<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Laratan Raja Menado Aya di Kuningan</title>
	<atom:link href="http://wartadesa2007.wordpress.com/2008/03/13/laratan-raja-menado-aya-di-kuningan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wartadesa2007.wordpress.com/2008/03/13/laratan-raja-menado-aya-di-kuningan/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Nov 2009 04:23:57 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: wartadesa2007</title>
		<link>http://wartadesa2007.wordpress.com/2008/03/13/laratan-raja-menado-aya-di-kuningan/#comment-529</link>
		<dc:creator>wartadesa2007</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 12:31:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wartadesa2007.wordpress.com/?p=302#comment-529</guid>
		<description>sebagai tambahan, kami terjemaahkan naskah laratan raja menado ke dalam bahasa Indonesia. mudah-mudahan dapat memberikan kepuasan. terima kasih dari redaksi.
-------------------------

Raja Menado

JACUB Punto, Raja ti Karajaan Sieu Sangihe Talau Manado Sulawesi Utara yang dibuang oleh Belanda Taun 1889 dari Menado ke Cirebon Provinsi Jawa Barat. Sebab ia melakukan perlawanan dengan tidak membayar pajak ke Belanda sampai meninggalnya di Desa Sangkanurip Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Tahun 1890. Ia dikuburkan di pemakaman umum Kampung Simenyan.
Jacub Punto, tidak dibawa ke kampung halamannya di Menado. Sebab pada masa itu, masyarakat tidak mengetahui asal-usulnya. Selain itu, pihak Belanda tidak ikut bertanggungjawab dengan mengurusi jenajahnya agar dapat dipulangkan ke Menado. Seperti diungkapkan Suparma (80) warga RT 23/7 Kampung Simenyan Desa Sangkanurp Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. 
“Jasad Yacub Punto, dibiarkan tergeletak seperti ke bangkai ayam. Tidak memiliki perasaan bahwa yang meninggal itu adalah manusia. Sepertinya Belanda merasa senang dengan kematian Yacub Punto. Sebab Belanda, sepertinya memiliki pemikiran tidak ada lagi pihak yang akan melakukan perlawan di Menado dan sekitarnya. Hal itu mengundang keperihatinan warga,” ungkapnya.
Suparma, menceritakan pengetahuannya, sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh tetua desanya. Pada saat itu, masyarakat Desa Sangkanurip dihebohkan dengan ditemukannya seorang mayat yang mengambang di tempat pemandian air panas di daerahnya. Padahal pemandian air panas itu milik bangsa Belanda (sekarang status kepemilikannya ada pada Pemkab Kuningan yang dikelola pihak swasta).
Masyarakat setempat tidak mengetahui identitas mayat tersebut. Pada masa itu, masyarakat merasa takut terhadap Belanda, sehingga tidak berusaha mengetahui identitasnya. Kendati demikian, mereka berusaha mengurusi mayat meski pun tidak mengetahui asal-usulnya. Begitu pun agamanya. Karena ketidak tahuan warga, mengurusi mayat disesuaikan dengan kondisi keagamaan masyarakatnya yakni Islam.
Mayat itu, di bawa ke balai kampung, kemudian dimandiin, disolatkan, dan dikuburkan di tempat pemakaman umum milik desa. Mengurus mayat sesuai dengan kebiasaan dan kemampuan, biar pun tidak diketahui mereka. “Andaikan tahu, bahwa yang meninggal itu bukan Islam, tentunya menggunakan cara-cara yang sesuai agamanya. Namun karena tidak tahu ya sesuai agama kami, Islam,” ucapnya.
Lanjutnya, “pada saat itu kita harus bertanya ke siapa mengenai identitas si mayat? Pada jaman itu kan disebutnya jaman susah (werit) masyarakat tidak lepas dari pengawasan Bangsa Belanda. Apalagi yang meninggal itu diwartakan merupakan tahanan politik Belanda. Ya secara terpaksa, menguburkannya tidak seperti sekarang-sekarang ini. Seperti mengadakan tahlilan (membacakan do’a untuk si mati – red)” tuturnya.
Pihaknya pun bingung, kata Suparma, kalau mau mengadakan tahlilan pun tempatnya di siapa? Ketua kampung saja menolak, apalagi masyarakat. Sebab warga dipenuhi ketakutan di laporkan ke pihak Belanda. Apalagi Belanda setiap malam melakukan penjagaan ketat di Desa Sangkanurip. Mengawasi seluruh gerak-gerik warga. Setelah menguburkan keadaan desa dicekam rasa ketakutan.
