
HO TEK TSENG SIN
“Loo hiang ca jiat, huat kai bong hun, cu hut hai hwee sut yau bun, sue cie kiat siang ien, seng ie hong ieun, cu hut hiang cuan sien,” ungkap salah seorang umat Konghucu di Kab Kuningan sambil memasang tiga buah hio di nio low (tempat menyimpan hio) yang disimpan dekat patung Ho Tek Tseng Sin. Ia pun melakukan ci kung (penghormatan) tiga kali.

NIO LOW
Sambas Cahyadi (Tjan Sam Tjay, 87) warga keturunan Tionghoa juga pengelola Litang (kelenteng) Kun An Tong. “Sembahyang yang dilakukan dihadapan patung Ho Tek Tseng Sin, sudah menjadi keutamaan bagi masarakat Tionghoa katurunan.”

NIO LOW
Tjan Sam Tjay menerangkan keberadaan Litang Kun An Tong yang didirikan Pebruari 1917. Jasanya Khow Mo Kin dan Tjon Kim. “Dulunya yang disebut litang merupakan rumah berdinding bilik bambu. Dikarenakan punya keinginan menolong sesama, rumahnya dijadikan pusat informasi bagi warga keturunan Tionghoa,” ucapnya.
Kata ia, warga Tionghoa yang berada di Kab Ciamis, Cikijing, Talaga (Kab Majalengka-red) sering melakukan transaksi dagang dengan masyarakat Cirebon. Sebab di wilayah itu terdapat pelabuhan. Mereka ke Cirebonnya berjalan kaki. Sehingga kerap kemalaman di Kuningan,” tutur Tjan Sam Tjay.
Para pedagang itu, kata Sam Tjay, pulangnya pasti lewat Kuningan. Di saat kemalaman itu, mereka kerap tidur di sembarang tempat. Ada yang di bawah pohon, depan pintu rumah orang atau trotoar. Hal itu mengundang keperihatinan Kho Mo Kin. Akhirnya ia pun memberikan tempat untuk beristirahat.
Kebiasaan itu berlangsung lama yang akhirnya Kho Mo Kin punya gagasan mendirikan litang. Litang pada saat itu sebagai sarana informasi dan pusat kebudayaan warga Tionghoa. Tujuannya untuk memelihara dan mengembangkan adat istiadat yang berlangsung turun temurun.
“Seringnya mereka tinggal di litang, akhirnya ada yang mukim di Kuningan karena tertarik gadis nan cantik-cantik. Perempuan Kuningan itu, selain memiliki wajah cantik dengan kulit kuning langsat. Mereka juga berbudi baik, ramah tamah dan murah senyum,” ucapnya sambil senyum dikulum.
Sebelum dibangun litang Kun An Tong (cahaya turun dari langit). Di Kab Kuningan sudah ada litang yang terdapat di Desa Ancaran (Kec Kuningan) dan Puncak (Kec Cigugur). Dua litang tersebut, terkenal sebagai pusat tumbuhnya kebudayaan Tionghoa. Namun karena Belanda tidak suka warga Tionghoa maju, akhirnya dibakar.
Kajadian itu berlangsung Taun 1800-an, salah satu upaya Belanda mengontrol perilaku warga Tionghoa. Maka dibuatlah pacinan, sebab sebelumnya tersebar di pelbagai wilayah di Kab Kuningan. Letak pacinan di sepanjang jalan Siliwangi Kota Kuningan. Namun sekarang telah banyak perubahan karena dijual pemiliknya.
Ba Un, menambahkan. “Untuk memelihara litang Kun An Tong dibutuhkan biaya cukup besar. Apalagi bisa menghidupkan adat istiadat lainnya, seperti barongsay biayanya dari mana? Saya harap, Pemkab Kuningan mau memerhatikan supaya kasenian atau budaya di litang tumbuh,” tegasnya.
Tionghoa di Kuningan usianya rebuan tahun
Suherni (The Cin Siok, 57), warga Tionghoa katurunan di Dusun I RT 01/01 Desa Walaharcageur Kec Luragung, menyebutkan. “Ada anggapan, kehidupan Tionghoa katurunan serba mapan. Padahal kenyataanya tidak seperti itu. Contonya nasib saya hidup serba kekurangan. Apalagi tinggal di kampung dan hanya mengandalkan jadi buruh tani,” ungkapnya.
Sepengetahuan dirinya, warga Tionghoa keturunan yang ada di Kab Kuningan, khususnya di Kec Luragung ada beberapa generasi. Tapi generasi 1900-an, diantaranya Koat Cian atawa Babah Ocang dan Gow Sam Cay. Babah Ocang melahirkan generasi yang berdiam di Luragung.
Sedangkan Gow Sam Cay, di Kec Lebakwangi, khususnya di Desa Garahaji. “Kalau ditelusuri Tionghoa keturunan di Kab Kuningan berasal dari Putri Ong Tin Nio yang dinikahi Sunan Gunung Djati. Namun bukan berarti keturunannya, sebab mereka merupakan pasukan Laksamana Ceng Ho,” ungkapnya.
Tjan Sam Tjay, membenarkan ucapan The Cin Siok. Leluhur warga Tionghoa di Kuningan berasal dari pasukan Laksamana Ceng Ho sewaktu melakukan muhibah ke Nusantara. Begitu pun saat membawa Ong Tin Nio ke Luragung hendak menemui Sunan Gunung Djati.
Berdasarkan catatan sejarah, Laksamana Ceng Ho datang ke Luragung, sebelumnya berlabuh di Muharajati Cirebon. Kedatangannya ke Luragung untuk menyerahkan Ong Tin Nio ke Sunan Gunung Djati sekitar Tahun 1481 M. Mereka diantar para prajurit yang berasal dari Cina.
Setelah bertemu dengan Sunan Gunung Djati, Ong Tin Nio bersama prajuritnya tidak langsung ke Cirebon, tapi mukim di Kuningan. Para prajurit ini merupakan cikal bakal warga Tionghoa keturunan. Kendati mengalami pasang surut, namun keberadaannya sudah berlangsung ribuan tahun silam.

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini