Objek Wisata di Kuningan Belum Optimal
10 04 2008Keterangan gambar :
Salah satu objek wisata yang terdapat di Kab. Kuningan yakni Curug Ciputri, tepatnya di bumi perkemahan palutungan Desa Cisantana Kec. Cigugur yang dikelola oleh Kantor Pemangkuan Hutan (KPH) Perhutani Wilayah II Jawa Barat. Pasalnya Gunung Ciremai sudah dijadikan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), kondisinya tidak terawat dengan baik.***
—————

SERING dilupakan banyak orang, yang dijual dalam pemasaran pariwisata hanyalah sebatas keindahan alam. Pantainya yang indah dengan suasana memikat tatkala matahari terbenam, atau panorama keindahan alam lainnya yang selama ini selalu ditampilkan sebagai primadona obyek wisata di Jawa Barat.
Dalam soal yang satu ini, Kabupaten Kuningan sangat boleh jadi tergolong minim. Keindahan alamnya, hanya di beberapa lokasi saja yang sebenarnya bisa dijual. Kuningan, salah satu wilayah di antara Kabupaten Cirebon (di utara) dan Kabupaten Ciamis (di selatan), sama sekali tidak memiliki pantai. Daerahnya di sebelah timur berbatasan dengan Jawa Tengah.
Namun, kondisi seperti itu sama sekali bukanlah berarti Kuningan tidak memiliki potensi yang bisa dijual untuk mengembangkan daerah tersebut menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Berbagai obyek wisata yang selama ini banyak dikunjungi antara lain Linggajati, Sangkanurip dan Waduk Darma, Cibulan, Talaga Remis, serta obyek wisata lainnya telah lama menjadi pilihan wisatawan, terutama wisatawan domestik.
Di Sangkanurip, selain tersedia hotel berbintang, wisatawan bisa memanjakan diri dengan mandi air panas dan spa. Jika suatu pagi berdiri di daerah yang dinamakan Linggajati, kita bisa menikmati bagaimana indahnya matahari terbit menyinari punggung Gunung Ciremai bagian timur yang menjulang pada ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut. Bagi mereka yang gemar bertualang dengan mendaki gunung, Ciremai merupakan medan tantangan menarik.
Nama Linggajati yang berasal dari kata “lingga” dan “jati”, erat kaitannya dengan batu berukuran tiga perempat meter yang terletak di salah satu lokasi pada ketinggian 2.300 meter. Daerahnya bisa ditempuh dari punggung gunung sebelah timur, setelah melewati jalan lurus terjal yang melelahkan. Batu yang dinamakan “lingga” itu oleh penduduk setempat dikeramatkan. Konon, tempat tersebut dipercaya pernah dijadikan tempat pertemuan wali songo yang dipimpin Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
***
KABUPATEN Kuningan tergolong sebagai wilayah kecil dengan luas 80.503 ha, sebagian besar wilayahnya terdiri dari lahan pertanian. Namun, sejarah dan latar belakang serta budaya daerahnya yang unik sekaligus menarik, sebenarnya merupakan kekayaan yang jarang dimiliki oleh daerah lainnya di Jawa Barat, sehingga daerah ini tidak patut berkecil hati. Jika cukup cekatan dan kreatif dalam mengembangkan pariwisata seja-rahnya, Kuningan tidak mustahil seperti maskot yang dijadikan lambang daerahnya, “Ke-cil-kecil Kuda Kuningan”.
Melalui berbagai peninggalan, baik pada zaman prasejarah maupun zaman perang kemerdekaan, daerah ini ibarat sebuah museum besar yang menyimpan kekayaan warisan budaya. Situs-situsnya tersebar hampir di semua wilayah, mencerminkan potensi yang tidak kecil. Keadaan itu sekaligus merupakan lahan tantangan para ahli untuk meneliti masa lalu daerah ini, mengingat sejarah Kuningan dapat dilacak hingga kira-kira 2.000 tahun sebelum masehi (SM).
Peninggalan zaman prasejarah sebagaimana ditemukan ahli kebudayaan Belanda Van der Hoop pada tahun 1935 sampai penelitian lanjutan yang dilakukan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sejak tahun 1963, membuktikan hal itu. Setelah melalui berbagai penelitian lanjutan, benda-benda purbakala pada masa megalitikum dan neolitik. Yakni kampak batu, beliung batu dan perunggu.
Selain itu, tiga situs lainnya yang lokasinya saling berdekatan di Sagarahyang diduga kuat sebagai lokasi Kerajaan Pasir Batang dengan rajanya Prabu Tapa Ageung. Seperti yang tersurah dalam legenda lutung kasarung. Hal ini dibuktikan dengan adanya situs Ciacra tempat ditemukannya patung sapi dan Dewa Syiwa, situs Linggayoni karena ditemukan lingga dan yoni serta situs pundek berundak.
Selain itu, ada kepercayaan masyarakat atas makam keramat yang terdapat di pasir Anjung, yakni Purbalarang, Purbaleuwih, Purbaendah, Purbakasih, Purbakancana dan Purbasari. Kalima putri eta anak Raja Prabu Tapa Ageung ti Karajaan Pasir Batang. Adiantara pasir batang dan pasir anjung ada lembah yang diberinama Cilutung. Ini adalah sebuah bukti sejarah. Namun perlu ada penelitian yang lebih serius.***
Feed Back dari pariwasata adalah datangnya orang perseorangan atau secara berkelompok ke suatu wilayah atau daerah dan orang atau kelompok tersebut melakukan aktifitas pembayaran dan pembelanjaan di lokasi tersebut. Jadi PAD akan meningkat jika yang datang tersebut membeli tiket tanda masuk suatu area, menginap di hotel dan atau berbelanja apapun yang terdapat di lokasi tujuan kedatangan. Tourism Development atau Pengembangan Kepariwisataan dengan tujuan meningkatkan pendapatan daerah jadinya tidak hanya terpaku pada pengelolaan tempat wisata, tetapi juga bagaimana caranya semua potensi yang ada didaerah bisa dikemas oleh fasilitator wisata dan pemerintahan setempat menjadi suatu daya tarik yang menjadikan orang mau berkunjung.
Setiap Daerah tentunya memiliki itu terlebih lagi Kuningan. Menurut pendapat saya yang pertama kali harus dilakukan adalah riset secara menyeluruh bukan secara parsial, potensi-potensi apa saja yang bisa dikembangkan yang membuat orang tertarik untuk datang. Kedua semua elemen kepariwisataan harus bisa membaca pasar yaitu kecenderungannya seperti apa atau biasanya sekolah-sekolah atau instansi2 dan juga keluarga itu menginginkan berkunjung ke tempat seperti apa. Kemudian siapkan faktor-faktor pendukung lainnya yang memudahkan orang yang berkunjung tersebut untuk betah berlama-lama tinggal di Kuningan. Langkah selanjutnya lakukan Promosi secara terus menerus ke luar daerah sampai ke luar negeri tentang potensi tersebut.
Adanya bukti sejarah di Kuningan itu memang suatu potensi, tapi apakah akan ada orang tertarik datang hanya untuk melihat ‘lingga’ atau batu zaman megalitikum, seperti yang terjadi dengan objek purbakala cipari?
Selain itu Ketika daerah lain bisa juga menjadikan area perkebunan strawberry, durian,rambutan dll bisa ramai dikunjungi pelancong, kenapa kuningan tidak.
Ketika beberapa daerah sudah mulai mengelola suatu kawasan pedesaan menjadi kawasan desa wisata karena melihat banyak program sekolah2 di kota yang mengadakan kurikulum mengenal alam..kenapa kuningan tidak mengembangkan itu??..
dan banyak lagi lainnya,..
Meskipun memang kesemuanya itu butuh proses dan tidak bisa dirasakan hasilnya sekarang ini, tapi bukan tidak mustahil kalau pemerintah memulai membangunnya secara terpadu bisa jadi 5 tahun atau tahun-tahun mendatang kuningan bisa jadi contoh sebagai derah yang mempunyai paket wisata terpadu yang komplit mulai dari wisata pendidikan, wisata sejarah, wisata agro, wisata desa, wisata hiburan/refreshing, wisata kuliner, wisata industri kecil, dll.
Amin..Maju selalu Kuninganku