Selama itu pula identitas yang meninggal di pemandian air panas menjadi rahasia masyarakat. Namun setelah merdeka atau kurang lebih 69 tahun setelah wafatnya Yacub Punto, tepatnya Tahun 1959. Sebab ada keturunannya yang bernama GD Ponto, melakukan pencarian leluhurnya yang sudah meninggal. Setelah dibuang Belanda ke Cirebon.
Sejak itu, masyarakat mengetahui identitasnya, bahwa kuburan rahasia itu jelas asal usulnya. Ia adalah seorang raja dari Kerajaan Sieu Sangihe Talau Menado, Sulawesi Selatan. Ia dinobatkan jadi raja sejak Taun 1851-1890. selama dua tahun berada di tahanan di Cirebon dan sampai mengalami sakit parah serta tidak tertolong lagi. Padahal jika bangsa Belanda mengurus tahanan politiknya.
Barang tentu memberikan bantuan medis. Apalagi, ia seorang raja. Tapi perlakukannya sebaliknya, seperti memerlakukan kepada hewan. Hal itu membuat kecewa masyarakat Sangkanurip. Sewaktu dirinya mengetahui bahwa Jacub Punto merupakan seorang raja yang gagah berani. Memerjuangkan hak-hak rakyat yang dijajahnya dengan melakukan perlawanan baik secara fisik maupun menolak kebijakannya.
Sebab Yacub Punto merasa sayang terhadap rakyatnya yang diperlakukan tidak manusiawi oleh Belanda. Ia tidak ikhlas atau tidak terima perlakukan Belanda. Sebagai raja, tentunya memiliki rasa tanggung jawab dan cinta sehingga naik darah. Ia mengobarkan api perjuangan dengan melakukan kontak fisik. Banyak korban dari kedua belah pihak.
Selain itu, Yacub Punto, memerintahkan rakyatnya agar tidak membayar pajak. Akhirnya Belanda merasa kewalahan, dan tidak mampu melawan Yacub Punto yang dicintai masyarakatnya. Belanda pun melakukan politik de vide et emperanya. Antara masarakat diadudomba, supaya tidak percaya terhadap rajanya. Namun rakyatnya lebih percaya ke rajanya ketimbang Belanda.
Akhirnya Belanda pun melakukan tindakan terakhir. Ia menangkap Jacub Punto dan dibuang ke Cirebon. Raja Sieu Sangihe Talau itu ditangkap Taun 1888 dari keraton. Sebelumnya dijebloskan ke penjara di Talau Menado. Namun dikarenakan rakyatnya memberikan dukungan dan meminta dorongan dari penjara, akhirnya Belanda membawanya ke Cirebon Taun 1889.
Kejadian itu hampir seruap dengan para pemimpin dari Cirebon dan Kuningan  diantaranya Sultan Cirebon, Pangeran Girilaya dari Cirebon yang di buang ke Sulawesi. KH. Hasan Maolani yang berasal dari Desa Lengkong Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan di buang Belanda ke Menado sampai meninggalnya. 
