You are currently browsing the daily archive for Oktober 12th, 2007.

belanja.jpg

Keterangan gambar :

Salah satu toko pakaian yang ada di jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan tampak sepi pembeli. Padahal perayaan idul fitri 1 Syawal 1428 H tinggal dua hari lagi. Sepinya pembeli disebabkan beberapa faktor yakni perekonomian masyarakat belum pulih paska krisis ekonomi 1998. Lambatnya penanganan ekonomi oleh pemerintah sangat terasa sekali dampaknya. Sehingga masyarakat seolah-olah tidak beranjak dari kemiskinan yang sekamin hari kian parah.

===============================================================

Dampak Kebijakan Kota Besar

Sehari menjelang idul fitri 1 Syawal 1428 H, para pedagang pakaian khususnya di Jalan Siliwangi Kabupaten Kuningan belum diserbu pengunjung. Padahal tahun sebelumnya 2-H, toko pakaian kewalahan melayani pembeli. Kadang stok barang sampai habis sehingga harus melakukan order ulang guna memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya terhadap pakaian.

Sepinya pembeli menurut beberapa sumber menungkapkan bahwa idul fitri kali ini masyarakat tengah dihadapkan pada tingkat ekonomi makro yang terus menurun. Lahan pekerjaan seperti di kota-kota besar terganggu dengan adanya operasi pedangan kaki 5 yang dilakukan oleh Satpol PP (trantrib).

Contoh kecilnya Jakarta, selama 2007 kerap melakukan pembongkaran terhadap pedang kaki lima. Juga melakukan operasi terhadap warung penganan yang buka pada siang hari saat bulan puasa. Tindakan yang dilakukan Satpol PP di kota-kota besar yang mengatasnamakan peraturan daerah (Perda) maupun kebijakan yang digariskan oleh gubernur Jakarta. Maupun kota-kota besar di Jakarta.

Pembongkaran atau operasi ilegal secara hukum namun tidak manusia secara manusia berdampak pula terhadap ekonomi masyarakat daerah yang merantau. Para perantau, mengais rejeki di kota-kota besar terbatas pada sektor informal. Sehingga keberadaannya kerap dianggap mengganggu ketertiban. Contoh sederhana para perantau asal Kabupaten Kuningan.

Mereka rata-rata menjadi pedagang, mie rebus, bubur kacang ijo, rokok gendong atau mangkal di halte-halte. Selain itu ada penjual nasi goreng, air dan pekerja kasar lainnya seperti tukang gali pipa PDAM, kabel PLN dan Telkom. Ada pula tukang menurunkan pasir dari truk. Para pedagang ini mengharapkan selama penjualan di bulan ramadhan mampu meraup keuntungan.

Namun harapan itu gagal total, sebab pada siang hari dilakukan rajia oleh elemen masyarakat yang mengatasnamakan agama maupun aparatur pemerintah. Hasilnya, mereka lebih memilih menutup warungnya. Ujung-ujungnya, penghasilan mereka berkurang sebab hanya menjual pada malam hari. Penjualan malam hari tentunya tidak seramai siang hari.

Dampak dari sistem yang mengambinghitamkan parapedagang sektor informal dirasakan oleh masyarakat daerah. Diantaranya, penghasilan mereka yang diperuntukan membiayai keluarga dari sandang, pangan dan papan khususnya saat idul fitri menjadi berkurang. Tidak sedikit, masyarakat perantau di idul fitri sekarang tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga.***

I.K.L.A.N

Citizen Journalism

Warta Desa DIHADIRKAN SEBAGAI CITIZEN JOURNALISM. SIAPA PUN BERHAK UNTUK MENGIRIMKAN INFORMASI UNTUK DIJADIKAN BERITA. NAMUN TERLEBIH DAHULU MENDAPAT PERSETUJUAN REDAKSI.

Arsip

a

 

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031