philipina, begitu pun Singapura yang tidak memiliki lahan pertanian. Kita sekarang telah menjadi bangsa yang kalah di segala bidang. Bangsa kita memang tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain di dunia. Jangankan di dunia, di asia tenggara saja. Kita sudah kedodoran, tidak mampu menyejajarkan secara sempurna.***

SAHABAT SEDUSUN

30 Agu

Kadang kita kangen masa lalu kita. Kadang kita kangen pada kehidupan yang tidak diketemukan lagi di masa kini. Katakanlah kita kangen sama penganan berenyit, belut (lindung) atau kita memang teringat cerita di bawah pohon ketapang. Semuanya menyimpan cerita yang pribadi banget. Sebuah kenangan, jika dibagi-bagi kepihak lain menjadi lebih indah. Lebih menarik, karena memori kita tersedot untuk mengenangnya kembali. Seperti puisi yang hadir diantara keindahan jiwa kita.

Sama temen-temen se Dusun yang ingin curhat atau ingin mengingat kembali masa kecil kitu bisa menuliskan kenangannya di sini……..

Carangka “Karamat” Kari Rangkayna

30 Agu

Carangka “Karamat” Kari Rangkayna

 

URANG Desa Cikadu, Kacamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, nyarebutna teh Carangka “Dedek Merang”, wadah huut, jajabah pare), ngaran pikeun hiji carangka nu dianggap pusaka sarta ngandung karamat.

Eta carangka teh, cenah, minangka warisan ti salasaurang karuhunna, nu kungsi ngaheuyeuk masarakat di eta daerah. Ngan saurang oge taya nu apaleun ngeunaan saha-sahana nu baheula boga eta carangka. Dianggap karamat soteh ku sabab ngandung sajarah nu aya pakuat-pakaitna jeung Desa Cikadu.

Nurutkeun ujaring carita, baheula basa mimiti ngadegna Desa Cikadu, beunang disebutkeun hese neangan jalma nu daek pikeun dijadikeun ngabehi (Kaur Pamarentahan). Nya dina hiji mangsa, aya lalaki ngaliwat mawa carangka, tayohna mah rek ngarit ka kebon.

Satulyna, ku kokolot desa, eta lalaki teh dipegat sarta dipenta sangkan daek dijadikeun Ngabehi. Nya inyana kaligane (ujug-ujug) nyanggupan sarta harita keneh diistrenan jadi Ngabehi Desa Cikadu. Awahing ku ngarasa bungah aya nu daekeun jadi ngabehi, antukna carangkana dirawatan pikeun dijadikeun panineungan. Basa nu nulis ka Desa Cikadu, harita crangka teh aya keneh dirawatan ku S. Anggadipura (55), manten Ngabehi Desa Cikadu. Sabab nu boga hak ngarawatan teh iwal jalma nu keur nyepeng kalungguhan Ngabehi Desa Cikadu. Ngan kusabab basa harita di eta desa tacan aya deui nu jeneng ngabehi, keur saheulanan mah dirawatan ku Anggadipura.

Anggadipura, ngarawatan carangka karamat teh teu boga maksud sejen, kajaba hayang ngamumule banda pusaka warisan karuhunna. Da lamun geus aya deui nu jeneng ngabehi mah, cek Angga, tangtu baris dipasrahkeun deui ka nu hakna. Sabab sing saha nu nampa panen atawa kalungguhan Ngabehi Desa Cikadu, daek teu daek kudu ngarumat kana eta carangka karamat.

Bisa jadi eta teh geus jadi tradisi. Malah keur nu kakara jeneng jadi ngabehi di Desa Cikadu, aya sarat nu kudu dicumponan nya eta kudu nyieun carangka. Boh carangka karamat, boh carangka nu dijieunna, engkena dipasrahkeun deui ka ngabehi anyar, kitu jeung kitu satuluyna.    

Teu matak heran lamun harita di imah Anggadipura salian aya carangka karamat, nu saenyana mah ukur rangkayna, aya oge sawatara carangka nu nu kaayaanana seseg keneh, da dijieun samemeh Anggadipura jadi ngabehi.

Nurutkeun pangakuan Anggadipura, salial ngarawatan caarangka karamat, rea hal nu kaalaman ku dirina. Sakapeung mah inyana oge sok ngarasa helok, pangpangna lamun rek aya hiji kajadian nu teu dipiharep ku masarakat. Samemehna sok aya nu ngabejaan boh ngaliwatan ilapat boh ngaliwatan firasat.

Ngan basa nu nulis ngahaja ngolongan kaahengan carangka karamat, Angga teu wani kebat neruskeun obrolanana. Pangna kitu teh, kusabab saban nyabit-nyabit asal-usulna carangka, inyana sok ngadak-ngadak kukurayeun.

Keur Anggadipura jadi ngabehi mah, saban malem Juma’ah Kaliwon eta carangka karamat teh sok ditirakatan. Malah dina prakna sok diawuran ku rupa-rupa kembang. Tap lain maksud muja-muja carangka, tapi sakadar niat ngarumat banda titinggal karuhun.

Anggadipura boga pamadegan, sanajan mangrupa banda naon wae nu ngaranna warisan mah sawadina dipiara, keur ciri sangkan teu lali kana purwadaksi, cohagna teu pareumeun obor. Sual eta, enya henteu carangka teh boga ajen sajarah, kapan ngan saukur beja ti kolot baheula nu patatalepa.

Keur ngabuktikeun naha enya eta carangka teh boga ajen sajarah? Dina hiji waktu kungsi aya pihak nu rek nalungtik. Malah, pihak pamarentah desa Cikadu ngarasa panuju lamun aya ahli sajarah nu rek nalungtik teh. Sabab, najan caarngka teh ngarupakeun rangkayna, teu mustahil eta teh mangrupa simbul jeung siloka lenyepaneun. Jeungna deui, teu mustahil lamun aya ahli ditalungtik mah baris kapaluruh, taun sababaraha eta carangka dijieunna, sabab dina rangkay carangka karamat teh aya tulisan nu teuing ngarupakeun aksara naon.***

Pengrajin Rumah Tangga Butuh Bantuan Permodalan

30 Agu

Pengrajin Rumah Tangga Butuh Bantuan Permodalan

Kepala Desa Sarewu Kecamatan Pancalang, Wati, A.Md., mengutarakan masyarakat di desanya memiliki potensi dalam penggerakan ekonomi desa. Namun masih membutuhkan pembinaan lebih lanjutan. Hanya pembinaan tersebut, selayaknya dilakukan Pemkab Kuningan, bukan pihak desa. Pasalnya keterbatasan kas desa sehingga pembinaan belum sepenuhnya berjalan optimal.

“Potensi yang patut dikembangkan lebih lanjut yakni kerajinan sapu injuk, kesed, dan moceng. Hasil kerajinan ini telah mampu menembus pasar regional, diantaranya wilayah III Cirebon dan Provinsi Banten. Pasar yang sudah terbina sejak dulu, belum sepenuhnya dapat terserap. Sebab hasil kerajinan dari Desa Sarewu, oplahnya belum maksimal karena tidak menggunakan teknologi tepat guna,” ungkap Wati.

Namun Wati juga punya keinginan, pasar yang sudah dibina itu perlu mendapat perhatian serius sebab tanpa memerhatikan tentunya hasil kerajinan masyarakat Sarewu akan tergilas industri. Parapengrajin belum menggunakan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan produksinya sehingga hasil produksinya relatif kecil, dibanding dengan hasil teknologi.

Keinginan itu, perlunya Pemkab memberikan bantuan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan produksi. Tanpa adanya bantuan itu, dirinya merasa pesimis dapat memelihara pasar domestik maupun regional. Selain bantuan teknologi tepat guna, bidang permodalan pun perlu mendapat perhatian. Sebab guna mendatangkan bahan baku kerajinan membutuhkan biaya cukup besar.

“Bantuan itu memang diharapkan sekali masyarakat Desa Sarewu. Sedangkan pihak desa baru mampu memberikan bantuan permodalan dari Program Raksadesa itu pun masih terbatas. Sedangkan bantuan Pemkab akan terasa lebih bermanfaat karena mampu mendorong peningkatan produksi. Bantuan yang diharapkan berupa teknologi tepat guna dan permodalan,” harapnya.

Barang-barang rumah tangga tersebut, masih dibuat secara manual dengan menggunakan tenaga manusia. Pembuatan secara manual, tentunya dibutuhkan waktu agak lama. Namun dengan memakai teknologi tepat guna waktunya dapat dipersingkat. Dampaknya pun oplah produksi lebih tinggi. Wati pun memberikan contoh, satu kesed dapat dikerjakan dalam satu hari.

