You are currently browsing the daily archive for September 5th, 2007.
Keterangan Gambar :
Selama ini yang beredar nama-nama calon yang ingin menjadi Bupati Kuningan yakni H. Aang Hamid Suganda yang sekarang menjadi Bupati Kuningan, Drs. H. Aan Suharso, M.Si., sekarang menjabat sebagai Wakil Bupati Kuningan dan Drs. H. Arifin Setiamihardja, M.M., mantan Bupati Kuningan periode 1998-2003
————-
Pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara di Kabupaten Kuningan, kendati masih cukup lama, 2008. Namun biusnya telah membuat masyarakat turut berpartisifasi membicarakan sosok ideal yang harus menjadi pemimpin di masa depan. Sosok ideal pemimpin, tentunya dengan segala parameternya. Diantaranya, lebih mengendepankan kepentingan masyarakat.
Mengayomi dan mampu mendorong masyarakatnya lebih maju dan menjadi suritauladan atau lebih tepatnya tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodo dan ing madya mangun karso. Pepatah Ki Hajar Dewantara yang diterapkan dalam dunia pendidikan ini, memang menjadi jargon efektif dalam mendefinisikan sosok ideal calon pemimpin Kabupaten Kuningan masa depan.
Hanya mungkin persoalannya, berada di pundak siapa sosok ideal itu? Pertanyaan ini tentunya belum tentu bisa dijawab dengan mudah. Sangat rumit. Pasalnya, publik figur di Kabupaten Kuningan memang sedikit. Tidak banyak seperti di kota-kota besar. Kendati demikian, tetap saja kita harus memilih yang baik diantara yang baik. Memilih yang sedikit diantara yang paling sedikit.
Jika harus dikerucutkan dalam persepsi umum, maka publik figur itu harus mencerminkan dulu keterwakilannya. Diantaranya bagaimana dengan tokoh yang ada pada organisasi masa (Ormas), tokoh organisasi politik, tokoh kepemudaan, tokoh organisasi profesi, tokoh keagamaan, tokoh perempuan, dan tokoh non organisasi kemasyarakatan maupun yang lainnya.
Jika diandai-andaikan ada sepuluh tokoh atau publik figur dari semua elemen. Dari sanalah kita harus mencari sosok figur yang paling ideal, ada atau tidak ada? Jika ada, apakah mereka mengharapkan menjadi pemimpin atau tidak? Jika mengharapkan bagaimana kiprahnya dalam membangun organisasinya masing-masing? Lalu bagaimana trackrecord-nya?
Pertanyaan ini pun sulit untuk dijawab dengan baik. Sebab publik figur yang ada (seperti disebutkan di atas-red) kadang dalam pandangan umum tidak seluruhnya diterima. Baik oleh masyarakat secara luas, malah kadang-kadang dalam organisasinya saja belum tentu diterima sepenuh hati. Ini merupakan persoalan laten yang belum terpecahkan sampai sekarang.
Namun demikian, toh kita dihadapkan pada pilihan yang baik diantara yang baik, seperti diutarakan sebelumnya. Mau tidak mau, kita harus memiliki pemimpin periode 2008-2012. Suka atau tidak suka harus menerima calon pemimpin yang nantinya akan diverifikasi oleh KPUD untuk dijadikan calon tetap sebagai pasangan bupati dan wakil bupati.
Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada kesempatan. Tentunya, mulai dari sekarang harus menyeleksi secara wajar dan normal, siapa sesungguhnya calon yang harus menduduki kursi orang nomor satu di Kabupaten Kuningan? Apalagi calon yang akan maju tentunya tidak saja diusung oleh partai. Dimungkinkan pada saatnya nanti akan muncul calon independen.
Seperti Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan membolehkan calon independen (perseorangan) untuk mengikuti demokratisasi pertama kali di daerah yang di pilih secara langsung oleh rakyatnya bukan wakil-wakilnya yang terefresentatifkan di DPRD. Namun demikian, calon independen pun harus bekerja keras, karena aturan yang mengikat.
