Ratusan Warga Mendadak Baca Puisi

8 Jun

Ratusan warga di Kab. Kuningan mendadak antusias membaca puisi, di taman kota. Kendati tidak dengan suara lantang, mereka mengekspresikannya dengan senyum, mengerutkan jidat dan mata menerawang. Tersirat, kehausan akan dunia sastra yang di jaman sekarang mulai tergerus dengan persoalan-persoalan ekonomi. Sehingga ada semacam penantian panjang sahara.

Buku antologi puisi karya sepuluh penyair Kuningan yang diberi judul puisi belum rampung kutulis hari ini. Diluncurkan sebagai kado dari komunitas sais Kuningan (KSK) ke Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda, yang diserahkan Asep Budi Setiawan mewakili KSK, Jum’at (6/6). Peristiwa itu, sebagai penanda kebangkitan sastra di Kab. Kuningan.

Asep Budi Setiawan, menyebutkan “Jejak rekam perpuisian di Kab. Kuningan, yang ditemukan tanpa sengaja berupa catatan-catatan kecil di era 1970-an. Ampir sama dengan saat terjadinya pertumbuhan puisi di tingkat nasional. Di tahun itu, khususnya di Kuningan dunia sastra telah tumbuh bak jamur di musim penghujan. Anak-anak muda bukan lagi “hemaprodit” peradaban,” ucapnya.

Namun, sambungnya, tumbuh dalam suasana kebatinan berkesenian yang tidak ditemukan lagi di jaman reformasi seperti sekarang ini. Ini sebuah tonggak sejarah yang perlu diselamatkan sebagai identitas orang-orang daerah dalam memberikan warna terhadap kesusastraan nasional. Pemikiran seperti itu terus “menggelinding” mencari muara yang paling pas untuk berlabuh.

Ury Syam, Ketua KSK bersama Djudjun Djuanda menambahkan. Kendala merealisasikan sebuah buku antologi puisi “keroyokan” sering dialami. Pasalnya pemilik puisi tidak berdomisili lagi di Kabupaten Kuningan. Ada yang tinggal di Jakarta dan Bandung. Contohnya, Djo Subagja, yang sudah betah di Jakarta dan sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur keuangan Jasa Marga, sampai saat ini belum ada timing yang tepat untuk bertemu.

Tidak kalah menariknya, sambung Ury, ketika catatan puisi ditemukan tapi orangnya sudah meninggalkan alam fana seperti Yusfatansi Ubaya atau Abu Ubaidah. Begitu pun yang lainnya telah sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga konsentrasi terbagi-bagi. Lebih parah lagi mengalami penyakit “lupa” teramat panjang, hampir dua belas tahun lebih. Sejak perencanaan awal 1996.

“Ujug-ujug” motivasi itu timbul kembali setelah dunia kesusastraan di Kabupaten Kuningan semakin tenggelam ke titik nadir. “Jika tidak sekarang, kapan lagi diterbitkan?” ucap Ury. Mungkin lontaran seperti itulah salah satu pemicunya. Padahal kesempatan untuk “ngariung” semakin melebar, namun berkat kenekatan yang entah sudah keberapa kali tersia-siakan.

“Hasil perjuangan itu, akhirnya antologi Puisi Belum Rampung Kutulis Hari Ini, merupakan antologi keroyokan penyair Kuningan menemukan muaranya. Memang puisinya belum rampung, dan entah sampai kapan rampung ditulisnya? Mudah-mudahan bisa dijadikan motivasi baru bagi generasi muda Kuningan untuk melanjutkan kiprah kesusastraan di daerah. Serta mampu memberikan warna terhadap kesusastraan nasional,” harapnya.)***

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: