Calon bupati dan wakil bupati dari Pasangan H. Aan Suharso – Iwan Sonjaya (ASRI), mendekati hari H, semakin menguat. Pelbagai elemen masyarakat dan unsur birokrat mengalir memberikan dukungan. Hal itu terjadi di luar dugaan, pasalnya mereka semula mendukung pasangan H. Aang Hamid Suganda – H. Momon Rochmana (Arochman). Dampaknya suara Arochman merosot.
Perubahan dukungan dari Arochman ke ASRI ada beberapa alasan, seperti diungkapkan pengamat politik lokal, Boy Sandi Kartanagara. Menurutnya, pergeseran peta dukungan tidak disadari oleh pasang calon masing-masing. Pasalnya perubahannya tidak diimbangi oleh sikap mereka yang ajeg. Tetap berada dalam kondisi abu-abu atau tersembunyi. Namun demikian, tidak semuanya abu-abu. Justru ada pula yang berani menunjukan sikap.
“Saya melihat adanya perubahan pola dukungan disebabkan 1). Kondisi antar tubuh partai pengusung tidak solid dan Arochman tidak bisa menjaga kekompakan, 2). Tidak efektifnya mesin politik dari tingkat atas sampai bawah, 3). Tim sukses/relawan yang diberi nama AHAS (Aang Hamid Suganda) mulai dari tingkat kabupaten sampai ke tingkat RT kurang mendapat simpati publik, 4). Strategi politiknya lemah,” ungkapnya.
Kelemahan-kelemahan itu, sambung Boy, dimanfaatkan sepenuhnya oleh PKS, sebagai meanstream ASRI. PKS, memaksimalkan mesin politiknya sehingga lebih efektif dan efisien dalam melakukan penggalangan massa. Memanfaatkan pihak-pihak yang kontra dengan tim sukses/relawan di masyarakat. Memompa strategi kampanye supaya lebih memberikan warna sebagai pemimpin alternatif.
Plus minus dari stategi politik yang diterapkan oleh kedua pasang calon ini berdampak terhadap massa pemilih. Apalagi massa Arochman, tidak semilitan massa ASRI. Mudah runtuh dan beralih dengan demikian mereka menjadi bidikan untuk membangun kembali pola dukungannya. “Jika di masa tenang ini, ASRI lebih memaksimalkan kinerjanya, kemungkinan besar akan memeroleh suara tipis dari Arochman,” tuturnya.
Namun demikian, kata Boy, asal Arochman strategi penggalangan massanya seperti yang sekarang terjadi. Mereka hanya menyerap omongan orang dan itu sudah dianggap cukup bahwa yang diajak bicara seolah-olah mendukung Arochman. Padahal masyarakat sekarang ketika ditanya dukung mendukung akan menjawab “Nya nu tos karaos bae ayeuna.”
Padahal kalimat itu, mengecoh si penanya dan hal itu dijadikan pegangan oleh Arochman. Berbeda dengan ASRI, mereka menyatakan dukungan secara diam-diam dan akan terbuka pada orang-orang yang dianggap dipercaya. Boy memberikan contoh kalimat pendukung ASRI. “Ah abdi mah teu kamana-mana, teu ka ditu teu kadieu,” ungkapan itu ingin menyebutkan bahwa dirinya ASRI karena nomor urutnya 2.
Ada pula yang mengatakan, “Sok atuh bongbolongan ke tanggal 12 teh kuring kudu ka mana?” Pertanyaan jebakan seperti itu jika di jawab Arochman, langsung diam dan cukup mengungkapkan kata “hatur nuhun”. Tapi kalau dijawab dengan ASRI, mereka langsung salaman sambil mengucap “deal”.***

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini