“KUNINGAN menjelang Pilkada kok adem ayem aja? Tidak ada calon yang mau manggung apa?” Ujar seseorang yang tanpa sengaja berbincang-bincang di kedai warung kopi. Entah sebuah pernyataan tulus atau sekedar basa-basi atau ada makna tersembunyi dibalik ungkapan itu. Namun pernyataan itu terasa menggelitik di kepala. Betapa tidak, ada semacam dentuman yang tiba-tiba membentuk tanda tanya besar.
Seorang kawan, tiba-tiba masuk. Sebut saja namanya Ridwan alias mirip pemuda bangsawan, karena ia nggak tahu kalau pemikirannya akan menjadi sebuah tulisan. Ia pun terlibat perbincangan yang semula remeh temeh, menjadi sebuah pembicaraan serius dengan orang yang tidak dikenalnya. Namun akhirnya tahu nama orang itu. Sebut saja namanya Armad alias anak baru melek demokrasi.
Keduanya tampak serius. Begitu seriusnya yang namanya rokok tidak pernah berhenti dari mulutnya. Puntung rokok “pabalatak” di lantai warung bersama abunya. Sesekali meneguk kopi. Kadang mereka menerawang, atau memijit-mijit jidatnya. Asap rokok “mulek”. Aku tersenyum, mirip sekali dengan adegan film G 30 S PKI, yang dulu sering diputar di TVRI.
Ridwan, “Kuningan itu tidak pernah kondusif tapi terus bergejolak. Tapi gejolaknya tidak pernah dipermukaan. Contoh sederhananya Kuningan di 2008 ini akan Pilkada tapi ti permukaan adem ayem saja. Tapi kan di bawah terus bergejolak, sudah saling dukung-dukungan. Setiap hari para kandidat calon bupati sudah kampanye di mana-mana. Ini salah satu bukti,” ungkapnya.
Armad, “Pilkada itu urusan cemen alias tidak menarik untuk ditelaah. Sebab sudah pasti kemenangan ada di satu pihak. Tapi masih ada persoalan-persoalan besar yang harus tuntas sebelum Pilkada berlangsung. Saya dengar, ada pejabat yang dipanggil kejaksaan dan pernah tertulis di surat kabar. Tapi sampai saat ini adem ayem aja, tidak ada gejolak!” jawabnya.
Ridwan, “Itu sisi lain dari Pilkada, Bung! Memang ada keterkaitan dengan masa depan Kuningan sendiri. Sebab bupati mendatang belum tentu akan melindungi orang-orang bermasalah. Tapi itu kan proses alam. Nah topik yang dibahas adalah Pilkada Kuningan tidak memerlihatkan tanda-tanda yang signifikan di permukaan. Supaya masyarakat sadar demokrasi,”
Armad, “Justru ini letak persoalannya. Dalam demokrasi harus transfaran alias terbuka. Jadi supaya tidak menjadi “cucuk” alias duri dalam daging. Seharusnya dibersihkan dulu. Jangan sampai gerbong pemerintahan dijadikan alat kampanye. Gerbong pemerintahan itu harus terbebas dari pengaruh politik praktis. Kan sudah jelas dalam perundang-undangannya,”
Ridwan, “Lho, pembicaraannya tidak nyambung. Pilkada itu berkaitan erat dengan calon, masyarakat dan keutuhan daerah. orang-orang pemerintah itu juga kan rakyat yang nantinya harus memilih. Artinya mereka masih memiliki hak,” ujarnya sambil matanya melotot.
Armad memotong, “Begini, Bung! Dalam Pilkada harus terbebas dari polusi birokrasi. Artinya birorasi jangan diseret-seret ke tengah-tengah konflik Pilkada. Sebab jika ditarik maka ke depan akan runyam atas dukung-dukungan itu. Bagaimana seseorang tiba-tiba akan menjadi kepala dinas/badan atau kantor karena yang didukungnya menjadi bupati. Lalu bagaimana dengan yang tidak mendukungnya? Apakah harus dipensiunkan atau distafahlikan?”
Sambungnya, “Begitu pun dengan aparatur desa. Jangan diajak-ajak masyarakatnya mendukung salah satu calon. Justru si calon itu sendiri harus mengampanyekan dirinya ke masyarakat dengan bantuan gerbong partai. Sebab partai yang mengusung calon, bukan pemerintah. Baik dari pemerintah tingkat kabupaten sampai ke tingkat RT/RW. Itu namanya sikap netralistas.”***

8 comments
Comments feed for this article
April 14, 2008 pada 2:32 pm
Alang
Ya ya ya… Yang masih menjabat udah bagi-bagi kalender dengan foto diri…
Mei 19, 2008 pada 7:34 am
anggi
memang pada saat ini konsentrasi terhadap pilkada kuningan ga akan pernah terperkirkan oleh rakyat. hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,antara lain :
1.faktor orientasi
rakyat kuningan menurut saya belum mengetahui kearah mana pola pembangunan daerah ini,sehingga apapun bentuknya kebijikan yang dilahirkan tidak akan berpengaruh.
2.faktor ekonomi dan sosial
kondisi perekonomian yang dialami masyarakat kuningan pada saat ini akan mempengaruhi interaksi mereka dalam dunia politik yang sedang terjadi di daerah ini. mereka cenderung lebih memikirkan berapa kisaran harga bbm yang akan naik pada akhir bulan ini. serta apakah mereka akan mendapatkan bantuan langsung yang diberikan oleh pemerintah,tapi faktor ini hanya terjadi pada masyarakat menengah kebawah.
atas beberapa hal diatas maka itu yang mempengaruhi kenapa pilkada kuningan masih terasa sunyi,meskipun pelaksanaanya tinggal beberapa bulan lagi.tapi dengan kenyaataan seperti diatas tidak membuat surut semangat demokrasi di daerah pegunungan ciremai yang terkenal dengan ikon kuda kuningan tersebut..
Mei 22, 2008 pada 7:50 am
anggi
aduh…saya belum dapat kabar mengenai perkembangan pilkada kuningan yang terbaru nich..kalau ada yang tau tolong kasih tau dong…hatur nuhun pisan sadayana
Mei 24, 2008 pada 4:55 pm
wartadesa2007
makasih atas silaturahminya. mudah-mudahan warta desa memberikan informasi yang mampu melenyapkan dahaga.
Mei 26, 2008 pada 8:36 am
udi
Saya sebagai warga kuningan yang ada diperantauan menginginkan pilkada di kuningan bejalan dengan sukses sesuai dengan moto kuningan ‘ASRI’ kepada para elit politik dikuningan supaya bisa menjaga dan menjunjung tinggi demokrasi.
Juni 11, 2008 pada 9:16 am
Debin
Ya memang siapapun yang nanti jadi memimpin kuningan mungkin tidak akan berpengaruh banyak terhadap kondisi masyarakat kuningan secara keseluruhan. Hanya saja memang siapa nanti yang jadi ya akan berpengaruhnya hanya disekitar lingkup orang-orang dan lembaga-lembaga pemerintahan. Makanya banyak birokrat yang “belingsatan” dukung mendukung gak karuan, dengan harapan bukan memprioritaskan kepentingan masayrakat tapi lebih ke kepentingan mereka sendiri.
Tapi sebagai warga negara yang baik,..Mari kita dukung dan sukseskan Pilkadasung Bupati dan wakilbupati kuningan.
dan siapapun warga yang berada di perantauan tong hilap ka lemah cai kuningan. Apapun yang bisa saudara2 sumbangkan untuk tanah kelahirannya sumbangkanlah baik itu materi, pikiran, tenaga…maupun hanya sekedar doa untuk kuningan yang gemahripah loh jinawi, adil makmur aman sejahtera..amin
Juli 28, 2008 pada 5:39 am
an
Saya dukung Pak Aan Soeharsono menjadi bupati kunigan periode 2008 – 20013. saya salut sama pak Aan yang selama menjadi wakil bupati telah banyak memberikan pemikiran – pemikiran untuk pembangunan kab. Kuningan selama ini. Aan adalah figur yang bersih dan dapat dipercaya. HIDUP PAK AAN ……… saya mendukungmu
Oktober 12, 2008 pada 8:16 am
AMIN S
bilamana pa aang menang mudah-mudahan jangan sampai mendzalimi seperti yang sudah. bertanding secara ksatria itu wajib jangan sampai menggunakan cara-cara yang tidak etis seperti memakai surat rekomendasi palsu pdip 2004, saya hanya seorang dari masa lalu yang dikecewakan oleh sistem politik yang korrupt.
mudah-mudahan rakyat sudah melek bisa memilih yang terbaik dari 3 calon yang terburuk.
salam.
H. AMIN SANTONO