“Tahun 1959, Jacub Punto diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Pemerintah pun membangun makamnya, dan setiap hari-hari besar nasional. Di tempat itu diadakan upacara. Namun paska reformasi, kuburannya tidak ada yang mengurus, apalagi diadakan upacara hari-hari besar nasional,” pungkasnya.***</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sebagai tambahan, kami terjemaahkan naskah laratan raja menado ke dalam bahasa Indonesia. mudah-mudahan dapat memberikan kepuasan. terima kasih dari redaksi.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Raja Menado</p>
<p>JACUB Punto, Raja ti Karajaan Sieu Sangihe Talau Manado Sulawesi Utara yang dibuang oleh Belanda Taun 1889 dari Menado ke Cirebon Provinsi Jawa Barat. Sebab ia melakukan perlawanan dengan tidak membayar pajak ke Belanda sampai meninggalnya di Desa Sangkanurip Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Tahun 1890. Ia dikuburkan di pemakaman umum Kampung Simenyan.<br />
Jacub Punto, tidak dibawa ke kampung halamannya di Menado. Sebab pada masa itu, masyarakat tidak mengetahui asal-usulnya. Selain itu, pihak Belanda tidak ikut bertanggungjawab dengan mengurusi jenajahnya agar dapat dipulangkan ke Menado. Seperti diungkapkan Suparma (80) warga RT 23/7 Kampung Simenyan Desa Sangkanurp Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat.<br />
“Jasad Yacub Punto, dibiarkan tergeletak seperti ke bangkai ayam. Tidak memiliki perasaan bahwa yang meninggal itu adalah manusia. Sepertinya Belanda merasa senang dengan kematian Yacub Punto. Sebab Belanda, sepertinya memiliki pemikiran tidak ada lagi pihak yang akan melakukan perlawan di Menado dan sekitarnya. Hal itu mengundang keperihatinan warga,” ungkapnya.<br />
Suparma, menceritakan pengetahuannya, sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh tetua desanya. Pada saat itu, masyarakat Desa Sangkanurip dihebohkan dengan ditemukannya seorang mayat yang mengambang di tempat pemandian air panas di daerahnya. Padahal pemandian air panas itu milik bangsa Belanda (sekarang status kepemilikannya ada pada Pemkab Kuningan yang dikelola pihak swasta).<br />
Masyarakat setempat tidak mengetahui identitas mayat tersebut. Pada masa itu, masyarakat merasa takut terhadap Belanda, sehingga tidak berusaha mengetahui identitasnya. Kendati demikian, mereka berusaha mengurusi mayat meski pun tidak mengetahui asal-usulnya. Begitu pun agamanya. Karena ketidak tahuan warga, mengurusi mayat disesuaikan dengan kondisi keagamaan masyarakatnya yakni Islam.<br />
Mayat itu, di bawa ke balai kampung, kemudian dimandiin, disolatkan, dan dikuburkan di tempat pemakaman umum milik desa. Mengurus mayat sesuai dengan kebiasaan dan kemampuan, biar pun tidak diketahui mereka. “Andaikan tahu, bahwa yang meninggal itu bukan Islam, tentunya menggunakan cara-cara yang sesuai agamanya. Namun karena tidak tahu ya sesuai agama kami, Islam,” ucapnya.<br />
Lanjutnya, “pada saat itu kita harus bertanya ke siapa mengenai identitas si mayat? Pada jaman itu kan disebutnya jaman susah (werit) masyarakat tidak lepas dari pengawasan Bangsa Belanda. Apalagi yang meninggal itu diwartakan merupakan tahanan politik Belanda. Ya secara terpaksa, menguburkannya tidak seperti sekarang-sekarang ini. Seperti mengadakan tahlilan (membacakan do’a untuk si mati – red)” tuturnya.<br />
Pihaknya pun bingung, kata Suparma, kalau mau mengadakan tahlilan pun tempatnya di siapa? Ketua kampung saja menolak, apalagi masyarakat. Sebab warga dipenuhi ketakutan di laporkan ke pihak Belanda. Apalagi Belanda setiap malam melakukan penjagaan ketat di Desa Sangkanurip. Mengawasi seluruh gerak-gerik warga. Setelah menguburkan keadaan desa dicekam rasa ketakutan.<br />
Selama itu pula identitas yang meninggal di pemandian air panas menjadi rahasia masyarakat. Namun setelah merdeka atau kurang lebih 69 tahun setelah wafatnya Yacub Punto, tepatnya Tahun 1959. Sebab ada keturunannya yang bernama GD Ponto, melakukan pencarian leluhurnya yang sudah meninggal. Setelah dibuang Belanda ke Cirebon.<br />
Sejak itu, masyarakat mengetahui identitasnya, bahwa kuburan rahasia itu jelas asal usulnya. Ia adalah seorang raja dari Kerajaan Sieu Sangihe Talau Menado, Sulawesi Selatan. Ia dinobatkan jadi raja sejak Taun 1851-1890. selama dua tahun berada di tahanan di Cirebon dan sampai mengalami sakit parah serta tidak tertolong lagi. Padahal jika bangsa Belanda mengurus tahanan politiknya.<br />
