Setiap menjelang idul fitri, (dulu ketika masih di Jakarta) selalu ada perasaan ingin pulang ke Kuningan. Ingin merasakan suasana idul fitri yang lebih khusuk setelah menjalani ibadah puasa di Metropolitan. Sebab berpuasa di kota sesibuk itu, kadang kita dihadapkan pelbagai komunitas. Sehingga pengujiannya terasa lebih berat.
Jika berlebaran di kampung halaman, dalam khayalan. Ada kenikmatan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada ketulusan batiniah yang mengalir secara deras, baik di pelataran tetangga, handai taulan, kakak, adik, sepupu maupun orang tua. Seolah-olah ada sebuah pelita yang terus menyala.
Mengingatkan kemasalampauan diri, juga kemasadepanan yang lebih terang. Mungkin itu bisa disebutkan energi baru untuk lebih kokoh di Metropolitan yang serba tidak terduga tapi terencana.
Ketika telapak tangan saling bersentuhan, ada titik air mata, ada suara terbata dan parau. Ada ketulusan yang mengalir, dalam doa-doanya. Ada energi pendorong untuk kian merekatkan kekentalan persaudaraan yang sekian tahun melemah di terjang tradisi Metropolitan.
Hampir dua puluh tahun, tidak merasakan perasaan seperti itu. Ada perasaan yang hilang tiba-tiba kembali dengan roh berbeda. Rasa persaudaraan ingin saling membantu dan berbagi pengalaman untuk meretas masa depan lebih baik. Suara hati, untuk tetap diam di desa dan tidak kembali ke Metropolitan terus mendenging di kepala.
“Pulang, nak…” pinta ibu kala itu. Tapi selalu dijawab nanti dan nanti. Setelah Metropolitan tidak ramah lagi Tahun 1992-1993 dan 1986. Apalagi menjelang reformasi 1997-1998 keramahan Metropolitan semakin lenyap. Tidak bisa diajak berdamai, justru semakin mengobarkan perasaan takut dan ngeri. Akhirnya Perintah ibu pun dituruti, pulang kampung. Kembali menjadi orang dusun.***

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini