You are currently browsing the daily archive for September 8th, 2007.
Oleh : C. RUHYAT
Sesuai penghargaan yang diberikan Pemerintah Pusat ke Kabupaten Kuningan sebagai Kabupaten Siaga. Tentunya berdampak terhadap kesiapan sumber daya manusia (SDM) di lapangan juga perangkat pendukungnya. Diantaranya ketersediaan bidan desa di setiap desa. Partisifasi masyarakat terhadap gerakan itu perlu ditingkatkan kesadarannya sehingga berimplikasi kepada hasil optimal.
“Saya membentuk desa siaga merupakan kewajiban dari konsekuensi pekerjaan selaku bidan desa. Namun keberhasilan itu bukan berada di pundak saya saja tapi di seluruh elemen masyarapat Desa Pajawanlor. Tujuan pembentukan desa siaga meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat sangat penting artinya,” ungkap Eva Widiyanti, AM. Keb.
Kendati demikian, dirinya hanya mengantarkan Desa Pajawanlor memiliki organisasi desa siaga. Pembentukan itu kepengurusannya diserahkan kepada masyarakat setempat yang kini dipimpin oleh Eman Suherman. Jika sudah terbentuk, maka segala tindakan dan aturan sepenuhnya kewenangan organisasi. Sedangkan ia sebagai konsultasi kesehatan.
Sebelum terbentuk desa siaga, sambung Eva, dibutuhkan beberapa persyaratan diantaranya ada bank darah dan pembentukan kader desa siaga. Merekalah yang nantinya akan menjalankan fungsi desa siaga. Bank darah, tidak selalu harus ada penyimpanan darah di laboratorium atau tempat penyimpanan. Namun dapat dijuga melalui pendataan masyarakat sebagai donor darah kepada warga yang membutuhkan.
“Contohnya begini. Jika ada orang yang melahirkan, jauh-jauh hari sudah ada pendonor darah yang sudah siap. Jika diperlukan maka orang tersebut akan mendonorkan darahnya. Hal ini bisa juga disebut bank darah. Begitu pun saya, harus siap setiap saat. Tidak saja pada jam-jam tertentu atau sedang bertugas. Tapi saat tengah malam atau subuh, jika diperlukan akan datang ke pasien,” ungkapnya.***
Oleh : C. RUHYAT
Karena dinilai sebagai suatu kecamatan yang banyak memiliki koperasi yang sehat dan membantu masyarakat, Kecamatan Cibingbin dipilih oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Propinsi Jawa Barat sebagai kecamatan koperasi.
Menurut Kepala Dinas KUKM Kabupaten Kuningan Drs Sadil Damini DJ yang didampingi oleh Kabid Bina Koperasi Drs H M Gozali MSi,menerangkan kriteria terpilihnya sebagai kecamatan koperasi syaratnya minimal harus mempunyai 3 koperasi yang sehat baik itu usahanya maupun organisansi dan keungannnya.
“Yang menilai bukan kita tapi langsung dari propinsi,kita disini hanya mengajukan saja,” ungkap Sadil, sambil menambahkan Dengan dipilihnya sebagai kecamatan koperasi ,di dalamnya ada desa koperatif atau desa pertumbuhan.
Karena koperasi di Kuningan banyak yang sukses dan ada yang berhasil sebagai juara dalam perlombaan tingkat Nasional seperti Koperasi Wanita Permata pada tahun 20006,tidak heran kalau Kabupaten Kuningan di sering dikunjungi oleh Kabupten lain untuk study banding.
Jumlah koperasi di Kuningan berjumlah 502 sampai saat ini yang baru melaksanakan RAT sebanyak 236.
“Secara keseluruhan koperasi di Kuningan berjalan baik,jumlah yang belum melaksanakan RAT pada akhir tahun biasa akan serentak mengelar,” katanya lagi.***
Oleh : ENDANG KURNIA
Kepala Desa Randusari Kecamatan Cibeureum, Tata Rasta mengatakan dalam memimpin lembaganya, ia mengacu pada sifat kebersamaan dan gotong royong. Juga rasa kebersamaan dan rasa memiliki serta ditunjang rasa tanggung jawab. Sikap seperti ini dalam implementasinya agak sulit tanpa ada dukungan dari pelbagai elemen masyarakat di desanya.
“Seperti pekerjaan rumah yang sampai saat ini belum selesai diantaranya pengerjaan jalan hotmix di lingkungan desa. Penghotmikan jalan sepanjang 2.500 meter dan lebar 2,5 meter baru diselesaikan sepanjang 524 meter. Hal ini dibutuhkan sikap tanggung jawab baik dari aparat desa, masyarakat dan Pemkab Kuningan dalam penyelesaiannya. Tanpa ada itikad seperti itu akan tetap menggantung,” ungkapnya.
Pekerjaan yang belum selesai, sambung Tata Rasta, akan berdampak. Dampak yang pertama jika jalan yang sudah selesai akan rusak kembali karena tergerus air hujan dan beban kendaraan. Dampak kedua timbulnya biaya pemeliharaan yang cukup besar supaya tidak lekas rusak. Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari Pemkab Kuningan.
Tanpa adanya perhatian serius jalan yang sudah dihotmik sebelum seluruhnya selesai akan rusak kembali. Memang diakui dirinya, kendala terberat adalah pengerjaan yang sepotong-sepotong atau dilakukan dua kali termin. Jika saja hotmik yang sudah selesai dikerjakan, tidak ada pemeliharaan akan rusak kembali. Sedangkan sebagian lagi masih baru. Bukan kah akan menghasilkan pekerjaan kurang optimal?
Pada musim penghujan seperti ini. Jalan yang belum dihotmik kondisinya sangat memerihatinkan. Kendati kondisi demikian, kendaraan yang ke luar masuk tidak dapat dihentikan. Sehingga akan berdampak terhadap jalan yang sudah selesai. Apa aspalnya mengelupas atau tergerus air. Ia mengharapkan dalam waktu dekat, sisa jalan yang belum dihotmix dapat direalisasikan dalam waktu dekat.***

Komentar Terakhir