Pengerahan ribuan massa dari wilayah timur Kab Kuningan bukan hanya gertak sambal. Mereka buktikan dengan datang ke kantor DPRD dalajumlah besar dari tiga elemen yakni tukang ojeg, pedagang kecil dan masyarakat pengguna jasa transfortasi. Sementara tuntutan awalnya bersifat teknis, belum mengarah ke pelanggaran konstitusi.
Diantaranya, penumpang dari luar kota pada jam malam tidak diturunkan di terminal tapi langsung ke tempat asal. Dibukanya portal yang menutup marka jalan agar bisa dilalui bus. Selama ini ada beberapa portal secara sengaja di buat, seperti jalur Kec Garawangi-Kel Winduhaji Kec Kuningan. Jalur Kec Cidahu-Kab Cirebon dan disekitar Kec Maleber.
“Untuk sementara, kami menuntut dua hal yakni pada jam malam penumpang tidak diturunkan diterminal tipe A Kertawangunan. Juga dicabutnya portal yang menghalangi bus ke luar masuk. Kita ingin melihat reaksi pemerintah kabupaten (Pemkab) Kuningan dan anggota dewan apakah dikabulkan atau tidak?”ungkap H Suhari dari salah satu awak bus Setianegara.
Di tempat sama, Ade dari PO Luragung menyebutkan. “Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) pada jam malam bertindak arogan dengan menendang penumpang yang pura-pura tidur supaya turun di teriminal. Begitu pun dengan preman di sekitar terminal tidak segan-segan bertindak kekerasan untuk menurunkan penumpang secara paksa,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Dapit dari awak Setianegara,”saya saksikan sendiri supir yang membandel tidak menurunkan penumpang di terminal ditempeleng oleh salah seorang petugas. Namun saya tidak mencatat nama petugas itu. Begitu pun dengan preman-premannya yang sering bertindak keterlaluan. Ada dugaan, Dishub dalam menjalankan tugasnya menggunakan jasa mereka,” terangnya.
Sementara Rahmadi salah seorang tukang ojeg dari Kec Ciawigebang mengungkapkan. Pemungsian terminal itu membuat diri dan kawan-kawannya kehilangan penghasilan. Kata ia, sehari memeroleh penghasilan dari ngojeg sebesar Rp20.000 namun sekarang nihil. Sedangkan setoran Rp15.00/hari, karena menggunakan motor sewaan.
Simon salah seorang pedagang bubur kacang ijo di sub terminal Ciawigebang, menambahkan. “Ketika bus masih menurunkan penumpang di Ciawigebang, saya masih mendapat penghasilan sebesar Rp300.000 perhari. Sedangkan sekarang, untuk kembali modal saja tidak mampu. Ini kan sama artinya menyengsarakan rakyat kecil,” tegasnya.
Ketika dikonfirmasikan permasalahan aparat yang berlaku kasar terhadap awak bus ke Kepala Dishub, Sadil Damini DJ membantah keras. “Kami sudah mengecek ke lapangan ternyata tidak ada petugas Dishub yang bertindak kasar,” tandasnya.
Ironis
Berunjukrasa ribuan massa yang memerjuangkan perut mereka. Sementara di pendopo sekretariat daerah (Setda) Kab Kuningan justru sebaliknya. Mereka melakukan pesta atas diraihnya penghargaan Adipura. Begitu pun saat pengunjuk rasa meminta supaya Bupati Kuningan, H Aang Hamid Suganda diminta hadir karena tidak tidak bisa memutuskan perkara.
Justru yang menghadapi pengunjuk rasa diserahkan ke Sekda H Djamaluddin Noor dan Ketua DPRD, H Yudi Budyana serta H Acep Purnama wakil ketua. Pada kesempatan itu atas permintaan pengunjuk rasa yang dikabulkan hanya satu. Membebaskan bus membawa penumpang pada malam hari. Sedangkan portal kendati sudah ditempuh dialog tapi masih buntu.
“Sungguh ironis, di satu sisi masyarakat Kuningan tengah memerjuangkan perutnya karena lapar. Sementara pejabatnya berjoget ria karena memeroleh penghargaan Adipura,” ungkap Eman IP salah seorang koordinator lapangan (korlap) Kec Cidahu dan Kalimanggis.

5 comments
Comments feed for this article
Juni 9, 2009 pada 4:35 am
Maman wahyu
Saya sangat setuju dengan di bebaskan nya Bus mengantar penumpang pada malam hari langsung ke arah timur ( Ciawi & Luragung ) karena bisa menghemat dalam biaya Transportasi, belum lagi harus turun naik angkot, kalau penumpang banyak mungkin angkot langsung berangkat, tapi kalau penumpang cuma satu atau bisa dua jam ngetem, padahal penumpang itu ingin segera istirahat setelah menempuh perjalanan jauh, kalau pun naik ojeg ongkos nya mahal.
