Arsip | PILKADA RSS feed for this section

LSM Lensa “Blak-blakan Survey Pilkada”

19 Okt

Lembaga Penelitian Sosial (Lensa) Kuningan melakukan survei lapangan terkait perilaku masyarakat Kuningan menjelang pilbup. Dalam survei preferensi politik masyarakat Kuningan menjelang pilbup, ada beberapa temuan yang diperoleh lembaga tersebut.

Iman Subasman, S.Si., Direktur Lensa Kuningan, temuan yang pertama adalah alasan pilihan pasangan calon. Menurutnya, mengetahui kecendrungan publik terhadap pasangan calon adalah hal yang sangat penting dalam proses pilkada. Tujuannya, pasangan maupun tim kampanye dapat mengukur kekuatan maupun pola kampanye yang sesuai dan cocok untuk pertarungan politik.

“Kalau kami perhatikan dalam riset Lensa yang menggunakan metoda multistage sampling random di 32 kecamatan 191 desa  dan 440 responden dapat kami simpulkan bahwa tiga alasan masyararakat Kuningan dalam menentukan pasangan calon, yakni mengenal pasangan calon 31,7 persen, berpengalaman 30,3 persen, dan sebesar 10,6 persen  sesuai dengan pilihan parpol yang mengusung,” ungkap dia kepada Radar, kemarin.
Tidak hanya itu, lanjut Iman, temuan lainnya berdasarkan hasil surveinya di lapangan yakni berkenaan dengan penilaian masyarakat terhadap kepemimpinan Aang-Aan tahun 2003-2008. Khususnya terhadap program-program yang menunjang kemakmuran. Ternyata masyarakat yang menilai puas dan sangat puas terhadap pembangunan yang menunjang langsung kemakmuran sebesar 31,2 persen. Yang menilai biasa-biasa saja sebesar 50,3 persen, dan selebihnya sebesar 25,2 persen menyatakan tidak puas.

Selanjutnya, Iman menyebutkan, tentang tingkat kepuasan terhadap pembangunan sarana fisik. Dikatakan, pembangunan fisik sering disebut-sebut sebagai ikon, lambang popularitas Aang selama masa kepemimpinannya. Terhadap pembangunan sarana fisik ini masyarakat Kuningan yang menyatakan puas dan sangat puas sebesar 61,3 persen.
“Isu yang dibangun Arochman yakni nyata tur karasa, kita teruskan pembangunan, merupakan rumusan tim kampanye yang mengerucut dengan mengaitkan hasil pembangunan fisik dengan sentimen pilihan masyarakat,” ungkapnya.

Lain halnya dengan temuan yang keempat yaitu terhadap penciptaan lapangan kerja. Persentase ketidakpuasan cukup besar. Sisi itu merupakan sesuatu yang perlu mendapatkan perharian serius.

“Pembangunan pemerintah terhadap penciptaan lapangan kerja merupakan sisi yang perlu mendapat perhatian lebih serius dimasa mendatang. Masyarakat Kuningan yang menilai puas dan sangat puas terhadap penciptaan lapangan kerja hanya 22,1 persen, sedangkan 37.9 persen menilai biasa-biasa dan 40.8 persen menyatakan tidak puas dengan penciptaan lapangan kerja,” sebutnya.

Yang terakhir mengenai penilaian masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. Perosentase sangat puas dan puas cukup besar yakni 49,9 persen. Yang menyatakan biasa-biasa saja sebesar 35 persen dan selebihnya menyatakan tidak puas.
“Jadi Isu yang diambil tim Arochman yakni untuk meneruskan pembangunan adalah isu yang tepat. Hanya saja ada satu hal yang perlu diperbaiki ke depan yaitu sejumlah program yang berkaitan langsung dengan penciptaan lapangan kerja.,” tandasnya.***

“Mitos” Tidak Berdaya Melawan Arochman, Tapi Ada “Buntutnya”

15 Okt

Mitos yang selama ini dipercaya masyarakat Kab. Kuningan, bahwa tidak mungkin bisa bupati yang tengah menjabat mencalonkan kembali memeroleh kemenangan tergilas sudah. Pasalnya H. Aang Hamid Suganda telah menjungkirbalikan mitos itu dan meraup kemenangan dalam pilkada.

Ano, mantan Sekda Kabupaten Kuningan menyebutkan mitos tidak ada bupati Kuningan yang menjabat dua kali, tidak berlaku lagi. Jika selama ini, H. Aang Hamid Suganda ditandingkan dengan mitos, maka yang lainnya berhadapan dengan mencari simpati masyarakat. “Maksudnya, dalam pilkada kemarin, dia memang bersaing dengan mitos. Jika dia kalah, bukan oleh lawannya yang tangguh. Tapi si “mitos” tidak bisa dikalahkan,” ungkapnya sembari tersenyum.

Kenyataannya, sambung Ano, si mitos dapat dipatahkan. Artinya pula, mitos tidak berdaya ketika melawan hegemoni Aang dalam meyakinkan leluhur Kuningan atau yang mendirikan Kuningan sejak dulu kala untuk tidak memberikan restu kepadanya. Dipercaya atau tidak, memang mitos itu ada. Kata para orang tua, jika mitos dapat dikalahkan maka orang bersangkutan akan mengalami celaka di masa kepemimpinannya.

“Artinya, kita masih menabung teka-teki untuk membuktikan rangkaian mitos itu sendiri. Apakah H. Aang Hamid Suganda dan H. Momon Rochmana akan tamat sampai 2013, atau tidak? Jelas mitos sudah kalah, tapi apakah celaka di sini dialami atau tidak? Jika mulus-mulus saja rangkaian mitos yang selama ini bergulir bagai salju tidak terbukti,” ungkapnya.

Boy Sandi Kartanagara yang aktif dengan pengamatan politiknya berharap bahwa H. Aang dan H, Momon, bukan lagi milik kelompok tertentu tetapi milik semua warga Kuningan karena menang dalam pilbup berdasarkan penghitungan sementara sejumlah lembaga terkait. Untuk itu, apabila telah dilantik menjadi bupati dan wakil bupati Kuningan periode 2008-2013, maka kedua pemimpin tersebut harus mampu mengakomodir semua aspirasi masyarakatnya sekaligus lebih memajukan Kab. Kuningan,” tandasnya.***

Golput, di Pilkada Kuningan 35,54 persen

15 Okt

Golongan putih (Golput) dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kuningan bisa dibilang tinggi kurang lebih 53,54 persen. Sedangkan yang memilih sekitar 64,46 persen, atau sekitar 554.454 dari daptar pemilih tetap (DPT) sebesar 819.500 suara. Tingginya angka golput disebabkan beberapa hal diantaranya masalah administrasi, politik dan sikap apatis.

Menurut Setiadarma, direktur lembaga survey Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu publik (JIP). Masalah administrasi seperti KTP pemilih sudah tidak berlaku, atau tidak masuk dalam DPT. Alasan politik, dimungkinkan ketiga pasang calon yang maju dalam pilkada dianggap tidak ada yang memenuhi syarat sebagai pemimpin Kabupaten Kuningan periode 2008-2013.

Sedangkan sikap apatis, pemilih yang sudah terdaftar dalam DPT tidak peduli terhadap pilkada. Mereka lebih memilih tetap bekerja baik di sektor formal maupun informal. “Mereka yang mengabaikan memang presentasenya cukup tinggi. Kebanyakan dari mereka yang merantau dikota-kota besar, seperti Jogja, Jakarta, Bandung dan Semarang,” ungkapnya.

Alasan mereka, sambung Darma, cukup berasalan yakni tidak mau kehilangan pelanggan paska idul fitri. Begitu pun yang bekerja di sektor formal, kebetulan masa liburnya sudah habis. Tanggal 6 Oktober, mereka sudah masuk kantor lagi. Begitu pun sebagian mahasiswa di luar kota Kabupaten Kuningan tidak menggunakan hak pilihnya.

“Kendati demikian, golput merupakan hak pilih mereka dan mereka meyakini akan pilihannya untuk tidak digunakan. Sebab pilihan yang digunakan oleh pemilih terhadap salah satu pasang calon belum tentu sesuai hati nurani. Bisa saja karena ketidaktahuan terhadap pasang calon. Atau mereka memilih karena ada intimidasi, misalnya. Dan tidak jarang karena iming-iming,” ungkap Sujarwo salah seorang pengamat politik lokal.

Hal ini, sambung Sujarwo, bisa dipahami. Sebab masyarakat Kabupaten Kuningan belum sepenuhnya cerdas. Sehingga tidak biasa menerima provokasi atau janji-janji manis yang disampaikan oleh calon bupati dan wakil bupati.***

Pasangan Arochman Sementara Unggul 73 persen

12 Okt
LSI & JIP MELAKUKAN QUICK COUNT PILKADA KABUPATEN KUNINGAN

LSI & JIP MELAKUKAN QUICK COUNT PILKADA KABUPATEN KUNINGAN

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bekerja sama dengan Jaringan Isu Publik (JIP) melakukan quick count (penghitungan cepat) dalam pilkada Kabupaten Kuningan. Hasilnya menunjukan pasangan Arochman memperoleh 73,22 persen, Asri 22,63 persen dan pasangan Sae 4,15 persen.

“Tingkat partisipasi pemilih (voter’s turn out) sebanyak 64,46 persen, sampling errornya kurang lebih 1persen dan data sampel yang masuk 100 persen,” ungkap Direktur LSI, Arman Salam dan Direktur JIP, Setia Darma.

Hasil quick count Pilkada Kab. Kuningan berdasarkan sampling 250 tempat pemungutan suara (TPS) di 32 kecamatan. Sedangkan perolehan suara perdaerah pemilihan (dapil) sebanyak 5 dapil diantaranya. Dapil 3 yaitu Ciawigebang, Cidahu, Cipicung, Kalimanggis, Lebakwangi, Maleber untuk pasangan Arochman 74,29 persen, Asri 21,93 persen dan Sae 3,77persen.

Dapil empat yakni Cibeureum, Cibingbin, Cimahi, Ciwaru, Karangkancana, Luragung pasangan Arochman 76,79 persen, Asri 19,94 persen, Sae 3,27 persen. Dapil 3 kecamatan Cigandamekar, Cilimus, Jalaksana, Japara, Kramatmulya, Mandirancan, Pancalang, Pasawahan pasangan Arochman 71,17 persen, Asri 23,77 persen, Sae 5,06 persen. Sedangkan dapil satu yaitu Cigugur, Ciniru, Garawangi, Hantara, Kuningan, Sindang Agung, pasangan Arochman 73,26 persen, Asri 22,16 persen, Sae 4,58 persen.

Dapil 5 yaitu Kecamatan Cilebak, Darma, Kadugede, Nusaherang, Selajambe, Subang, pasangan Arochman 69,11 persen, Asri 27,08 persen dan Sae 3,80 persen. “Dari hasil tersebut dapat dijumlahkan untuk pasangan Arochman 73,22 persen, pasangan Asri 22,63 persendan Sae 4,15 persen,” Ungkap Arman Salam.

Sementara penghitungan suara yang dilakukan KPU yaitu pasangan Arochman (H. Aang Hamid Suganda-Drs. H. Momon Rochmana) mengantongi 394.828 atau 73 persen, Asri (H. Aan Suharso,-Iwan Sonjaya) 119.744 atau 22 persen dan Sae (H. Nana Sulanjana-H. Eman Sulaeman) 22.675 atau 4persen.***

Masyarakat Jangan Meladeni Provokasi Untuk Memilih Salah Satu Calon

11 Okt

Minggu (12/10), masyarakat Kabupaten Kuningan akan menggunakan haknya dalam perhelatan demokrasi pertama yang dilaksanakan yakni memilih calon bupati dan wakil bupati. Calon pemimpin yang akan membawa Kuningan lima tahun mendatang yakni H. Aang Hamid Suganda-H. Momon Rochmana (Arochman), H. Aan Suharso-Iwan SOnjaya (Asri), H. Nana Sudjana-H. Eman Sulaeman (Sae).

