You are currently browsing the daily archive for September 10th, 2007.
Ridwan (28), warga Desa Pamulihan Kecamatan Cipicung mengutarakan uneg-unegnya kepada Warta Desa. “Saya hampir setua ini (seumurnya-red) belum merasakan kasih sayang dari ayah. Padahal rasa kangen, rindu atau apalah namanya terus menggunung. Ingin diperhatikan, ingin dimanja atau setidak-tidaknya dibelai,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia pun tidak dapat melanjutkan kata-katanya sejenak. Matanya merah sembab, dan berlinang air mata. Keharuan pun muncul dalam suasana hening. Ada tetes kesenyapan yang tiba-tiba menyeruak di ruang tamu. Lama-lama, ia pun bertutur kendati tidak lancar. Sekali-kali diiringi leleran air mata.
Kadang suaranya terbata-bata. Kadang pula, berhenti sejenak menenangkan riak emosinya yang mengalir deras dari hati, kepala, kerongkongan. Berjejal-jejal dilidahnya.
Ridwan, sejak usia delapan bulan sudah ditinggalkan bapaknya. Ibunya pun seolah-olah tidak mau mengurus dengan baik. Ia dititipkan di neneknya, dan dia pula yang mengurus sampai dewasa.
Sementara bapaknya yang memang juragan (ceuk basa kasarna mah duit oge nepi ka koperan) tidak pernah menengok. Memberinya uang jajan atau setidak-tidaknya kala sakit membawa ke rumah sakit.
Segala keperluannya dipenuhi oleh nenek dan kakeknya. Masih untung, Ridwan disekolahkan sampai tamat sekolah menengah atas. Saat itu, ia tidak pernah berpikir ada bapak dan ibu. Sebab kasih sayangnya telah diperoleh sebagaimana mestinya. Kakek dan neneknya, telah dianggap orang tua sendiri.
Apalagi, nenek dan kakeknya tidak bercerita panjang lebar mengenai dirinya. Akhirnya, a pun tidak berpikir lain-lain. Neneknya biasa dipanggil Mamah, sedang kakeknya disebut Bapak. Namun saat keduanya dipanggil Allah SWT untuk kembali ke haribaannya. Barulah mereka bercerita. Bahwa ia adalah cucu dari mereka.
Pecahlah tangis Ridwan. Pecah pula hati yang selamanya menganggap keduanya adalah aorang tua kandungnya sendiri. Neneknya pun bercerita bahwa Ibunya masih ada, dan tidak jauh dari rumahnya sendiri. Sedangkan bapaknya memang pengusaha di Jakarta.
Selepas, informasi itu diperolehnya Ridwan pun mencari tahu keberadaan ayahnya. Akhirnya diketemukan juga. Namun pertemuan itu bukannya membuat dirinya bahagia. Justru sebaliknya. Ayahnya, memang mengakui, tapi tidak begitu peduli terhadap anaknya.
Sampai ia menikah dan memiliki anak yang cantik serta ganteng sebanyak 3 orang, ayahnya tetap tidak peduli. Pernah suatu ketika, tidak memiliki beras. Ridwan pun terpaksa meminta ke orang tuanya. Namun apa jawabannya, dirinya tidak diberi beras itu.
Akhirnya suatu ketika, ia pun menanyakan ke ayahnya, “Bapa, naha bener Ridwan teh anak Bapa?” Jawabnya, “Bener silaing anak dewek, kunaon kitu?”
Jawaban itu sepertinya hanya sebuah lifesirvice belaka. Buktinya sampai saat ini, orang tua yang memang doyan kawin dan banyak anaknya itu. Meski hartanya banyak, tapi tidak pernah memedulikan anak-anaknya yang hidupnya di bawah garis kemiskinan.*** (aos salengkepna di warta desa edisi cetak)
Bagi rekan-rekan yang mampir ke blog warta desa, silahkan mampir di ruang tamu dengan menuliskan secangkir kopi, teh manis, goreng pisang, atau jajabur.
(tim kreatif warta desa)

Komentar Terakhir