IRING-IRINGAN KONSTITUEN H GURLAYA KARTASASMITA

IRING-IRINGAN KONSTITUEN H GURLAYA KARTASASMITA

Kampanye terbuka di lapangan yang diisi orasi dan menyajikan hiburan dangdutan, dianggap kurang efektif. Tidak memberikan kontribusi positif kepada konstituen atau pemilih. Apalagi pengonsentrasian massa, telah mengorbankan kepentingan masyarakat dalam aktifitas sehari-harinya. Seperti berdagang, bertani maupun pelaku jasa usaha angkutan.

Menghindari benturan kepentingan itu, H Agus Gurlaya Kartasasmita tokoh nasional juga calon legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Golkar membuat terobosan baru. Caranya melakukan kunjungan ke konstituen sesuai profesi masing-masing. Seperti mengunjungi pasar, terminal dan masyarakat petani. Kegiatannya itu dimanfaatkan untuk berdialog dan menyerap aspirasinya.

Dedi Ahmadi atau Dedi “MB” salah seorang tokoh masyarakat juga pengusaha sukses di Kab Kuningan, Dirinya menyambut baik upaya H Agus Gurlaya dengan menyerap aspirasi masyarakat. Seperti di pasar baru, pasar Ancaran di Kec Kuningan, pasar Ciawigebang, pasar Garawangi. Terminal Cirendang, Ciawigebang dan terminal Lengkong Kec Garawangi.

Begitu pun masyarakat petani di Desa Gunung Keling, Cigugur Cigadung, Kadugede, Pajawankidul, Panyosogan, Ciniru, Cibingbin, Cibeureum, Karangkanca dan Cilimus. “Seharusnya caleg melakukan jemput bola, bukan sebaliknya. Sebab masyarakat pun memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sehingga kampanye itu tidak saling merugikan,” ucapnya.

H Agus Gurlaya Kartasasmita yang diampingi Idah Jubaedah Caleg DPRD Kab Kuningan dari Dapil 3, Oyo Sukarya Dapil 1 dan Hendra Dapil 2. Di sela-sela kegiatannya kepada menyebutkan. Pelaksanaan kampanye dirinya terbilang mendadak di Kab Kuningan. Soalnya saat ini jatah kampanye caleg Golkar untuk DPRD Provinsi Jawa Barat. Namun demikian, jatah itu dimanfaatkan semaksimal dan seefektif mungkin dengan konstituen dengan menyerap aspirasi melalui dialog.

“Pelaksanaan semua kampanye bagus. Tapi saya cenderung mengunjungi ke konstituen agar tidak mengganggu aktifitas mereka. Yang berdagang tetap dagang, supir angkot tetap melaksanakan pekerjaannya. Begitu pun petani tidak harus meninggalkan sawah ladangnya. Sebab mereka harus mencari uang untuk menghidupi anak dan istrinya,” ungkapnya.

Orasi visi, misi partai bukan tidak penting, kata H Gurlaya, tapi yang lebih penting adalah menampung aspirasi mereka. Sebab masyarakat sekarang sudah pada pintar dan tidak membutuhkan indoktrinasi. Justru pemikiran-pemikirannya harus ditampung dan disalurkan kembali sesuai mekanismenya. “Harapan masyarakat sekarang kan seperti itu dan kita tidak perlu digurui,” terangnya.

Lanjutnya, “kepentingan masyarakat seperti adanya kemudahan memeroleh pekerjaan, kebutuhan hidup sehari-hari terjangkau. Adanya kenyamanan dalam berusaha itu yang paling penting. Aspirasi harus ditindaklanjuti dengan membuat formulanya, supaya dapat terealisasi. Baik melalui kebijakan maupun mendorong stakholder guna meningkatkan kemampuannya,” tegasnya.***