Petani tembakau di Kecamatan Lebakwangi dan Maleber, Kab. Kuningan akan memperoleh kucuran dana dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Kuningan sebagai upaya peningkatan produksi serta mutu tembakau yang mempunyai daya saing dipasaran global. Kucuran dana yang berasal dari APBD Tahun 2005, sekira Rp. 50 juta itu diharapkan dapat merangsang petani tembakau agar mampu membudidayakan tembakau jenis Darma yang sudah mampu bersaing di pasar regional Jawa Barat.
Menurut keterangan Ir. Dudi Usmadi, Kabid Produksi Dinas Hutbun Kuningan saat ditemui di ruang kerjanya. Masyarakat petani di Kuningan, sebetulnya tidak mempunyai tradisi menanam tembakau. Pasalnya tanaman tembakau harus berada pada ketinggian kurang lebih 700 dpl di atas permukaan laut, suhu sekira 25 sampai 28 derajat. Mungkin kerena daerahnya dianggap kurang memenuhi persyaratan, kata Dudi, para petani di Kab. Kuningan secara umum terpola untuk menanam padi, kacang-kacangan, serta umbi-umbian.
Pola bertani yang berlangsung lama itu, sangat sulit dirubah sehingga perlu reorientasi terlebih dahulu. Selain kesulitan mengubah orientasi petani, juga daerah yang cocok untuk menanam tembakau sangat sulit, sehingga pihak Pemkab perlu turun tangan. Setelah melakukan survey,ditemukanlah daerah yang cocok untuk dijadikan “pilot projek” yaitu Desa Karangsari dan Gunung Sirah Kec. Darma. Dua desa ini sangat cocok untuk menanam tembakau, letak daerahnya 700 dpl diatas permukaan laut dan suhunya relatif stabil antara 27 sampai 30 derajat.
“Setelah melakukan reoreintasi kepada para petani di Desa Karangsari dan Gunung Sirah, ternyata mereka sanggup menanamnya dan ternyata berhasil. Hanya saat itu tembakau yang dibudidayakan adalah tembakau lokal. ” papar Dudi.
Bertitik tolak dari pengalaman itu, kata Dudi, pihaknya terus melakukan pembudidayaan tembakau lokal dan hasilnya cukup menggembirakan, mendapatkan sambutan dari berbagai pihak. Atas keberhasilan itu, diperoleh nama tembakau jenis Darma, sesuai dengan nama daerah yang pertama kali mempopulerkannya. Tembakau jenis Darma dikembangkan pula ke wilayah lain seperti Kec. Lebakwangi dan Maleber, hasilnya cukup menggembirakan.
“Tembakau jenis Darma sangat disukai pasar karena aromanya, serta rasanya tidak sengak atau membuat batuk,” ucapnya tanpa bermaksud promosi.
Pasar yang sudah mempercayai tembakau jenis Darma dan mampu menyerap dalam oplah tinggi baru pasar Tanjungsari Kab. Sumedang. Namun masih perlu upaya untuk mempertahankan kondisi pasar yang sudah diraih karena persaingan tembakau sangat ketat.
“Tembakau yang selalu menjadi tolok ukur di pasar dunia adalah tembakau jenis Virginia. Sementara tembakau lokal baru dikonsumsi oleh pabrik rokok lokal. Supaya mampu bersaing, tentunya para petani tembakau di Kec. Lebakwangi dan Maleber perlu dibantu, dan pihak Pemkab telah mengalokasikan dana sebesar Rp. 50 juta,” tandas Dudi.***

No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini