You are currently browsing the daily archive for Oktober 15th, 2008.
Mitos yang selama ini dipercaya masyarakat Kab. Kuningan, bahwa tidak mungkin bisa bupati yang tengah menjabat mencalonkan kembali memeroleh kemenangan tergilas sudah. Pasalnya H. Aang Hamid Suganda telah menjungkirbalikan mitos itu dan meraup kemenangan dalam pilkada.
Ano, mantan Sekda Kabupaten Kuningan menyebutkan mitos tidak ada bupati Kuningan yang menjabat dua kali, tidak berlaku lagi. Jika selama ini, H. Aang Hamid Suganda ditandingkan dengan mitos, maka yang lainnya berhadapan dengan mencari simpati masyarakat. “Maksudnya, dalam pilkada kemarin, dia memang bersaing dengan mitos. Jika dia kalah, bukan oleh lawannya yang tangguh. Tapi si “mitos” tidak bisa dikalahkan,” ungkapnya sembari tersenyum.
Kenyataannya, sambung Ano, si mitos dapat dipatahkan. Artinya pula, mitos tidak berdaya ketika melawan hegemoni Aang dalam meyakinkan leluhur Kuningan atau yang mendirikan Kuningan sejak dulu kala untuk tidak memberikan restu kepadanya. Dipercaya atau tidak, memang mitos itu ada. Kata para orang tua, jika mitos dapat dikalahkan maka orang bersangkutan akan mengalami celaka di masa kepemimpinannya.
“Artinya, kita masih menabung teka-teki untuk membuktikan rangkaian mitos itu sendiri. Apakah H. Aang Hamid Suganda dan H. Momon Rochmana akan tamat sampai 2013, atau tidak? Jelas mitos sudah kalah, tapi apakah celaka di sini dialami atau tidak? Jika mulus-mulus saja rangkaian mitos yang selama ini bergulir bagai salju tidak terbukti,” ungkapnya.
Boy Sandi Kartanagara yang aktif dengan pengamatan politiknya berharap bahwa H. Aang dan H, Momon, bukan lagi milik kelompok tertentu tetapi milik semua warga Kuningan karena menang dalam pilbup berdasarkan penghitungan sementara sejumlah lembaga terkait. Untuk itu, apabila telah dilantik menjadi bupati dan wakil bupati Kuningan periode 2008-2013, maka kedua pemimpin tersebut harus mampu mengakomodir semua aspirasi masyarakatnya sekaligus lebih memajukan Kab. Kuningan,” tandasnya.***
Golongan putih (Golput) dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Kuningan bisa dibilang tinggi kurang lebih 53,54 persen. Sedangkan yang memilih sekitar 64,46 persen, atau sekitar 554.454 dari daptar pemilih tetap (DPT) sebesar 819.500 suara. Tingginya angka golput disebabkan beberapa hal diantaranya masalah administrasi, politik dan sikap apatis.
Menurut Setiadarma, direktur lembaga survey Indonesia (LSI) dan Jaringan Isu publik (JIP). Masalah administrasi seperti KTP pemilih sudah tidak berlaku, atau tidak masuk dalam DPT. Alasan politik, dimungkinkan ketiga pasang calon yang maju dalam pilkada dianggap tidak ada yang memenuhi syarat sebagai pemimpin Kabupaten Kuningan periode 2008-2013.
Sedangkan sikap apatis, pemilih yang sudah terdaftar dalam DPT tidak peduli terhadap pilkada. Mereka lebih memilih tetap bekerja baik di sektor formal maupun informal. “Mereka yang mengabaikan memang presentasenya cukup tinggi. Kebanyakan dari mereka yang merantau dikota-kota besar, seperti Jogja, Jakarta, Bandung dan Semarang,” ungkapnya.
Alasan mereka, sambung Darma, cukup berasalan yakni tidak mau kehilangan pelanggan paska idul fitri. Begitu pun yang bekerja di sektor formal, kebetulan masa liburnya sudah habis. Tanggal 6 Oktober, mereka sudah masuk kantor lagi. Begitu pun sebagian mahasiswa di luar kota Kabupaten Kuningan tidak menggunakan hak pilihnya.
“Kendati demikian, golput merupakan hak pilih mereka dan mereka meyakini akan pilihannya untuk tidak digunakan. Sebab pilihan yang digunakan oleh pemilih terhadap salah satu pasang calon belum tentu sesuai hati nurani. Bisa saja karena ketidaktahuan terhadap pasang calon. Atau mereka memilih karena ada intimidasi, misalnya. Dan tidak jarang karena iming-iming,” ungkap Sujarwo salah seorang pengamat politik lokal.
Hal ini, sambung Sujarwo, bisa dipahami. Sebab masyarakat Kabupaten Kuningan belum sepenuhnya cerdas. Sehingga tidak biasa menerima provokasi atau janji-janji manis yang disampaikan oleh calon bupati dan wakil bupati.***

Komentar Terakhir