Sedangkan menggunakan teknologi tepat guna, pembuatan kesed akan lebih cepat. Bisa satu hari lima sampai sepuluh buah yang dihasilkan. Tercapainya produksi tinggi, dampak lainnya adanya perubahan ekonomi masyarakat. Jika sebelumnya, tingkat kemakmuran rata-rata, maka dengan adanya peningkatan produksi dan penjualan akan meningkat.

“Sekali lagi, kami mengharapkan perhatian Pemkab terhadap parapengrajin yang ada di Desa Sarewu. Selama ini diakui memang bentuk perhatiannya sangat kurang. Sehingga usaha kecil dan menengah (UKM) khususnya produksi rumah tangga hidupnya kembang kempis. Hanya mampu untukmenghidupi anak istri dalam satu hari, tanpa mampu menabung,” tandas Wati.***

29 Agu

Ketika Petani Gagal Panen,

Oleh : DIDIN SYAFARUDIN

Sungguh ironis saat musim penghujan belum usai. Namun dibeberapa beberapa warga masyarakat di Desa Cikubangmulya Kecamatan Ciawigebang mengalami gagal panen akibat kekeringan dan diserang hama wereng sendep. Sedikitnya 50 hektar dari 130 hektar tanaman padi tidak bisa dinikmati masyarakat.

Kerugian yang dialami parapetani, tidak saja biaya penanaman, pemeliharaan dan pupuk. Juga tenaga dan pikiran. Lebih parah lagi, selayaknya parapetani memeroleh keuntungan dari hasil tanam guna meningkatkan ekonominya. Ternyata semakin menempurukan mereka pada jurang kemiskinan.

Artinya penanaman yang menghabiskan kurang lebih tiga bulan, dan diharapkan dapat memeroleh modal dibulan berikutnya, kenyataannya harus gigit jari. Hal ini pun berdampak terhadap sirkulasi ekonomi secara umum di desa tersebut. Pasalnya siapa yang menanggung kerugian itu?

Andaikan saja, Pemkab Kuningan melalui Dinas Pertanian mau mengambil kerugian itu dengan mengeluarkan subsidi. Mungkin kerugian yang diderita parapetani akan berkurang. Mereka bisa menanam kembali padi untuk dipetik hasilnya tiga bulan di muka. Namun apakah keberanian untuk mendahulukan kepentingan rakyatnya dapat direaliasikan?

Tapi sebaliknya, jika Dinas Pertanian tidak mau mengeluarkan subsidi. Baik subsidi bibit, dan pupuk tentunya penderitaan panjang akan dirasakan masyarakat Cikubangmulya. Mungkin hampir enam bulan mereka akan kesulitan ekonomi karena terjadinya penambahan modal untuk menggarap sawah. Sedang keuntungan belum tentu diperoleh di enam bulan kemudian.

Menurut Kepala Desa Cikubangmulya, Warjo,  puso merantau ke kota besar untuk mencari pekerjaan karena di desa tidak ada yang bisa di kerjakan.Untuk menggarap lahan yang terkena puso harus menunggu datangnya musim penghujan.

“Gagal penen ini karena perubahan cuaca tahun ini yang tidak dapat diprediksi,” ungkapnya. Untungnya dari lahan seluas 130 hektar tersebut hanya 50 hektar lanjut Warjo, kalau semuanya terkena puso akan menimbulkan rawan pangan di desa yang rata-rata panen padi satu kali ini. Padahal kendati lokasi kesulitan air namun jarang terkena puso hanya tahun ini saja.

“Sudah menjadi pemandangan dan hal yang biasa di desa kami apabila para petani pulang dari ladang menangis, kerena meratapi kondisi lahan pertaniannya,” katanya lagi.  

terjadinya puso ini kerugian bukan hanya dirasakan oleh masyarakat tetapi juga oleh pemerintah Desa karena setiap hasil panen masyarakat. Desa dapat bagian 15 Kg yang peruntukan buat adat desa. Beras 15 Kg tersebut untuk menggaji para pegawai desa seperti hansip, penjaga malam dan lain-lain.

Kejadian gagal panen di desa yang perbenduduk 2.797 jiwa ini sudah dilaporkan kepada kepada Dinas Pertanian Kuningan, namun dinas tersebut tidak bisa berbuat banyak selain membasmi dulu hama juga menunggu datangnya musim penghujan. Sehingga ketika diberikan bibit padi masyarakat tinggal menanamnya.**