Juni 10, 2009 pada 10:05 am
Maman wahyu
Kamarana nya yeuh ,meni jempling, sok atuh kirim komentar pikeun materi di luhur, dukung kusadayana, supaya Bis tiasa deui ngajajap penumpang na ka wetan, ayoooooooooooooooo……..dukunggggggg
Juni 12, 2009 pada 6:19 am
aspuh
wilujeng tepang kang maman,lereslah abdi oge panuju pisan upami bis tiasa langsung deui sapertos kapungkur,komo sakedap deui bade mayunan lebaran.mudah-mudahan pejabat2 kota kuningan teh masih keneh mihak ka rakyat.pokokna mah upami bis tiasa langsung deui ka wilayah kuningan timur kuabdi di do’keun pejabatna sing enggal naik haji. amiiiiin. hatur salam kanggo warta desa oge kanggo sadayana anu maos seratan ibdi.
Juni 15, 2009 pada 6:28 am
maman wahyu
Alhamdulillah, abdi tiasa wangsul ka Kuningan wengi kalayan langsung dugi ka Lembur Kuring Cimindi Balong, HATUR NUHUN KA PEMDA SARENG DIS HUB.
Juli 2, 2009 pada 10:40 am
de
Pembuatan terminal tipe A di Kabupaten Kuningan yang daerahnya bukan jalan berstatus negara merupakan salah satu bentuk kekurang-cermatan dalam perencanaan awal. Jalur Jakarta-Cirebon-Kuningan hanya merupakan jalur propinsi sehingga jumlah bis yang lewat tidak sebanyak di jalur utama pantura. Bis-bis yang masuk jalur ini hanya dilayani beberapa perusahaan otobus (PO) yang jumlahnya tidak begitu banyak. Tapi nasi sudah jadi bubur, lebih baik dibuat SOLUSI TERBAIK. Saya punya usul, tapi mungkin ini juga memerlukan penambahan infrastuktur jalan baru serta biaya tidak kecil untuk menambah ramai aktivitas terminal tipe A Ancaran yaitu :
1. Pemkab. Kuningan bekerja sama dengan Pemkab. Cilacap Jawa Tengah untuk melebarkan poros jalan Luragung-Cibingbin-Majenang-Cilacap Jawa Tengah, sehingga jalur tersebut bisa dilalui bis-bis PO. Putra Luragung, PO. Setia Negara, PO. Sahabat dan PO. Bhinneka untuk memperluas trayek hingga ke Kecamatan Majenang Kab. Cilacap Jawa Tengah. Sehingga trayek yang sekarang ada menjadi trayek baru yaitu : Jakarta-Kuningan-Luragung-Cibingbin-Majenang-Cilacap Jawa Tengah.
2. Pemkab. Kuningan bekerja sama dengan Pemkab. Brebes Jawa Tengah untuk melebarkan poros jalan Luragung-Cibingbin-Bumiayu Jawa Tengah, sehingga jalur tersebut bisa dilalui bis-bis PO. Putra Luragung, PO. Setia Negara, PO. Sahabat dan PO. Bhinneka untuk memperluas trayek hingga ke Kecamatan Bumiayu Kab. Brebes Jawa Tengah. Sehingga trayek yang sekarang ada menjadi trayek baru yaitu : Jakarta-Kuningan-Luragung-Cibingbin-Bumiayu Jawa Tengah.
3. Jalan raya Kuningan-Cikijing-Ciamis, yang berkelok-kelok dicarikan jalur lurus dan lebar sehingga bis-bis PO. Putra Luragung, PO. Setia Negara, PO. Sahabat dan PO. Bhinneka bis memperlus trayek hingga ke Kec. Rancah Kab. Ciamis. Jalur tersebut dibuat lurus dan tidak berkelok-kelok sehingga laju bis bisa cepat.
4. Jalur jalan Kuningan-Cikijing-Talaga-Bantarujeg-Wado Sumedang dipelebar bekerjasama dengan Pemkab. Majalengka sehingga bis-bis ukuran sedang 3/4 trayek Wado-Sumedang-Bandung bisa diperluas trayeknya sampai Kuningan-Luragung-Cibingbin-Bumiayu.
5. Jalan Raya Kuningan-Cirebon yang sempit diperlebar, agar mobilitas bis-bis dari Cirebon-Kuningan bisa lebih cepat sehingga memperpendek jalur tempuh.
Demikian usulan saya, terima kasih.