tugu.jpg

Bunderan Cijoho, yang dianggap monumental oleh Pemkab Kuningan ternyata tidak saja mengurangi keindahan. Malah kondisinya terasa semakin sumpek dan mengganggu arus laulintas. Pasalnya, pembuatan tugu “bokor” tidak sesuai dengan luas jalan dan kondisi wilayah. Tugu “bokor” bukan memberikan kebanggaan kepada masyarakatna. Namun melahirkan gerendengan kurang sedap.

“Setiap saya berangkat kerja dari arah timur, menuju ke arah kota pandangan saya selalu terbentur pemandangan tidak sedap. Bagaimana tidak sedap? Tugu “bokor tidak saja menghilangkan rasa nyaman berlalulintas di daerah perempatan Cijoho yang kian hari kian macet. Terlebih tugu itu, komposisinya tidak memiliki persefektif nilai-nilai seni. Justru sebaliknya,” ungkap salah seoarang guru kesenian di salah satu SMA yang enggan dikorankan jati dirinya.

Sambungnya, “Sepintas, seperti obor PON. Kadang lebih jelek dari itu, seperti pohon bambu yang ditancapkan tanpa dibuang rantingnya. Padahal pembuatan tugu itu, memakan biaya cukup mahal. Namun hasilnya tidak memuaskan dari nilai-nilai art-nya (seni-red). Tugu “bokor” dilihat dari sisi mana saja tidak tampak hidup. Malah tampak kaku tidak sedap dipandang,” ujarnya.

Jika harus dibandingkan dengan karya seni di Jakarta, sambung nara sumber, tugu itu harus dipugar kembali. Salah satu contoh, lihat tugu Pancoran, patung tani, bundaran HI dan Monas sekali pun. Seharusnya perancang tugu atau pelaksananya melakukan study banding terlebih dahulu. Tidak asal jadi. Meski rancangannya dilombakan, tapi tidak menghasilkan yang istimewa.

“Coba saja lihaqt, bagian bawah atau lingkaran pondasinya terlalu terlalu besar sehingga marka jalan termakan habis. Sedangkan bagian batangnya terlalu kecil, tidak simetris dengan bokornya. Apalagi posisi bokor berdiri, tidak miring atau ditidurkan. Lihat saja, musim penghujan ini, tentu isinya dipenuhi air. Artinya, kuningan-nya akan terkena karat,” tuturnya.

Udin, salah seorang supir angkot menyebutkan, “Saya merasa kesulitan kalau harus berputar di tugu bokor. Lingkaran jalannya terlalu sempit. Kalau bisa marka jalannya diperlebar lagi, mungkin tidak menyulitkan pengguna kendaraan roda empat. Mobil saya masih kecil, tapi kalau sudah berhadapan dengan bus, truk gandengan dan mobil minyak tanah yang besar sangat kerepotan,” ujarnya.

Jika Pemkab tidak keberatan, kata Udin, lebih baik bagian bawah tugu dipugar sedikit. Biar kami lebih leluasa mutar. Jika tidak pun, maka Pemkab harus berkorban lagi dengan cara memerlebar tanah perempatan untuk dipergunakan jalan. Sebab volume kendaraan roda dua maupun empat semakin hari semakin bertambah. Jadi kemacetan dapat dihindarkan.

“Ceuk barudak angkot mah, cenah, nu ngarencanakeun tugu bokor atah keneh. Teu bisa nyieun jalan nu leuwih nyaman jeung teu matak picilakaeun. Kiwari tacan aya nu tabrakan, kumaha mun engke mobil geus leuwih padet?” tandes Udin. ***