Barang tentu memberikan bantuan medis. Apalagi, ia seorang raja. Tapi perlakukannya sebaliknya, seperti memerlakukan kepada hewan. Hal itu membuat kecewa masyarakat Sangkanurip. Sewaktu dirinya mengetahui bahwa Jacub Punto merupakan seorang raja yang gagah berani. Memerjuangkan hak-hak rakyat yang dijajahnya dengan melakukan perlawanan baik secara fisik maupun menolak kebijakannya.<br />
Sebab Yacub Punto merasa sayang terhadap rakyatnya yang diperlakukan tidak manusiawi oleh Belanda. Ia tidak ikhlas atau tidak terima perlakukan Belanda. Sebagai raja, tentunya memiliki rasa tanggung jawab dan cinta sehingga naik darah. Ia mengobarkan api perjuangan dengan melakukan kontak fisik. Banyak korban dari kedua belah pihak.<br />
Selain itu, Yacub Punto, memerintahkan rakyatnya agar tidak membayar pajak. Akhirnya Belanda merasa kewalahan, dan tidak mampu melawan Yacub Punto yang dicintai masyarakatnya. Belanda pun melakukan politik de vide et emperanya. Antara masarakat diadudomba, supaya tidak percaya terhadap rajanya. Namun rakyatnya lebih percaya ke rajanya ketimbang Belanda.<br />
Akhirnya Belanda pun melakukan tindakan terakhir. Ia menangkap Jacub Punto dan dibuang ke Cirebon. Raja Sieu Sangihe Talau itu ditangkap Taun 1888 dari keraton. Sebelumnya dijebloskan ke penjara di Talau Menado. Namun dikarenakan rakyatnya memberikan dukungan dan meminta dorongan dari penjara, akhirnya Belanda membawanya ke Cirebon Taun 1889.<br />
Kejadian itu hampir seruap dengan para pemimpin dari Cirebon dan Kuningan  diantaranya Sultan Cirebon, Pangeran Girilaya dari Cirebon yang di buang ke Sulawesi. KH. Hasan Maolani yang berasal dari Desa Lengkong Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan di buang Belanda ke Menado sampai meninggalnya.<br />
“Tahun 1959, Jacub Punto diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Pemerintah pun membangun makamnya, dan setiap hari-hari besar nasional. Di tempat itu diadakan upacara. Namun paska reformasi, kuburannya tidak ada yang mengurus, apalagi diadakan upacara hari-hari besar nasional,” pungkasnya.***</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: wartadesa2007</title>
		<link>http://wartadesa2007.wordpress.com/2008/03/13/laratan-raja-menado-aya-di-kuningan/#comment-447</link>
		<dc:creator>wartadesa2007</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 11:48:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wartadesa2007.wordpress.com/?p=302#comment-447</guid>
		<description>Maaf yah, kami menggunakan Bahasa Sunda nanti akan kami terjemaahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Raja Sangihe Talau Manado, Sulawesi Utara saat di buang ke Cirebon Provinsi Jawa Barat. Mengalami sakit parah, saat beliau minta mandi air panas di Desa Sangkanurip Kec. Cilimus Kab Kuningan. Sakitnya tambah parah akhirnya meninggal di bak pemandian. Belanda tidak mengurus jenajahnya, dibiarkan tergeletakselama satu hari.
Akhirnya masyarakat setempat merawat jenajah dan dikuburkan di taman makam umum Desa Sangkanurip, sampai sekarang. Namun kondisinya kurang terawat.***</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf yah, kami menggunakan Bahasa Sunda nanti akan kami terjemaahkan ke dalam Bahasa Indonesia.</p>
<p>Raja Sangihe Talau Manado, Sulawesi Utara saat di buang ke Cirebon Provinsi Jawa Barat. Mengalami sakit parah, saat beliau minta mandi air panas di Desa Sangkanurip Kec. Cilimus Kab Kuningan. Sakitnya tambah parah akhirnya meninggal di bak pemandian. Belanda tidak mengurus jenajahnya, dibiarkan tergeletakselama satu hari.<br />
Akhirnya masyarakat setempat merawat jenajah dan dikuburkan di taman makam umum Desa Sangkanurip, sampai sekarang. Namun kondisinya kurang terawat.***</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: RYKERS</title>
		<link>http://wartadesa2007.wordpress.com/2008/03/13/laratan-raja-menado-aya-di-kuningan/#comment-446</link>
		<dc:creator>RYKERS</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 20:26:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://wartadesa2007.wordpress.com/?p=302#comment-446</guid>
		<description>bingung buset, itu intinya makam raja dari sangihe manado akhirnya di kubur di mana? bisa kasih tau... kumaha ga ngerti bahasa na... bingung pisan.. tapi mau tau.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bingung buset, itu intinya makam raja dari sangihe manado akhirnya di kubur di mana? bisa kasih tau&#8230; kumaha ga ngerti bahasa na&#8230; bingung pisan.. tapi mau tau.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
