You are currently browsing the daily archive for September 13th, 2007.

gizi-buruk.jpg

Oleh : DIDIN SYAFARUDIN

 

Derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Kuningan belum sepenuhnya sesuai harapan. Masih terdapat kelompok masyarakat yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang bagi bayi di bawah lima tahun (Balita). Hal tersebut, memang tidak nampak ke permukaan dan kerap diselimuti agar tidak diketahui publik. Mungkin ada beberapa faktor persoalan ini terus disembunyikan.

Diantaranya, paraorang tua yang memiliki anaknya mengalami gizi kurang dan gizi buruk enggan mengutarakan ke publik. Atau memang pihak Puskesmas atau Dinas Kesehatan tidak memiliki kemampuan untuk menangani. Atau memang di level bawah tidak berupaya melaporkan persoalan itu ke tingkat kabupaten. Atau memang seluruh elemen kesehatan tidak peduli lagi?

Seperti yang menimpa Roni (18 bulan) anak Udin, warga Dusun Puhun RT 2/1 Desa Kertaungaran, mengalami gizi buruk. Begitu pula Jana (20 bulan) anak jasih warga Dusun Wage RT 09/05 Desa Kertaungaran, mengalami gizi kurang. Kasus yang terjadi di Desa Kertaungaran merupakan salah satu kasus gizi buruk dan gizi kuang dari sekian ratus anak yang teradapat di Kabupaten Kuningan.

Kejadian gizi buruk dan gizi kurang, berdampak terhadap pertumbuhan suatu generasi. Hal ini sangat merugikan keberlangsungan suatu alih generasi baik yang terjadi di daerah maupun nasional. Andaikan saja, yang mengali gizi buruk ini satu desa satu orang maka jika dikalikan 375 desa yang ada di Kabupaten Kuningan maka jumlahnya sudah 376 orang.

Artinya, dalam satu generasi di Kabupaten Kuningan akan mengalami missingling atau generasi yang hilang. Pasalnya, Ketua PKK Kabupaten Kuningan juga pernah menemukan Balita yang terserang gizi buruk di Kelurahan Awirarangan. Hal ini cukup mengundang keperihatinan terhadap kinerja Dinas Kesehatan yang secara struktural telah ada di desa-desa.

Atau memang perhatian Pemkab Kuningan sendiri terhadap persoalaan mendasar ini belum mampu menangani secara serius? Persoalan gizi buruk dan gizi kurang sangat komplek. Seperti bagaimana kondisi ekonomi keluarga bersangkutan? Apalagi dewasa ini persoalan ekonomi menjadi persoalan utama yang dihadapi masyarakat. Sebab ekonomi terkait dengan lapangan kerja yang tersedia.

Seperti diungkapkan Elis, Bidan Desa Kertaungaran. Terjadinya gizi buruk yang menimpa dua keluarga di desa binaannya terkait dengan ekonomi keluarga. Roni dan Jana merupakan salah satu contoh, mereka berasal dari keluarga kurang mampu atau dalam bahasa Pemkab, keluarga pra sejahtera (Pra KS). Persoalannya bagaimana mengatasi masalah ekonomi masyarakat.

“Secara kerja, saya telah melakukan semampunya membantu mereka dengan memberikan gizi tambahan. Baik olahan maupun makanan produksi kalengan. Namun hal itu belum sepenuhnya mengatasi gizi buru. Bantuan makanan tambahan itu terbatas, mungkin hanya mampu sebulan dua bulan. Tapi yang mendasar adalah bagaimana perbaikan ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Membicarakan persoalan ekonomi keluarga memang bukan bidangnya. Ada dinas/badan terkait dengan persoalan itu. Hanya melakukan pembenahan persoalan ini harus ada koordinasi dan pelbagai elemen sehingga dapat tertangani secara paripurna. Menyeleasikan gizi buruk atau gizi kurang perlu ada upaya serius dari semua kalangan elemen masyarakat.**

I.K.L.A.N

Citizen Journalism

Warta Desa DIHADIRKAN SEBAGAI CITIZEN JOURNALISM. SIAPA PUN BERHAK UNTUK MENGIRIMKAN INFORMASI UNTUK DIJADIKAN BERITA. NAMUN TERLEBIH DAHULU MENDAPAT PERSETUJUAN REDAKSI.

Arsip

a

 

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930