You are currently browsing the daily archive for September 6th, 2007.
Oleh : A. SALAM
Kepala Desa Sangkanherang, Kecamatan Jalaksana, Ahmad Suteja, mengungkapkan. Masyarakat di desanya, sebagian besar adalah petani. Sehingga kebutuhan pokoknya dipenuhi dari hasil bercocok tanam. Mereka jual ke berbagai pasar tradisional yang ada di Kabupaten Kuningan. Namun sayangnya, kegiatan ekonomi mereka tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai. Contohnya jalan yang menghubungkan Desa Sangkanherang dengan Sembawa, saai ini kondisi sudah rusak parah.
Ia menuturkan, penduduk warganya berjumlah 2.131, sedangkan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 599 dengan mata pencaharian sebagai petani agro, seperti pisang dan ubi jalar. ”Bantuan dari Pemkab Kuningan kami pergunakan untuk biaya rehabilitasi jalan sepanjang 700 meter dan pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Sangkanherang dan Desa Sanaya,” ujarnya.
Biaya rehabilitasi jalan, diperoleh dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan pelaksanaannya biaya tersebut dilakukan secara goongrenteng atau bersama – sama dengan Desa Sayana. Selain itu biaya ADD juga dipergunakan untuk membiayai rehabilitasi ruangan BPD dan sarana fisik lainnya untuk kepentingan umum. Oleh karena itu, keinginan masyarakat Desa Sangkanherang untuk merehabilitasi jalan yang menghubungkan Desa Sangkanherang dengan Desa Sembawa, belum bisa terpenuhi.
”Kami memohon Bapak Bupati Kuningan berkenan untuk dapat membantu kebutuhan masyarakat desa kami berupa pengaspalan jalan yang menghubungkan Desa Sangkanherang dengan Desa Sembawa,” harapnya. Meski sebenarnya jalan yang rusak tersebut semuanya masuk kedalam wilayah Desa Sangkanherang, namun menurut Ahmad, jalan tersebut sebenarnya dipergunakan juga oleh masyarakat Desa Sembawa.
Ketika mencari tahu tentang pengajuan atau proposal yang diajukan kepada Pemda Kuningan terkait kondisi jalan yang rusak, Ahmad menjelaskan, bahwa sekitar Tahun 2006 lalu, dirinya pernah mengajukan bantuan berupa proposal ke Dinas Bina Marga Kabupaten Kuningan, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Begitu juga dengan Penerangan Jalan Umum (PJU), pihaknya telah mengajukan permintaan kepada dinas terkait, tetapi sampai saat belum ada. ”Padahal dalam Musrenbang beberapa waktu lalu, alokasai PJU untuk Desa Sangkanherang sebanyak 6 buah, tetapi realisasinya hanya satu,” paparnya.***
Pepatah bijak mengatakan, pengalaman hidup tak ubahnya lampu belakang, sedangkan lampu depan adalah kehidupan saat ini dan masa yang akan datang. Pengalaman oleh urang Sunda disebut “ luang “ dan selalu disebutkan oleh mereka bahwa “ nyiar luang kudu jeung papada urang “ maksudnya memperoleh pengalaman akan didapat dari interaksi antara satu manusia dengan menusia lainnya.
Tanpa ada interaksi, niscaya tidak akan diperoleh pengalaman berharga bagi dirinya pribadi. Ketika salah seorang dari kawan kita, handai taulan atau tetangga mengatakan bahwa sepandai-pandainya tupai melompat maka akan jatuh juga. Begitu pula dengan kita, sepintar-pintarnya kita maka masih akan terjadi dibohongi oleh orang lain. Nah dibohongi oleh orang lain itu maka akan diperoleh sebuah pengalaman, terlepas yang dirasa itu manis atau pahit.
Informasi pengetahuan pun dapat membuat kita memberikan pengalaman cukup untuk memikirkan masa depan atau setidak-tidaknya saat ini ketika terkena bencana maka akan berpikir sesuai dengan perkataan orang lain yang pernah mengalami kecelakaan atau pernah melihat orang lain celaka sehingga membuat dirinya berpikir untuk dijadikan cermin supaya tidak mengalami hal serupa.
Ada idiom kuno yang mengatakan, bahwa jika jatuh ke jurang yang sama maka disebut pelanduk. Sudah tahu itu lubang yang telah menjeratnya maka ia pun tetap menuju ke lubang yang sama. Jika sudah demikian maka orang tersebut adalah pelanduk, pelanduk tidak pernah berpikir, ia hanya mengikuti naluri atau intuisi sehingga tidak mengetahui ada lubang yang akan menjeratnya.
Pengalaman tidak saja dialami oleh orang perorang, namun secara koletif pun bisa jadi sebuah pengalaman koletif. Pengalaman koletif merupakan sebuah gambaran sekelompok orang yang mempunyai visi, misi sama sehingga bergeraknya selalu berada pada kesamaan perilaku atau geraknya berdasarkan garis komando. Apabila gerak kolektif itu ada diantara salah satunya membuat blunder atau bunuh diri maka akan dijadikan pengalaman kolektif sebab permasalahannya menjadi saling terkait.
Keterkaitan masalah ini, apabila satu orang tercubit maka pihak lain pun merasa sakit. Jika sudah demikian maka tidak heran apabila akan terjadi perlawanan secara kolektif pula. Terlepas apakah dirinya merasa sakit atau tidak yang jelas ketika kelompoknya merasa sakit, seolah-olah dirinya juga turut sakit. Namun yang terjadi di lingkungan Pemkab sekarang ini atas ramainya persoalan demi persoalan yang mengharu biru, sepertinya keeratan kolektifitas menjadi rentan dan tidak dapat lagi dijadikan tolok ukur bahwa sistem kekerabatan demikian erat.
Bisa juga menjadi terbalik. Pengalaman kolektif menjadi pengalaman yang harus ditanggung seorang diri bukan secara kolektif. Hal ini disebabkan sistem kekerabatan yang semula tampak erat, ketika terjadi permasalahan kian memudar. Betapa tidak ketika dewasa ini persoalan orang lain menjadi persoalan orang lain bukan persoalan seorang sahabat, kawan atau handaitaulan maka yang terjadi adalah bagaimana menyelamatkan diri sendiri.
Menyelamatkan diri sendiri merupakan alternatif dari akumulasi kekecewaan yang telah mengebiri sistem kekerabatan yang terjadi di birokrasi Pemkab Kuningan. Sistem kekerabatan yang erat dapat putus begitu saja apabila tidak sepenuhnya mendapat pengertian dari berbagai pihak yang dapat memperbaiki atau mamanjangkan sistem itu. Namun siapa yang dapat menjamin apabila sistem kekerabatan itu menjadi meanstream dari sebuah pergaulan yang terdiri atas orang-orang ambisius.
Ambisi mencari kedudukan setinggi-tingginya namun tidak ditopang oleh nilai-nilai kompetisi yang kuat atau kokoh. Pendekatan struktural merupakan pendakatan yang paling rapuh dan tidak terjalin secara emosional, artinya tidak mengakar sehingga akan mudah sekali tercampakan apabila ada kekecewaan diantara pihak-pihak yang menjalin kekerabatan secara terpaksa karena sistem atasan bawahan.
Sistem atasan bawahan merupakan sistem paling jelek, tanpa memperlakukan manusia menjadi manusia.***

Komentar Terakhir