Setiap pemilih, mungkin saja ketika masuk ke tempat pemungutan suara (TPS), belum menentukan pilihannya. Hal itu disebabkan, mungkin ketiga calon dianggapnya baik semua. Bisa juga ketiganya dipandang tidak ada yang mampu membawa Kuningan lebih baik ke depannya. Sehingga, mereka belum menentukan sikap. Atau bisa saja, setelah masuk ke bilik suara, ke luar lagi tanpa mencoblos. Atau mungkin saja asal mencoblos tidak sesuai dengan hati nurani.

Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. “Jika dari rumah sudah menyiapkan calon yang akan dicoblos, tentu tidak jadi persoalan,” ungkap Sujarwo, salah seorang pengamat politik lokal.

Sujarwo, menyebutkan yang lebih penting dalam pencoblosan nanti diharapkan masyarakat tidak terprovokasi untuk memilih salah satu calon, jika bertentangan dengan hati nurani. Apalagi si pemilih diintimidasi. “Jika ada salah satu calon yang berbuat demikian, lebih baik jangan dicoblos sekalian. Sebab, jika menggunakan cara-cara kurang terpuji, si pemimpinan yang nantinya memeroleh suara terbanyak akan berbuat semaunya. Bukan berdasarkan kepentingan rakyat,” tandasnya.***

Arochman Diciderai Pendukungnya Sendiri

10 Okt

Tindakan kurang terpuji dilakukan pendukung Arochman terhadap rumah kediaman H. Aan Suharso (ASRI) calon bupati yang didukung PKS dan Demokrat yang terletak di Jl Juanda No 113 RT 03 RW 02 Lebakkardin, Kelurahan Purwawinangun, Kecamatan Kuningan. Mereka, berjumlah sekitar 15 orang mendatanginya sekitar pukul 11.30 WIB dalam keadaan mabuk.

Mereka berteriak-teriak di luar pagar halaman dengan kata-kata kurang etis, seperti diungkapkan Sarwan Al Kasmu (65) salah seorang pendukung ASRI yang selama kampanye tinggal bersama H. Aan Suharso menyebutkan. “Hai jawa … balik ka Indramayu bae! Maneh mah lain urang Kuningan,” ucapnya menirukan ungkapan yang mendatangi rumahnya.

Namun ia sendiri tidak tahu, nama dan wajah orang yang berteriak-teriak itu. Sebab dia saat kejadian ada di dalam rumah. Namun setelah koleganya menelpon Rais, salah seorang pendukung ASRI. Mereka dapat dibubarkan. Kejadian itu, membuat daftar panjang sikap pendukung Arochman yang kurang bersahabat terhadap pendukung calon lain.

“Mereka berteriak memancing kerusuhan. Oleh kami didiamkan saja karena kami berharap Kuningan tetap kondusif. Kami menduga mungkin itu akibat kampanye Asri, 7 Oktober yang meriah dan menggetarkan Kuningan,” ujar Sanwani SH, tim sukses Asri didampingi H Momon Ganda Saputra SH saat jumpa pers di Asri Cetre Jl Aruji Kartawinata.

“Kami sangat prihatin. Menurut kami, ini mencederai demokrasi yang sedang kita bangun. Tapi kita tidak akan layani meski kami pun memiliki pasukan. Sebab, jika dilayani, berarti kita sama dengan mereka. Justru kami ingin kedepankan akhlak,” ujar Sanwani.

Sementara itu, Yayat Achadiatna mengatakan, Asri memegang prinsip siap menang dan siap kalah. Namun, untuk bisa menang, pihaknya tidak akan menghalalkan segala cara, tapi dengan cara yang santun. Sebaliknya, kalaupun kalah bakal legowo dan sabar. Justru dirinya menyayangkan kedatangan sekelompok tak dikenal itu. Pihaknya berharap agar aparat berwenang segera melakukan tindakan.***

Pasangan ASRI Menguat

9 Okt

Calon bupati dan wakil bupati dari Pasangan H. Aan Suharso – Iwan Sonjaya (ASRI), mendekati hari H, semakin menguat. Pelbagai elemen masyarakat dan unsur birokrat mengalir memberikan dukungan. Hal itu terjadi di luar dugaan, pasalnya mereka semula mendukung pasangan H. Aang Hamid Suganda – H. Momon Rochmana (Arochman). Dampaknya suara Arochman merosot.

Perubahan dukungan dari Arochman ke ASRI ada beberapa alasan, seperti diungkapkan pengamat politik lokal, Boy Sandi Kartanagara. Menurutnya, pergeseran peta dukungan tidak disadari oleh pasang calon masing-masing. Pasalnya perubahannya tidak diimbangi oleh sikap mereka yang ajeg. Tetap berada dalam kondisi abu-abu atau tersembunyi. Namun demikian, tidak semuanya abu-abu. Justru ada pula yang berani menunjukan sikap.

“Saya melihat adanya perubahan pola dukungan disebabkan 1). Kondisi antar tubuh partai pengusung tidak solid dan Arochman tidak bisa menjaga kekompakan, 2). Tidak efektifnya mesin politik dari tingkat atas sampai bawah, 3). Tim sukses/relawan yang diberi nama AHAS (Aang Hamid Suganda) mulai dari tingkat kabupaten sampai ke tingkat RT kurang mendapat simpati publik, 4). Strategi politiknya lemah,” ungkapnya.

Kelemahan-kelemahan itu, sambung Boy, dimanfaatkan sepenuhnya oleh PKS, sebagai meanstream ASRI. PKS, memaksimalkan mesin politiknya sehingga lebih efektif dan efisien dalam melakukan penggalangan massa. Memanfaatkan pihak-pihak yang kontra dengan tim sukses/relawan di masyarakat. Memompa strategi kampanye supaya lebih memberikan warna sebagai pemimpin alternatif.

Plus minus dari stategi politik yang diterapkan oleh kedua pasang calon ini berdampak terhadap massa pemilih. Apalagi massa Arochman, tidak semilitan massa ASRI. Mudah runtuh dan beralih dengan demikian mereka menjadi bidikan untuk membangun kembali pola dukungannya. “Jika di masa tenang ini, ASRI lebih memaksimalkan kinerjanya, kemungkinan besar akan memeroleh suara tipis dari Arochman,” tuturnya.

Namun demikian, kata Boy, asal Arochman strategi penggalangan massanya seperti yang sekarang terjadi. Mereka hanya menyerap omongan orang dan itu sudah dianggap cukup bahwa yang diajak bicara seolah-olah mendukung Arochman. Padahal masyarakat sekarang ketika ditanya dukung mendukung akan menjawab “Nya nu tos karaos bae ayeuna.”

Padahal kalimat itu, mengecoh si penanya dan hal itu dijadikan pegangan oleh Arochman. Berbeda dengan ASRI, mereka menyatakan dukungan secara diam-diam dan akan terbuka pada orang-orang yang dianggap dipercaya. Boy memberikan contoh kalimat pendukung ASRI. “Ah abdi mah teu kamana-mana, teu ka ditu teu kadieu,” ungkapan itu ingin menyebutkan bahwa dirinya ASRI karena nomor urutnya 2.

Ada pula yang mengatakan, “Sok atuh bongbolongan ke tanggal 12 teh kuring kudu ka mana?” Pertanyaan jebakan seperti itu jika di jawab Arochman, langsung diam dan cukup mengungkapkan kata “hatur nuhun”. Tapi kalau dijawab dengan ASRI, mereka langsung salaman sambil mengucap “deal”.***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.