Wacana yang berkembang, persyaratan calon independen cukup berat. Seperti harus memeroleh dukungan dari jumlah pemilih sekitar 5-7 persen. Contoh sederhananya begini, jika jumlah pemilih di Kabupaten Kuningan sekitar 800.000 pemilih maka dengan persyaratan memeroleh dukungan sekitar 5 persen saja maka jumlahnya hampir 40.000 orang.
Jumlah 40 ribu orang itu harus dibuktikan dengan fotokopi KTP pemilih yang tersebar dari setengah jumlah kecamatan. Di Kabupaten Kuningan jumlah kecamatan ada 32, maka jumlah 40 ribu orang itu harus diperoleh dari 16 kecamatan. Bukankah itu pekerjaan yang tidak ringan?***
Oleh : CECEP MULYANA & ENDANG KURNIA
Kepala Desa Luragungtonggoh Kecamatan Luragung, Dudi Setiadi mengutarakan. Kendati dirinya baru terpilih menjadi Kades, namun pekerjaan sudah mananti di hadapannya. Baik pekerjaan fisik maupun non fisik. Pekerjaan ini menjadi skala prioritas, selama masabakhtinya. Meski kendala yang dihadapi tidak ringan, namun dirinya berharap dapat menyelesaikan sesuai harapan masyarakat.
Pekerjaan yang mendapat prioritas utama yakni penataan jalan lingkungan di RW 1 dan 2 sepanjang kuran glebih 3.500 meter. Jalan tersebut, sampai saat ini keadaannya cukup memerihatinkan. Tingkat kerusakan yang cukup parah, sangat menganggu kelancaran arus transfortasi di dua RW tersebut. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi di wilayah itu sedikitnya terhambat.
Selain itu, guna meningkatkan sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini, dibutuhkan sarana sekolah. Berupa taman kanak-kanak (TK) atau tempat pendidikan Al Quran (TPA). Tujuannya pendidikan harus dilaksanakan sejak usia dini. Artinya untuk meningkatkan SDM harus dimulai sejak anak, sehingga alih generasi ke arah lebih baik dapat tercapai.
Tanpa adanya pendidikan usia dini, tentunya memeroleh SDM mumpuni di masa depan tidak akan tercapai. Namun kendala yang dihadapi, pendanaan untuk pendirian bangunan belum sepenuhnya dapat dibiayai oleh desa. Pasalnya, kas desa tidak menyukupi. Jika dibebankan kepada masyarakat, tentunya akan berdampak lain. Sebab selama ini partisifasi masyarakat sudah baik.
Hanya belum maksimal, karena kebutuhannya terlalu besar. Dudi, berharap kepada Pemkab Kuningan melalui Dinas Pendidikan untuk mengucurkan bantuan dari dana alokasi khusus (DAK) maupun imbal swadaya. “Bantuan itu tidak muluk-muluk, cukup untuk pembangunan dua lokal TK dan TPA saja, saya merasa terbantu. Sebab program ini sesuai dengan program pemerintah,” ujarnya.
PR lain yang harus diberdayakan adalah organisasi karang taruna. Selama ini organisasi tersebut belum optimal dalam memberikan kontribusi pembangunan mental dan spiritualnya. Sehingga belum menjadi dinamisator dalam tatanan kemasyarakatan. Ia berkeinginan untuk melakukan kerja sama dengan Badan Pemberdayaan Pemuda dan Olahrga (BPMPora) Kab. Kuningan.
Baik berupa pelatihan kepemudaan maupun pembinaan manajemennya. Tujuannya pemuda lebih diarahkan kepada profesionalisme dalam dinamisator pembangunan. Tanpa ada pelatihan dan pembinaan, hasilnya kurang memuaskan. Apalagi Luragungtonggoh merupakan daerah ibu kota kecamatan yang harus menunjukan identitasnya sebagai warga yang beradab.***

Komentar Terakhir